Opini post authorBob 31 Oktober 2020 97

Mari Kenali Rupiah Kita

Photo of Mari Kenali Rupiah Kita Dara Septika Natalia Anggraeni, Statistisi Pertama, BPS Provinsi Kalbar

HARI Keuangan diperingati setiap tanggal 30 Oktober di Indonesia. Dalam sejarahnya pada 74 tahun silam, tepatnya pada 30 Oktober 1946, pemerintah mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk pertama kalinya.

Saat itu pemerintah Indonesia menyatakan bahwa hanya ORI yang berlaku di Indonesia, sedangkan uang Jepang, uang NICA (Nederlandsche Indische Civil Administration), uang Javasche Bank serta mata uang lainnya sudah tidak berlaku lagi. Peristiwa ini merupakan awal mula di mana negara kita memiliki mata uang sendiri.

ORI yang berlaku tersebut tentu saja memiliki dasar hukum, yaitu Undang-undang Nomor 17 Tahun 1946 tentang Pengeluaran Oeang Republik Indonesia, dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1946.

Keberadaan ORI saat itu juga atas dasar keputusan Menteri Keuangan Nomor SS/1/35 tanggal 29 Oktober 1946. ORI pertama kali tampil dalam bentuk uang kertas yang bernominal satu sen, dengan ilustrasi gambar muka berupa keris yang terhunus dan dengan gambar belakang berupa teks Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, serta ditandatangani oleh Alexander Andries Maramis, yang pada saat itu sedang menjabat sebagai Menteri Keuangan.

Selanjutnya, pada tahun 1949, Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, yang dinyatakan dengan terbentuknya Negara Federal Republik Indonesia (RIS). RIS terdiri dari Republik Indonesia dan Bijeenkomst voor Federaal Overlaag (BFO) atau Badan Permusyawaratan Federal yang lebih dikenal dengan negara boneka bentukan Belanda.

Sebagai upaya dilakukan untuk menyeragamkan uang di wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS). Hingga pada 1 Januari 1950, Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara mengumumkan bahwa alat pembayaran yang sah adalah uang federal, yang saat itu dikenal dengan Uang Rupiah Republik Indonesia Serikat.

Sejalan dengan masa Pemerintah RIS yang berlangsung singkat, maka masa edar uang kertas RIS juga tidak lama, yaitu hingga 17 Agustus 1950, ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali.

Sampai akhirnya, pada tahun 1951 dikeluarkanlah Undang-Undang Mata Uang 1951 untuk mengganti Indische Muntwet 1912. Salah satu isi Undang-Undang Mata Uang 1951 menyatakan bahwa satuan hitung dari uang di Indonesia adalah Rupiah yang disingkat "Rp".

Saat ini, Rupiah yang kita kenal terdiri atas dua jenis, yakni uang kartal atau dan uang giral. Uang kartal atau uang cash merupakan uang yang sering kita gunakan sehari-sehari, yakni uang kertas dan uang logam.

Di Indonesia, hanya Bank Indonesia (BI) yang mempunyai otoritas untuk mencetak dan menerbitkan uang kertas dan logam. Berbeda dengan uang cash, uang giral adalah alat tukar yang cenderung lebih praktis jika dibandingkan dengan uang cash.

Jenis uang ini tidak hanya bisa dicetak oleh Bank Indonesia saja, tapi juga bisa dicetak oleh bank umum lainnya dan biasanya berbentuk giro, setoran tunai, kartu kredit, wesel, serta masih banyak lagi.

Akan tetapi, meskipun sekarang sudah zaman digital, tidak semua barang/jasa dapat dibeli tanpa uang cash. Misalkan saja jika kita belanja di pasar tradisional, membeli jajanan di kaki lima atau membayar parkir.

Uang memang sangat erat kaitannya dalam kehidupan masyarakat kita, salah satunya untuk memenuhi konsumsi sehari-hari, baik makanan maupun non makanan.

Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa pada tahun 2019, rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Provinsi Kalimantan Barat dalam sebulan sebesar Rp1.113.339. Kebutuhan uang di masyarakat yang sangat tinggi ini menyebabkan uang Rupiah kerap dipalsukan, khususnya uang kertas, sehingga negara dan masyarakat mengalami kerugian.

Pada triwulan II tahun 2020, terdapat temuan dan laporan uang rupiah yang diragukan keasliannya. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Barat menyatakan bahwa terdapat 20 bilyet uang rupiah yang diragukan keasliannya.

Bilyet adalah formulir, nota dan bukti tertulis lain yang akan dapat membuktikan transaksi, berisi keterangan atau perintah untuk membayar. Keseluruhan temuan uang rupiah yang diragukan keasliannya tersebut dilaporkan secara berkala kepada Kepolisian untuk dapat ditelusuri dan ditindaklanjuti sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Dari maraknya peredaran uang palsu tersebut, apakah kita sudah mengetahui ciri-ciri uang Rupiah yang asli? Bersumber dari Indonesia.go.id, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, antara lain bahan baku uang tersebut, desain, serta teknik cetaknya. Bahan Baku Uang Kertas terbuat dari kertas khusus yang mengandung bahan serat kapas.

Selain itu, terdapat benang pengaman seperti dianyam dengan ciri khas tersendiri. Hal kedua yang perlu menjadi perhatian adalah desain dari uang Rupiah.

Setiap uang kertas Rupiah memiliki desain, ukuran, dan warna uang yang terlihat terang, jelas, dan memiliki ciri khusus, sehingga hanya dengan melihat secara kasat mata saja akan mudah dikenali. Ciri tersebut tentu saja sangat jarang ditemukan pada uang palsu.

Hal ketiga yang menjadi ciri khas Rupiah adalah teknik cetaknya. Dalam hal ini, unsur pengamanan uang kertas rupiah menggunakan teknik yang mudah dikenali dengan cara “Dilihat, Diraba dan Diterawang” (3D).

Jika dilihat, akan ada perubahan warna pada benang pengaman yang terdapat pada pecahan Rp100.000, Rp50.000 dan Rp20.000. Pada pecahan Rp10.000, Rp5.000, Rp2.000 danRp1.000, benang pengamannya seperti ditanam.

Kita juga bisa melihat keaslian uang Rupiah dari tinta yang dapat berubah warna jika dilihat dari sudut pandang tertentu, seperti pada gambar perisai yang berisi logo Bank Indonesia (BI). Selain itu, uang kertas Rupiah juga ada gambar tersembunyinya.

Ada tulisan BI di sebelah kanan bawah dalam suatu bingkai persegi panjang. Kemudian di atasnya ada tulisan multiwarna yang disesuaikan dengan pecahan uang masing masing, misalnya angka 50 untuk  pecahan Rp50.000, angka 20 untuk pecahan Rp20.000, angka 10 untuk pecahan Rp10.000, dan seterusnya.

Ada beberapa bagian dalam uang kertas kita yang jika diraba akan terasa kasar, yaitu gambar utama. Gambar utama tersebut antara lain berupa gambar pahlawan Indonesia, Garuda Pancasila, angka nominal, huruf terbilang, frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan tulisan Bank Indonesia (BI).

Selain itu,  terdapat kode tuna netra/ blind code berupa pasangan garis yang terletak di sisi kanan dan kiri uang kertas, yang terasa kasar jika diraba.

Ciri khas lain dari uang Rupiah kita yaitu terdapat tanda air/ watermark jika diterawang. Jika diterawang, akan muncul wajah pahlawan dan ada gambar saling isi atau rectoverso.

Rectoverso adalah gambar yang seolah-olah terpisah padahal sebenarnya merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Rectoverso tersebut berupa potngan logo BI yang akan terlihat utuh jika diterawang. Semoga dengan semakin mengenal ciri Rupiah, kita akan semakin mencintai Rupiah. (*)

 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda