Opini post authorBob 30 Agustus 2022

Rally Panjang Rusia Vs Ukraina: Pangan dan Energi jadi Senjata

Photo of Rally Panjang Rusia Vs Ukraina: Pangan dan Energi jadi Senjata Bambang Hermansyah, S.Sos, M.I.P, Alumni Magister Ilmu Politik FISIP UI

KEKUATAN m=Militer Kremlin (Rusia) jauh diatas Ukraina, melihat fakta tersebut sebenarnya dalam hitungan hari Rusia bisa menaklukan Ukraina.

Namun Rusia membuat perang ini menjadi rally panjang atau mungkin Ukraina yang mengulur waktu untuk menyerah karena mengalirnya bantuan dari pihak sekutu (Amerika Serikat, dkk) yang diberikan kepada Ukraina.

Sejak tulisan ini dimuat, Perang Rusia Vs Ukraina belum berakhir, 6 (enam) bulan sudah berlalu sejak 24 Februari 2022 Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan perang “operasi militer khusus” terhadap Ukraina. '

Lalu mengapa Rusia tidak segera menaklukan Ukraina? Apakah karena kemampuan militer Rusia ternyata tidaklah hebat – hebat banget? Atau karena Ukraina dibantu negara – negara barat sehingga kekuatan militer jadi seimbang? Akibatnya perang menjadi rally panjang.

Sebab Perang Ukraina

Ukraina pada masanya merupakan wilayah Kerajaan Rusia atau Uni Soviet, hubungan Rusia dan Ukraina pasang surut sejak lama.

Terkait terjadinya perang saat ini,  Rusia sudah mengingatkan Ukraina berulang kali agar jangan genit, dekat - dekat atau bahkan ada niat untuk bergabung dengan Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO (North Atlantic Treaty Organization) yang isinya adalah negara Amerika Serikat (AS) dan mayoritas negara – negara Eropa.

Mengapa? Karena NATO merupakan rival atau musuh bebuyutan Rusia baik secara ekonomi, politik dan ideologi. Jika Ukraina bergabung dengan NATO, yang mana secara geografis Ukraina berbatasan darat langsung dengan Rusia, maka kapan saja Rusia bisa saja terancam oleh NATO.

Keinginan Rusia, Ukraina cukup menjadi negara netral, menjadi bumper Rusia ditengah kepungan negara – negara NATO. Namun Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mendaftarkan Ukraina menjadi anggota Uni Eropa dan NATO.

Hal ini yang membuat Vladimir Putin meradang, menjadikannya alasan sah Rusia untuk menyerang Ukraina atau bahasanya Rusia melakukan “operasi militer khusus”. Jika melihat alasan tersebut tujuan Rusia menyerang Ukraina adalah untuk demiliterisasi atau melucuti kekuatan militer Ukraina agar tidak menjadi negara yang kuat secara militer yang suatu waktu bukan tidak mungkin dapat mengancam kedaulatan Rusia.

Hal ini terlihat dilapangan, militer Rusia banyak menyerang basis, kekuatan atau pos – pos militer Ukraina, militer Rusia tidak menargetkan masyarakat sipil apalagi tokoh politik bahkan Presiden Ukraina masih bisa nge-Vlog ditengah perang. Namun, kita juga berduka dan patut mengecam, perang tersebut mengakibatkan adanya korban dari masyarakat sipil dan menyebabkan pengungsian besar – besaran masyarakat Ukraina.

Tanggal 24 Februari 2022 Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan “operasi militer khusus” terhadap Ukraina, yang diawali dengan strategi perang yang cukup cerdik yaitu dengan mengakui kemerdekaan daerah – daerah separatis Ukraina yaitu daerah yang ingin memisahkan diri dari Ukraina, seperti Luhansk dan Donetsk termasuk mencaplok Semenanjung Krimea tahun 2014.

Salah satu tujuan tersebut adalah agar militer Rusia dengan mudah masuk ke Ukraina, yang secara geografis daerah – daerah tersebut berbatasan langsung dengan Rusia.

Senjata Perang Modern: Pangan dan Energi

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rusia adalah negara ketiga terbesar di dunia penghasil minyak (energi), setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Menurut data International Energy Agency (IEA), produksi minyak mentah dan kondensat Rusia mencapai 10,5 juta barel per hari. Jumlah tersebut merupakan 14 persen dari total pasokan global.

Kekayaan energi Rusia tersebut, membuat negara – negara Uni Eropa sangat bergantung dengan minyak Rusia termasuk Amerika Serikat (AS), yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri. Negara terluas di dunia itu memusatkan produksi energinya di Siberia Barat, Ural-Volga, Siberia Timur dan Timur Jauh, Arkhangelsk, dan Republik Komi.

Dengan minyak, Rusia berhasil mengimbangi bahkan melawan tekanan dan sanksi dari negara – negara Uni Eropa dan NATO, karena dengan “senjata” minyak Rusia bisa sewaktu – waktu mengehentikan pasokannya yang dapat membuat Uni Eropa dan negara – negara NATO tidak hanya gelap gulita dengan arti yang sebenarnya tetapi juga “gelap gulita” ekonomi, politik dan keamanannya.

Dampaknya telah dirasakan oleh beberapa negara Uni Eropa dan anggota NATO seperti Inggris, Prancis, Italia dan Jerman yang mengurangi penggunaan listrik pada malam hari dan menghemat listrik siang hari. Minyak Rusia juga berhasil “menurunkan” dua pemimpin Eropa sekaligus yaitu PM Inggris, Boris Jhonson dan PM Italia, Mario Draghi.

Perang Rusia Vs Ukraina juga “memakan korban” politik di Asia, yaitu turun tahtanya PM Pakistan, Imran Khan dan Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa.

Rusia juga memaingkan strategi keuangannya yaitu mewajibkan negara – negara pembeli minyaknya membayar menggunakan mata uang Rusia (Rubel) negara – negara pembeli mau tidak mau mengikuti kemauan Rusia hal ini tentu menjaga ekonomi Rusia tetap bergerak kearah positif.

Di tengah tingginya harga minyak dunia, Rusia justru menjual minyaknya lebih murah 30 persen dari harga internasional. Meski demikian, Rusia mendapat untung mencapai US$ 6 miliar per hari, jika dirupiahkan angkanya mencapai Rp 89,25 triliun per hari (kurs Rp 14.875).

Sedangkan biaya perang perhari yang dikeluarkan Rusia diprediksi mencapai US$ 1 miliar per hari. Dengan demikian Rusia mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu untung dari penjualan minyak dan berhasil melakukan pelawanan dengan “menyiksa” secara perlahan ekonomi, politik dan keamanan Uni Eropa dan anggota NATO.

Hal ini menjadi ini jawaban, mengapa Rusia membuat perang menjadi rally panjang, padahal dengan kekuatan militer salah satu terbesar dan terkuat di dunia, dalam hitungan hari, Rusia bisa saja membuat Ukraina menyerah tanpa syarat.  

Ukraina merupakan salah satu negara produsen gandum dan biji – bijian terbesar di dunia, karena dalam kondisi perang banyak bandara dan pelabuhan – pelabuhan dikuasai Rusia, Ukraina tidak bisa melakukan ekspor gandum dan biji – bijian tersebut.

Terhentinya pasokan gandum dan bijian – bijian dari Ukraina menyebabkan harga pangan naik drastis diseluruh dunia dan menyebabkan krisis pangan dunia. Hal tersebut juga berdampak dengan harga – harga kebutuhan pokok di Indonesia, sehingga Presiden Joko Widodo langsung bertemu Presiden Putin dan Zelensky membahas pangan dan minyak, karena Indonesia ingin mengamankan pangan dan energi dalam negeri.

Meski kunjungan Presiden pada awalnya diglorafikasi sebagai juru damai dunia,namun Presiden sendiri mengakui tidak dapat mendamaikan perang Rusia dan Ukraina, sehingga misinya dibelokan ke masalah pangan dan energi.

Menurut Komisi Eropa, Ukraina menyumbang 10% dari pasar gandum dunia, 15% dari pasar jagung, dan 13% dari pasar jelai. Dengan lebih dari 50% perdagangan dunia, Ukraina juga merupakan pemain utama di pasar minyak bunga matahari. Sebagai produsen besar gandum, jagung, dan juga sereal, gangguan ekspor pangan dari Ukraina dapat memiliki konsekuensi serius bagi ketahanan pangan global.

Menurut statistik Departemen Pertanian Amerika Serikat, Ukraina adalah produsen gandum terbesar ketujuh di dunia pada 2021/2022 produksinya mencapai 33 juta ton. Hanya Australia, AS, Rusia, India, dan Cina yang memproduksi lebih banyak.

Uni Eropa sebenarnya berada di peringkat pertama, jika menghitung produksi negara-negara anggota secara keseluruhan. Lalu siapa pembeli gandum Ukraina? Importir gandum terbesar pada tahun 2020 menurut Observatory of Economic Complexity (OEC) adalah Mesir ($5,2 miliar atau €5,1 miliar), Cina ($3,47 miliar), Turki ($2,44 miliar), Nigeria ($2,15 miliar) dan Indonesia ($2,08 miliar).

Masih tersedianya gandum dan bijian – bijian lainya yang diekspor dari Ukraina mengkonfirmasi bahwa Rusia melakukan perang terbatas dengan tidak menjadikan pangan atau logistik dan rakyat sipil sebagai sasaran perang, buktinya petani masih bisa mengolah dan panen bahkan mengekspor hasil pertaniannya.

Dunia sedikit lega termasuk Indonesia karena krisis pangan dunia perlahan mereda setelah Turki menginisiasi perjanjian Laut Hitam yang diikuti oleh PBB untuk membujuk Rusia membolehkan Ukraina melakukan ekspor gandum dan biji - bijian ke beberapa negara guna meredam krisis pangan dunia. Rusia sendiri tentu tidak ingin disalahkan sebagai penyebab krisis pangan dunia yang dapat menambah citra buruk Rusia di mata internasional.

Perjanjian tersebut meluluhkan Rusia sehingga membuka pelabuhan pelabuhan Ukraina yang mereka kuasai dan membolehkan kapal – kapal dari Ukraina untuk berlayar di koridar aman sesuai perjanjian dengan pengawasan ketat dari Turki dan PBB.

Rusia memberikan syarat agar kapal tersebut diperiksa dan bebas dari senjata, amunisi dan sejenisnya, syarat lainya adalah sanksi terhadap Rusia harus dilonggarkan agar diperbolehkan untuk melakukan ekspor minyak, gandum, biji – bijian dan pupuk ke seluruh dunia. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda