Ponticity post authorKiwi 03 Juni 2020 252

Disdikbud Kalbar Persiapkan Dua Opsi Hadapi New Normal

Photo of Disdikbud Kalbar Persiapkan Dua Opsi Hadapi New Normal ilustrasi

PONTIANAK, SP - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Suprianus Herman mengatakan, pihaknya sedang menunggu arahan dari pemerintah pusat mengenai penerapan new normal di sektor pendidikan, khususnya untuk tahun ajaran 2020/2021.

Meski telah mendapatkan gambaran kelender akademik tahun ajaran 2020/2021, dimana tahun ajaran baru akan tetap dimulai tanggal 13 Juli 2020, namun untuk model pembelajaran, apakah menggunakan tatap muka atau tetap Belajar Dari Rumah (BDR) belum ditetapkan karena hal tersebut masih tahap pengkajian dari berbagai aspek.

"Saat ini kita masih menunggu dari pusat, Pak Gubernur itu tidak mau nanti ada perbedaan kebijakan, namun opsinya tetap dua tadi. Kalau sampai akhir ajaran 2019/2020 ini sih kita masih belajar dari rumah, 100 persen SMA/SMK di Kalbar tidak ada tatap muka di tengah penyebaran Covid-19 ini," jelas Suprianus kepada Suara Pemred, Selasa (02/06).

Sebagai informasi dalam Pedoman Pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) selama darurat bencana Covid-19, Kemendikbud menetapkan dua metode yaitu metode pembelajaran jarak jauh dalam jaringan/online (daring) dan pembelajaran jarak jauh luar jaringan/offline (luring).

Diakui oleh Suprianus banyak kesulitan dalam penerapan belajar dirumah, baik itu kesulitan internal seperti siswa belum siap atau terbiasa, secara psikologis siswa lebih enak duduk dikelas dan sebagainya. Kemudian kendala eksternal menyangkut faktor eksternal, listrik, jaringan dan sebagainya.

"Maka dibeberapa daerah berbegai metode menerapkan belajar dirumah ini, jika tidak bisa menggunakan online, melalui wa/sms, bahkan ada yang langsung berkunjung kerumah siswa-siswi," katanya.

"Disdikbud Kalbar sendiri  memfasilitasi ketersediaan aplikasi, untuk mendukung proses BDR. Sekolah juga diperbolehkan membuat aplikasi sendiri yang memang dirasakan lebih cocok," tambahnya.

Menurutnya 436 atau 99 persen SMA negeri dan swasta di Kalbar telah melaksanakan pembelajaran berbasis daring. Sedangkan 1 persen adalah satu sekolah yang tidak melaksanakan pembelajaran secara daring karena keterbatasan internet dan jarak rumah siswa yang berjauhan. Sehingga proses belajarnya, sekolah memberikan tugas dalam bentuk printout ke siswa saat pengumuman belajar di rumah.

"Kemudian untuk 222 SMK negeri maupun swasta telah 100 persen melaksanakan kegiatan belajar mengajar online selama masa darurat penyebaran virus corona ini," jelasnya.

"Banyak perubahan semenjak Covid-19 ini. Jika sebelum adanya Covid-19 pelaksanaan penilaian menggunakan kertas, sekarang telah menggunakan computer based test yang mampu menyelenggarakan dalam bentuk LAN dan Online murni," tambahnya.

Menurut Suprianus pemerintah menyadari bahwa proses BDR dengan metode daring memerlukan pulsa/kouta. Maka pemerintah membolehkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) digunakan untuk mendukung proses pembelajaran tersebut, termasuk memberi bantuan kepada siswa/i untuk membeli pulsa/kouta.

"Dana BOS bisa digunakan untuk membantu siswa untuk melaksanakan proses pembelajaran secara online dengan membeli paket internet," katanya.

Kemudian untuk mempersiapkan proses pembelajaran secara tatap muka, Disdikbud Kalbar sudah meminta kepada pihak sekolah untuk mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan pencegahan penyebaran Covid-19.

"Seperti mempersiapkan tempat cuci tangan, saya meminta kalau sekolah mampu, agar menyediakan westafel perkelas. Sekarang di sekolah-sekolah ini sibuk mempersiapkan itu, termasuk belajar-belajar untuk protokol kesehatan itu. Jadi baik online maupun tatap muka kita sudah persiapkan semua untuk opsi-opsi itu," tuturnya. (iat)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda