Opini post authorBob 21 September 2021

Waspada Penganiayaan Anak

Photo of Waspada Penganiayaan Anak Y Priyono Pasti, Kepala  SMP Asisi Pontianak

KASUS penganiayaan dan kekerasan terus menghantui anak-anak kita. Perilaku kejam nan sadis yang mereka alami tak jarang membuat mereka menjadi trauma bahkan mengalami luka batin yang tak gampang untuk disembuhkan.

Beberapa waktu yang lalu, penganiayaan dan kekerasan terhadap  anak kembali terungkap. Seorang anak berinisial D disekap di dalam kakus dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Celakanya lagi, yang melakukan tindakan penganiayaan itu diduga kuat ibu kandungnya (DS) dan ayah tirinya FL. Syukurlah petugas segera bertindak berkat adanya video penyekapan dari asisten rumah tangga yang disebar melalui aplikasi WA sehingga kejadian tak manusiawi itu dapat disudahi.

Penganiayaan dan kekerasan terhadap anak sungguh perbuatan yang tidak manusiawi dan jauh dari keadaban. Oleh karena itu, semua pihak harus mengoptimalkan upaya pencegahan kekerasan dan persekusi terhadap anak. Kita tak bisa seterusnya menjadi ‘pemadam kebakaran’.

Proses pencegahan menjadi sangat penting. Jika anak-anak sudah menjadi korban, penanganannya akan lebih sulit dan memerlukan biaya besar.

Faktor apa saja yang menjadi pemicu terjadinya kasus penganiayaan dan kekerasan terhadap anak? Upaya apa yang mesti dilakukan untuk menghentikan penganiayaan dan kekerasan terhadap anak, paling tidak meminimalisir jumlah kasusnya? Tulisan ini mengulasnya.

 Sejumlah Faktor

Ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu terjadinya penganiayaan dan kekerasan terhadap anak. Mengkristalisasikan Kak Seto (2015), sejumlah faktor penyebab terjadinya tindak kekerasan terhadap anak itu, mulai faktor sosial-ekonomi (kemiskinan, kesenjangan sosial, dan lain-lain), faktor psikologis (rendahnya kematangan emosional orangtua), hingga faktor pendidikan (terbatasnya wawasan orangtua), faktor budaya (paradigma lama tentang hakikat anak sebagai subordinat orangtua), dan faktor politik (kekerasan oleh negara terhadap anak jalanan).

Semua faktor kekerasan tersebut teraktualisasikan secara masif dalam bentuk tindakan-tindakan traumatik terhadap anak, baik secara fisik maupun mental yang menimbulkan dampak negatif begitu besar bagi proses tumbuh kembang anak dalam menapaki perjalanan hidup mereka menuju hari esok.

Kekerasan sebagai bentuk luapan emosi paling primitif dalam hidup manusia merupakan cermin gagalnya individu memegang kendali rasio dalam mengelola perilakunya.

Betapa berbahayanya dampak tindak kekerasan terhadap anak ini, psikoanalisis Sigmund Freud menekankan besarnya pengaruh masa lalu (masa balita) terhadap perjalanan hidup manusia. Konsep itu sesuai dengan paradigma bahwa mendidik anak sejak usia dini memiliki arti teramat penting bagi proses pembentukan moral seorang individu.

Ini berarti, memberikan keteladanan yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan bukannya keteladanan tindak kekerasan pada usia dini sangat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak yang positif di masa mendatang.

Meminjam Kak Seto, di satu sisi kekerasan itu akan membuat anak-anak merasakannya sebagai trauma, dan di sisi lain, mereka cenderung memersepsikan sebagai contoh untuk ditiru. Trauma yang dialami anak membuat mereka banyak kehilangan potensi bagi proses pengembangan karakter dan kepribadian mereka.

Manifestasinya, anak bakal kehilangan rasa percaya diri, gampang cemas, mudah putus asa, tumpul semangatnya, dan lain sebagainya. Atau bahkan sebaliknya, yakni menyimpan dendam terhadap pelaku kekerasan.

Sementara itu, kecenderungan memandang kekerasan sebagai contoh akan membuat anak-anak melakukan identifikasi tindak kekerasan yang dialaminya sebagai 'model' untuk ditiru sehingga tak mengherankan bila anak sering mendapatkan perlakuan keras di masa kecil akan menunjukkan kecenderungan berperilaku keras pula di usia remaja dan dewasa mereka kelak.

Dari paparan di atas, tak ada pilihan lain kecuali kita harus bertindak sigap untuk menanggalkan dan meniadakan tindak kekerasan terhadap anak dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita.

Sebaliknya, budaya adiluhung bangsa kita yang dikenal cinta damai, berbudi pekerti luhur, bertutur kata santun, dan penuh empati terhadap sesama mutlak dijaga dan ditumbuh-kembang-suburkan dalam kehidupan sosial kita.

Pihak-pihak yang terkait dengan masalah perlindungan anak mesti melakukan segala upaya dan tindakan hukum yang memberikan rasa keadilan terhadap anak-anak korban kekerasan.

Tindakan hukum perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya peristiwa kekerasan terhadap anak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 (revisi undang-undang Nomor 23 tahun 2002) tentang Perlindungan Anak dan mencegah kekerasan dalam rumah tangga sesuai dengan pasal 44 ayat 1 UU nomor 23 tahun 2004.

Dalam konteks memberikan efek jera kepada para pelaku tindak penganiayaan dan kekerasan terhadap anak ini, upaya retroactice justice yang lebih berkeadilan, yang memberikan hukuman setimpal kepada mereka yang bertanggung jawab dan juga perbaikan mental, termasuk perlindungan para korbannya mesti dilakukan.

Mencegah dan menanggulangi kekerasan terhadap anak adalah tanggung jawab kita bersama.

Oleh karena itu, mari kita menggalang aksi koalisi memperkuat keberadaan PPPA dan Komnas PA dalam menentang segala bentuk eksploitasi, penelantaran, penganiayaan dan kekerasan terhadap anak. Koalisi penggalangan masyarakat menentang tindakan kekerasan terhadap anak tersebut dapat dilakukan secara daring yang dapat menjangkau semua kalangan dan usia.

Agar upaya mencegah penganiayaan dan kekerasan terhadap anak iu berlangsung sangkil dan mangkus, lembaga RT dan RW sangat dianjurkan untuk melengkapi kepengurusannya dengan seksi khusus yang menangani perlindungan anak.

Apabila ada warga yang mendengar atau melihat ada orangtua yang menyiksa atau memukuli anaknya, atau ada korban persekusi, warga dapat segera menegur atau memperingatkan orangtua tersebut. Bila tak dihiraukan dapat melaporakannya kepada petugas perlindungan anak di RT atau RW-nya. Petugas RT dan RW dapat memperingatkan orangtua tersebut bahkan melaporkannya kepada pihak berwajib.

Penganiayaan, kekerasan, persekusi, atau apapun namanya terhadap anak adalah perbuatan keji yang mesti diakhiri. Seluruh warga masyarakat Indonesia mesti berkomitmen agar tidak melakukan penganiayaan, kekerasan, dan persekusi terhadap anak.

Mari kita jauhkan anak-anak kita dari segala bentuk penganiayaan, kekerasan, penghukuman, atau perlakuan peyoratif lainnya yang dapat merendahkan derajat, harkat dan martabat anak. Berikan kelembutan dan sentuhan kasih agar mereka tumbuh subur, mekar, dan berkembang secara optimal. (*)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda