Ponticity post authorEliazer 12 Januari 2022

Asperindo Kalbar Tolak Penetapan Tarif RA di Supadio

Photo of Asperindo Kalbar Tolak Penetapan Tarif RA di Supadio ilustrai pengiriman barang melalui bandara udara

PONTIANAK, SP – Asosiasi Perusahaan Jasa pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) Kalbar merespon rencana penerapan Regulated Agent (RA) di Bandara Internasional Supadio.

Ketua Asperindo Kalbar, Iwan Sunardi menjelaskan, jika ditinjau dari sudut pandang pemeriksaan, penanganan, pengamanan dan keamanan barang kiriman, rencana tersebut sebenarnya bagus.

Akan tetapi menurut Iwan jika dikorelasikan dengan kondisi ekonomi Kalbar, berdasarkan data statistik, per bulan Desember 2021 terjadi inflasi sebesar 0,37 persen.

“Sehingga kami mengusulkan ke pemerintah agar dari sisi penetapan tarif pemberlakukan RA hendaknya juga memperhatikan dampak ekonomi biaya tinggi yang akan dibebankan kepada masyarakat pengguna jasa pengiriman,” tuturnya, Rabu (12/1).

Apalagi, lanjut Iwan, Periode tahun 2019 hingga akhir tahun 2021 merupakan masa dilanda wabah pandemi Covid 19, sehingga praktis sektor jasa pengiriman express selama masa tersebut harus melakukan beberapa penyesuain, dan berdampak pada menurunnya tingkat pengiriman cargo (outgoing).

“Pada awal tahun 2022 ini, kita baru memulai lagi usaha dengan memperhatikan peluang baru, akibat pandemi dan menyambung dengan semangat pemerintah untuk mendorong UMKM, agar lebih dimudahkan,” kata Iwan.

Sementara Sekretaris Asperindo Kalbar, Eka Indra MP mengatakan, jika dibandingkan dengan bandara di provinsi lain, diantaranya tarif yang diberlakukan, bisa diterima dan bisa berjalan beriringan.

“Hendaknya hal ini juga bisa diadopsi jika kita memang ingin berangkat dari sisi kepedulian terhadap keamanan dan pengamanan barang kiriman kargo pesawat terbang,” tegasnya.

Tetapi jika penerapan ini dipaksakan dari sisi bisnis semata, maka pihaknya khawatir akan terjadi ketidak harmonisan dalam berusaha dan berdampak negatif untuk pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat secara keseluruhan.

Untuk itu, perlu adanya kejelasan komponen untuk menjadi indikator penentuan tariff, baik RA dan jasa gudang, sehingga angka yang muncul bisa diterima meskipun dengan beberapa catatan terkait perbaikan layanan dan lain sebagainya. (sms)

 

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda