Ponticity post authorKiwi 01 Maret 2021 219

591 Hektare Terbakar, Kalbar Siaga Darurat Karhutla

Photo of 591 Hektare Terbakar, Kalbar Siaga Darurat Karhutla

PONTIANAK, SP - Kebakaran hutan di beberapa wilayah di Kalimantan Barat menyebabkan kabut asap. Berbagai dampak negatif mulai dirasakan, seperti jalur penerbangan dan pendaratan pesawat terganggu akibat kabut asap dan kesehatan warga yang terdampak akibat asap.

Karena itu perlu untuk didalami jumlah warga yang menderita Infeksi Saluran

Pernafasan Akut (ISPA) di Kalbar akibat kabut asap, khususnya di wilayah Kota Pontianak.

Kepala BPBD Kalimantan Barat, Lumano mengatakan beberapa daerah di Kalbar telah menetapkan status siaga darurat bencana penanganan asap akibat kebakaran hutan dan lahan tahun 2021.

“Ada beberapa daerah yakni Kabupaten Sanggau, Ketapang, Kayong Utara, Sambas, Kubu Raya, Kota Pontianak dan Pemprov Kalbar,” katanya, Senin (1/3).

Saat ini dijelaskan Lumano, luas lahan yang terbakar di Kalbar mencapai 591 hektare. Kubu Raya menjadi kabupaten yang lahannya paling luas terbakar dan disusul oleh Kabupaten Mempawah.

“Di Kubu Raya luas lahan yang terbakar mencapai 265 heltare, kemduian Mempawah 226 hektare, Kota Pontianak 50 hektare dan Ketapang 50 hektare,” jelas Lumano.

Luas lahan yg terbakar lebih kurang 591 hektar6 daerah yg telah menetapkan status yaitu Kabupaten Sanggau, Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Sambas dan Kota Pontianak. Adapun SK Status Provinsi tertanggal 18 Februari 2021.

Periksa Saksi

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengatakan penanganan kasus lahan di sejumlah tempat di Kalbar saat masih berproses. Termasuk, kata dia kasus terbakarnya gedung SMKN 1 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya beberapa waktu lalu.

"Masih berproses. Ditkrimsus Polda Kalbar sedang memeriksa saksi-saksi yang ada di lokasi atau yang mengetahui kejadian," katanya saat dihubungi, Senin (1/3).

Donny mengatakan pihaknya telah mengirim tim ke lapangan. Namun, masih bersifat pengumpulan bahan dan keterangan sejumlah saksi di lapangan. "Sekiranya ada yang potensial memberikan kesaksian, baru kita tuangkan dalam BAP," ujarnya.

Untuk membantu proses ini, dia berharap semua pihak, utamanya pihak sekolah, masyarakat sekitar lokasi kebakaran dapat bekerja sama.

"Kita berharap pihak sekolah, masyarakat sekitar lokasi TKP membantu berikan informasi," paparnya.

Libur Lagi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pontianak, Syahdan Laziz menyikapi turunnya kualitas udara akibat kebakaran lahan pihaknya akan terus melakukan evaluasi.

Namun untuk menentukan kebijakan menyikapi kondisi tersebut ada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait. Karena menurutnya Disdikbud hanya sebagai penyelenggara proses pembelajaran.

"Kami hanya penyelenggara, menyikapi kualitas udara ada pada SKPD terkait, tetapi akan tetapi kami akan terus mengevaluasi," ucap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Pontianak, Syahdan Laziz pada Senin (1/3).

Ia menambahkan sesuai arahan Satgas Covid-19 Kota dan Dinas Kesehatan berdasarkan evaluasi beberapa waktu lalu belum ditemukan kendala terkait penyelenggaraan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Jadi berdasarkan hasil evaluasi tersebut proses pembelajaran tatap muka akan dilanjutkan.

Dirinya menyampaikan proses pembelajaran tatap muka tetap dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sejauh ini ada enam SMP dan enam SD melakukan proses pembelajaran tatap muka. Namun apabila sudah keluar rekomendasi Wali Kota Pontianak maka akan diperluas.

"Semua SMP Negeri dan 30 SD di Kota Pontianak direncanakan akan dibuka," jelasnya.

Syahdan menyebutkan secara total jumlah SD Negeri di Kota Pontianak berjumlah 114 sekolah. Lalu untuk SMP Negeri berjumlah 28 sekolah. Selain itu beberapa sekolah swasta di Kota Pontianak juga telah melakukan proses pembelajaran tatap muka. Seperti SMP Mujahidin, SMP Al-Azhar, dan SD Bawamai.

"Satgas Covid-19 melihat sudah layak karena sudah menjalankan protokol kesehatan, untuk sekolah swasta lain jika sudah siap protokol kesehatannya maka akan kita berikan rekomendasi," tutupnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidig Handanu mengatakan dalam beberapa waktu terakhir kualitas udara di Kota Pontianak menunjukkan kondisi tidak sehat, sangat tidak sehat bahkan pada jam tertentu menunjukkan level berbahaya. Level berbahaya tersebut tidak total terjadi selama 24 jam akan tetapi hanya pada beberapa waktu tertentu.

"Untuk data penderita ISPA di Kota Pontianak sejak minggu ke 8 dan 9 dengan kondisi cuaca tidak baik terdapat adanya peningkatan," ucap Sidig.

Ia menambahkan jika dibandingkan pada minggu-minggu sebelumnya rata-rata dalam satu minggu kasus ISPA yang tercatat di puskesmas antara 200 hingga 250 kasus. Namun dalam pertengahan Februari lalu terjadi peningkatan mencapai 350 kasus.

Dirinya menyebutkan jika dilihat dari jumlah kasus perminggu sepertinya ada kenaikan yang cukup tinggi. Akan tetapi jika dilihat jumlah kasus harian memang belum tinggi.

"350 kasus tersebut gabungan dari 23 Puskemas di Kota Pontianak. Jika kita lihat totalnya memang meningkat dampaknya sudah mulai kelihatan," kata Sidig.

Dirinya menyampaikan dalam upaya antisipasi Dinas Kesehatan Kota Pontianak telah mempersiapkan seluruh fasilitas kesehatan terutama Puskesmas untuk mewaspadai peningkatan ISPA. Dengan cara melakukan surveilans harian kasus ISPA. 

Sehingga jika ada kenaikan kasus yang signifikan maka akan segera dilakukan langkah-langkah penanganan. Selain itu Puskemas juga sudah dilakukan upaya preventif yakni dengan penyediaan obat-obatan. Terutama bagi pasien yang menderita sakit ISPA. 

"Namun untuk penyediaan rumah oksigen seperti kejadian lalu masih belum di putuskan," tuturnya.

"Karena resiko dengan adanya pandemi Covid-19 harus lebih berhati-hati. Jangan sampai ada penggantian alat justru akan menularkan Covid-19," tambahnya.

Sidig memastikan di seluruh Puskesmas telah di persiapkan sarana dan prasarana termasuk oksigen untuk penanganan akibat kebakaran lahan. Penanganan pasien ISPA di masa pandemi Covid-19 sudah terpisah dengan pasien biasa. 

Dikatakannnya jika dulu pasien ISPA disatukan dengan penyakit lain. Tetapi sekarang penanganan di Puskesmas sudah terpisah sejak pandemi Covid-19. Jika ada pasien batuk pilek akan ditangani terpisah dengan screening seperti Covid-19.

"Selain itu perilaku masyarakat dengan pandemi Covid-19 saat ini sudah terbiasa menggunakan masker. Lalu dalam menjaga kebersihan dengan mencuci tangan juga telah dibiasakan," jelasnya.

Sidig menjelaskan untuk pembelajaran tatap muka pihaknya akan berkoordinasi dengan BPBD Kota Pontianak serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak. Selain itu juga dengan BMKG dalam melihat potensi cuaca kedepannya. Jika resiko tinggi tidak menutup kemungkinan pembelajaran tatap muka akan ditunda.

"Kita akan mengambil upaya harian jika berpotensi besar dan resiko tinggi lalu diperkirakan masih akan berbahaya pada beberapa hari kedepan bukan tidak mungkin (pembelajaran tatap muka) akan ditunda," katanya.

Tangani Maksimal

Bupati Muda Mahendrawan, menjelaskan BPBD Kubu Raya yang dibantu TNI/Polri sudah berupaya maksimal memadamkan setiap lahan yang terbakar di kabupaten Kubu Raya.

Namun, karena sebagian besar lahan yang ada di Kubu Raya adalah gambut, dengan tidak adanya hujan dalam waktu hampir satu bulan terakhir, mengakibatkan banyak lahan gambut yang mudah terbakar.

"Untuk mengantisipasi hal itu, kita sudah membuat beberapa sekat kanal, untuk mengantisipasi lahan yang terbakar ini. Selain itu, kita juga membuat beberapa sumur di lahan yang terbakar, untuk memudahkan petugas pemadam mendapatkan sumber mata air," tuturnya.

Muda mengatakan berdasarkan perkembangan titik api dari BMKG, kondisi di Kubu Raya fluktuatif, di mana tiap hari, kadang sedikit, kadang jumlahnya lumayan banyak.

"Namun, kita bersyukur, api yang ada masih bisa dikendalikan dan belum sampai mengganggu penerbangan karena jarak pandang untuk pesawat masih bisa, meski di sekitar Bandara Supadio mulai diselimuti asap, kemudian api juga masih bisa dipadamkan oleh petugas agar segera serta tidak meluas," kata dia

Kapolres Kubu Raya, AKBP Yani Permana mengatakan untuk sanksi pembakar lahan, lahan yang dibakar akan dilarang menggunakan lahan tersebut.

“Untuk tindakan kami bersama Forkopimda Kubu Raya memasang beberapa plang berisikan larangan menggunakan lahan tersebut selama 5 tahun dan kami akan lidik kerjasama dengan BPN utk mengetahui pemilik lahan tersebut,” ungkap Yani.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya Mokhtar mengatakan pihaknya telah mengintensifkan patroli untuk mencegah karhutla di daerah Kubu Raya.

"Sejak beberapa pekan terakhir, kita sudah mengintensifkan tim untuk melakukan patroli di lapangan sebagai upaya pencegahan karhutla," katanya.

Dia mengatakan titik panas indikasi awal kebakaran terpantau di beberapa wilayah Kubu Raya, namun tidak sampai menimbulkan kebakaran lahan dalam skala besar.

Ia menuturkan di Kubu Raya titik panas terpantau di Kecamatan Kubu, Rasau Jaya, Sungai Kakap, dan Sungai Raya.

Titik-titik panas yang terpantau, kebanyakan berasal dari kegiatan pembakaran sampah yang dilakukan oleh warga, bukan dari pembukaan lahan dengan cara membakar.

Anak Berjibaku

Kekurangan petugas pemadam kebakaran, sembilan anak-anak ikut berjibaku bersama masyarakat memadamkan api yang membakar lahan di sekitar perumahan masyarakat antara Komplek Disbun I dan Permata Paris, Jalan Parit Haji Husin II, Pontianak Selatan, Sabtu (27/2).

Api membesar bahkan sudah mendekati perumahan warga. Setidaknya ada dua rumah yang sudah dievakuasi warga lantaran api sudah mulai menjalar di belakang rumah.

“Dari awal api muncul, kita udah datang ke sini,” kata Nanda, salah seorang anak yang ikut memadamkan api.Nanda adalah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak (LKIA) Pontianak.

Ia bersama teman-temannya saat itu tengah bermain. Kepulan asap mengundang perhatian mereka. Kata dia, api mulai menyala sekitar pukul 13.00 WIB. Setengah jam kemudian, mulai membesar dan merembet ke lahan dekat rumah.

Kekurangan tenaga, ia dan teman-temannya yang lain berinisiatif membantu mengangkut air dari sumur untuk menyiram di sekitar tepian lahan yang terbakar.

“Tapi air sumurnya sudah kering sekarang. Sisa dikit saja,” ungkap Esa, teman Nanda yang sekolah di SMP Al-Azhar Pontianak.Sebetulnya, kebakaran itu sudah berlangsung sejak dua hari lalu.

Kondisi lahan yang merupakan gambut ditambah kondisi angin yang cukup kencang, api justru merembet mendekati rumah warga.Setidaknya ada dua rumah yang sudah dievakuasi. Perabotan rumah hingga peralatan yang mudah terbakar, seperti buku-buku, kasur, tabung gas dan pakaian diungsikan di rumah tetangga yang jaraknya jauh dari lokasi kebakaran. Satu di antaranya rumah milik Asrof (30).

Ia bersama anaknya berusaha mematikan api dengan sisa-sisa air sumur yang sudah kering di depan rumahnya. Sementara istri, mengumpulkan barang-barang di dalam rumah untuk dibawa keluar.

“Sumber air kita hanya satu. Sumur di depan rumah, tapi sekarang sudah kering, sementara lahan yang terbakar sangat luas,” kata dia.

Dia khawatir apabila api tidak padam-padam, justru akan merembet ke rumahnya yang hampir 80 persen berbahan kayu dan papan.

“Kalau tidak padam ini, kemungkinan akan merembet ke rumah saya. Ini saja jaraknya semeter lagi sudah sampai ke rumah. Sementara angin lumayan kencang,” tutupnya. 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda