PONTIANAK, SP - Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat (Kalbar) dalam rangka memperingati 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi mencapai puncaknya melalui Perayaan Misa Kudus Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi di Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Minggu (4/10/2026).
Mengusung tema “Menjadi Peziarah Perdamaian”, kegiatan tersebut menjadi momentum perjumpaan sekitar 360 saudara-saudari Fransiskan yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang dan Keuskupan Ketapang.
Rekoleksi Akbar ini merupakan kerja sama INFO JPIC Regio Kalimantan dan Keluarga Fransiskan Pontianak (Kefrap).
Rangkaian kegiatan diawali dengan Ibadat Transitus pada Sabtu (3/10/2026) pukul 17.00 WIB. Setelah itu, para peserta mengikuti rekreasi bersama yang menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan lintas tarekat.
Pada Minggu, peserta mengikuti dua sesi rekoleksi yang dibawakan Pastor Paulus Toni, OFMCap, sebelum dilanjutkan dengan Perayaan Misa Kudus.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan dari sembilan tarekat, yakni Ordo Kapusin, Missionnaires des Saints Apôtres (MSA), Franciscan Missionary Sisters of the Infant Jesus (FMIJ), Ordo Fransiskan Sekular (OFS), Kongregasi Suster-suster SFD, Kongregasi Suster-suster SFIC, Kongregasi Suster-suster KFS, Kongregasi Suster-suster SMFA dan Kongregasi Bruder MTB.
Misa dipimpin Pastor Mayong Andreas Acin, OFMCap, sebagai selebran utama. Ia didampingi Sekretaris Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Pionius Hendi, OFMCap, tiga imam lainnya serta dua diakon.
Dalam homilinya, Pastor Mayong mengajak umat untuk kembali menghidupi semangat kesederhanaan yang menjadi salah satu ciri utama kehidupan Santo Fransiskus dari Assisi.
Menurutnya, para pengikut Santo Fransiskus dipanggil untuk hidup apa adanya, tidak berpura-pura dan tidak memiliki sikap bermuka dua.
“Lain di bibir, lain di hati. Serigala berbulu domba,” ungkapnya.
Ia mengatakan, kesederhanaan membuat seseorang berani menampilkan dirinya apa adanya dan tidak berusaha hidup di luar realitas. Kesederhanaan juga mengajak seseorang untuk memiliki keterbukaan dan kepolosan seperti anak kecil.
Semangat kesederhanaan Injili itulah yang, menurut Pastor Mayong, mewarnai perjalanan hidup Santo Fransiskus. Ia tidak menaklukkan dunia dengan pedang ataupun argumen yang tajam, melainkan menghadirkan kelembutan dan kekuatan Injil.
Bahkan ketika berhadapan dengan penderitaan menjelang akhir hidupnya, Santo Fransiskus tetap mampu menunjukkan sukacita.
Karena itu, umat diajak untuk meneladaninya dengan mengosongkan diri dari kesombongan serta membawa berbagai beban kehidupan kepada Kristus.
“Berat, tambahkan K, jadi BerKat. K adalah Kristus,” katanya.
Semangat tersebut juga dirasakan dalam perjalanan pelayanan para saudara Fransiskan di Kalimantan Barat, termasuk pelayanan kepada mereka yang berada di pinggiran dan membutuhkan perhatian.
Sementara itu, Ketua Panitia Rekoleksi Akbar, Suster Serli, SFIC, menyampaikan terima kasih kepada para provinsial, pimpinan umum dan dewan penasihat tarekat Fransiskan yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Apresiasi juga disampaikan kepada Pastor Paulus Toni, OFMCap, selaku pemateri, Pastor Gatot selaku Direktur Rumah Retret Tirta Ria, para donatur, INFO JPIC Regio Kalimantan serta Kefrap atas kerja sama dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Suster Serli berharap kebersamaan yang terbangun melalui Rekoleksi Akbar dapat terus berkembang dan semakin melibatkan seluruh keluarga Fransiskan yang berkarya di Kalimantan Barat dalam berbagai kesempatan berikutnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta membawa sukacita yang diperoleh selama rekoleksi kembali ke komunitas dan tempat pelayanan masing-masing.
“Jangan hal-hal buruk mencuri sukacitamu,” pesannya.
Dalam sambutannya, Pastor Mayong turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh saudara-saudari yang telah meluangkan waktu mengikuti kegiatan serta kepada panitia yang telah mempersiapkan Rekoleksi Akbar tersebut.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pastor Pionius Hendi, OFMCap, selaku Ketua INFO JPIC Nasional, atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.
Pastor Mayong berharap pengalaman kebersamaan selama rekoleksi tidak berhenti ketika para peserta meninggalkan Rumah Retret Tirta Ria, tetapi terus diwujudkan dalam kehidupan dan pelayanan sehari-hari.
“Semoga setelah pulang dari sini, kita menjadi harta benda yang bergerak dan tetap bergerak,” ujarnya.
Rekoleksi Akbar tersebut akhirnya bukan sekadar menjadi pertemuan untuk memperingati 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, refleksi dan penguatan persaudaraan.
Dari Tirta Ria, semangat Santo Fransiskus kembali diteguhkan, hidup sederhana, melayani dengan sukacita, merawat persaudaraan dan terus berjalan sebagai peziarah yang membawa perdamaian, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
Pastor Alek Telambanua, OFMCap, dari Sibolga, Sumatera Utara, yang turut mengikuti kegiatan tersebut, memberikan apresiasi terhadap pelayanan Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, yang selama ini dikenal aktif dalam pelayanan kemanusiaan.
Menurutnya, apa yang dilakukan Bruder Stephanus merupakan bentuk nyata dari semangat dan keteladanan Santo Fransiskus dalam melayani sesama.
“Bruder Steph ini sudah mengaplikasikan contoh teladan Bapa Serafik Santo Fransiskus dengan melayani sesama, terutama kaum marginal. Luar biasa pelayanannya yang saya dengar di Kalbar dan bahkan di luar Kalbar. Ini contoh untuk saudara Kapusin, termasuk saya,” ungkap Pastor Alek. (*)