Ponticity post authorKiwi 11 Agustus 2020 24,412

Santri Dianiaya Enam Kakak Kelas, Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang Mempawah Kecolongan

Photo of Santri Dianiaya Enam Kakak Kelas, Pondok Pesantren Darussalam Sengkubang Mempawah Kecolongan

PONTIANAK, SP - Sungguh miris nasib yang menimpa Fauzan Azima (14). Ia adalah Siswa Kelas VII Madrasah Tsanawaiyah (MTs) Darussalam Sengkubang, Desa Sengkubang, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalbar. Fauzan Azima atau akrab dipanggil Faiz ini, menjadi korban tindak kekerasan oleh para kakak kelasnya.

Mirisnya, kekerasan yang didapat oleh Faiz, terjadi di tempatnya menimba ilmu, yaitu Pondok Pesantren (Pontren) Darussalam Sengkubang. Selain ia bersekolah di MTs Darussalam Sengkubang, Faiz juga menimba ilmu di salah satu Pontren ternama di Kalbar ini.

Adapun tindak kekerasan yang dilakukan oleh enam kakak kelasnya di Pontren Darussalam Sengkungbang, terjadi pada Senin (20/7). Faiz, dipukuli dengan tangan dan benda keras lainnya, seperti gitar dan kursi, bahkan sempat diancam menggunakan pisau, oleh enam kakak kelasnya, rata-rata sudah kelas XII Madrasah Aliyah (MA) Darussalam Sengkubang.

“Saya juga dipaksa meminum air yang sudah diludahi oleh mereka. Selain itu, mereka juga memandikan saya atau menyiram badan saya dengan air septic tank (Penampung pembuangan WC),” tutur Faiz, saat bersama sang bibi, mengadukan nasibnya ke redaksi Suara Pemred, Senin (10/8).

Pengeroyokan ini terjadi, hanya karena Faiz meninggalkan Pontren Darussalam tanpa izin kepada pengasuh (Ustaz). Padahal, ia meninggalkan Pontren tempatnya belajar dan pulang ke rumah, dengan tujuan meminta uang iuran Kurban kepada keluarganya. Akibat dari pengeroyokan tersebut, pelipis dan sekujur badan Faiz lebam.

“Saya juga trauma, karena mereka mengancam, apabil saya sampai lapor ke pangasuh atau Kyia, maka nasib saya akan semakin buruk. Mereka mengamcam akan menghabisi saya,” ujarnya.

Faiz sempat menyembunyikan tindak kekerasan yang menimpanya. Namun, karena adanya intimidasi dari kakak kelasnya tersebut, Faiz pun tidak tahan. Ia pun memberitahukan kepada keluarganya, agar menjemputnya dan tidak mau kembali ke Pontren.

Karena tidak terima akan perbuatan enam kakak kelas Faiz yang mengeroyok, maka keluarganya pun melaporkan ke Polres Mempawah. Walau sebelumnya, keluarga Faiz sempat berniat berdamai dengan pihak Pontren Sengkubang, tetapi tidak ada itikad baik menyelesaikan pengeroyokan ini.

Laporan ke Polres Mempawah, dilakukan oleh Eva Monarita, sang Bibi. Laporan dengan Tanda Bukti Lapor Nomor: TBL/207/VII/Res.1.6/2020 Kalbar/Res Mpw, diterima oleh Ajun Inspektur Dua (Aipda) Hayrul Anas, sebagai Kepala Unit II SPK Polres Mempawah, atas nama Kapolres Mempawah, pada Rabu, 22 Juli 2020 atau dua hari usai pengeroyokan.

Laporan ini, telah dilengkapi dengan bukti-bukti peristiwa, di antaranya alat yang digunakan untuk menganiaya, di antaranya gitar, kursi, dan hasil visum dari RSUD dr Rusbini. Tetapi, hingga hari ini, laporan penganiayaan dan pengeroyokan tersebut belum diproses oleh Polres Mempawah.

Bahkan, yang ada adalah, Polres Mempawah memaksa agar Eva (Bibi Faiz dan Pelapor) untuk menandatangani berkas damai perkara. Berkas ini dibuat oleh Polres Mempawah pada Kamis, 6 Agustus 2020.

Di mana sebelumnya tidak ada upaya proses, baik Lidik maupun Sidik dari Polres Mempawah ke pengeroyok dan Pontren, sebagai pihak yang bertanggungjawab akan terjadinya peristiwa ini, termasuk adanya mediasai dengan para pengeroyok Faiz.

Menurut Eva, Polres Mempawah mendesaknya untuk menandatangai surat pernyataan damai tersebut, dengan ancaman apabila tidak mau, akan diproses hukum terbalik, yaitu Eva sebagai terperiksa.

“Saya sudah memberikan kuasa kepada Abang kandung saya, yaitu Willy Armandan. Karena, ternyata laporan saya sama sekali tidak diproses. Bahkan, Polres meminta saya menandatangani surat damai. Saya tidak mau, karena saya menuntut keadilan,” tuturnya.

Pada dasarnya, lanjut Eva, ia dan keluarga, tidak menuntut yang berlebihan dari pengasuh dan pengurus Pontren Darussalam Sengkubang. Ia hanya meminta, para pelaku dikeluarkan dari Pontren, karena telah berlaku berlebihan terhadap keponakannya.

“Peristiwa ini terekam CCTV Pontren. Bahkan sang Ustaz pengasuh sampai menangis melihat Faiz diperlakukan demikian. Tetapi, pihak Pontren tidak ada kebijakan sama sekali,” papar Eva.

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda