Ponticity post authorKiwi 15 Oktober 2021

Sambangi Kejati Kalbar, Kak Seto Jelaskan Tangani Anak dengan Konsep Gembira

Photo of Sambangi Kejati Kalbar, Kak Seto Jelaskan Tangani Anak dengan Konsep Gembira Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi menyambangi Kejaksaan Tinggi Provinsi Kalbar. Kunjungan tersebut dalam rangka memperkuat silahturahmi, dan membahas penanganan anak yang berhadapan dengan hukum.

PONTIANAK, SP – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi menyambangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Kalbar. Kunjungan tersebut dalam rangka memperkuat silahturahmi, dan membahas penanganan anak, utamanya anak yang berhadapan dengan hukum.

Tokoh yang akrab dikenal dengan panggilan Kak Seto ini menjelaskan dalam penanganan anak. Menurut dia, ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh penegak hukum.

Penjelasan itu dirangkumnya dalam konsep GEMBIRA. Setiap huruf dalam konsep itu memiliki penjelasan yang harus diterapkan oleh para pihak.

Dimulai dari huruf pertama, menurut Kak Seto huruf G berarti Gerak. Anak-anak mesti lebih sering bergerak dengan aktivitas yang segar dan kreatif.

“Ibarat magma, anak itu harus bergerak. Tidak boleh ditutup. Seandainya magma itu ditutup, bisa dibayangkan bagaimana jadinya,” kata Kak Seto, Kamis (14/10).

Huruf E yang berarti Emosi. Dalam penanganan anak, Kak Seto mengatakan kerapkali memancing emosi. Salah-salah, emosi itu justru membuat mental dan psikologis anak menjadi buruk.

“Emosi ini bisa dikelola dengan cerdas. Saya pernah marah tapi tidak dengan membentak. Sampaikan saja marah kita dengan anak tanpa ada membentak. Kadang, saya marah pasti nyanyi di kamar mandi. Meskipun kadang-kadang anak nanya ‘ayah lagi latihan nyanyi ya,” ujarnya.

Untuk huruf M berarti makan dan minum yang teratur. Apa yang dikonsumsi, menurut Kak Seto berpengaruh terhadap daya tahan dan tumbuh seorang anak. Makanan dan minuman anak mesti dikontrol.

Selanjutnya huruf B yang berarti bersyukur. Sejak dini, anak-anak mesti diajarkan bagaimana cara bersyukur dengan apa yang dimilikinya. Jangan pernah membandingkan anak dengan oranglain.

“\Penuh rasa syukur. Jangan lihat ke atas, tapi ajarkan anak bagaimana cara bersyukur. Ini dapat mempengaruhi perkembangan anak,” jelasnya.

Huruf I yang berarti istirahat. Selain poin-poin di atas, Kak Seto menjelaskan anak-anak yang punya waktu yang cukup untuk beristirahat. Minimal dalam sehari, anak-anak tersebut dapat beristirahat dengan waktu yang ideal, yakni delapan jam.

Huruf R berarti rukun. Rukun yang dimaksud Kak Seto bukan hanya dalam lingkungan keluarga, melainkan di lingkungan sekitar. Baik dengan teman sepantarnnya,

“Ajarkan anak bahwa satu musuh itu terlalu banyak, dan 1000 orang teman itu terlalu sedikit,” ungkap Kak Seto.

Terakhir, huruf A berarti aktif berkarya. Anak-anak, kata dia harus selalu aktif untuk membuat karya. Orangtua harus mensupport apapun karya yang dibuat oleh anak.

“Dengan aktif berkarya itu akan berpengaruh sampai besar. Saya saja sampai sekarang tetap menciptakan lagu dan artikel. Karena dengan berkarya ada kebahagian batin yang dirasa,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kak Seto mengibaratkan anak bagaikan bunga di taman bernama Indonesia. Mereka akan tumbuh subur bila ditanam di tanah yang subur.

“Kami menyadari bahwa memang anak itu seperti bunga di taman Indonesia. Mereka akan subur dengan aneka warna apabila ditanam di tanah yang subur, dan merekah dengan warna-warni,” katanya.

Namun sebaliknya, anak-anak tidak akan tumbuh dan besar dengan baik apabila dikembangkan di lingkungan yang gersang. Pasalnya, di lingkungan yang gersang akan ada banyak tekanan yang dirasa oleh anak-anak.

“Makanya saya selalu bilang, bahwa dalam kasus anak yang berhadapan hukum. Baik anak itu korban maupun pelaku, tetap saja pada awalnya mereka adalah korban. Entah itu korban kekerasan, psikis dan lain-lain,” ujar Kak Seto.

Kak Seto juga menyoroti sistem pendidikan anak di Indonesia yang selalu memberlakukan hal yang sama pada setiap anak. Padahal, hal ini justru tidak baik bagi anak yang memiliki kecerdasannya masing-masing.

“Hanya saja kadang-kadang sistem pendidikan kita itu kurang responsif terhadap anak. Ada perankingan, sehingga membuat anak merasa terpinggirkan. Padahal anak itu sebetulnya hebat, hanya saja lingkungan yang kurang peduli,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kejati Kalbar, Masyhudi mengatakan dalam penanganan anak pihaknya selalu menerapkan rasa keadilan restorsi justice. Hal ini sesuai arahan dari Jaksa Agung yang meminta agar dalam penanganan kasus hukum anak mesti memiliki batas.

“Jadi diharapkan ada rasa keadilan seluruh pihak korban, keluarga korban. Ini yang ditekankan Jaksa Agung jangan sampai jadi masalah baru,” jelasnya.

Selain itu, upaya preventif juga dilakukan. Satu di antaranya adalah dengan cara kekeluargaan. Apalagi, selama ini para jaksa Penuntut Umum diberi pendidikan dan dilatih bagaimana menangani anak.
.
“Para jaksa Penuntut Umum itu dididik dan dilatih. Artinya, dia punya kepedian terhadap perkara anak. Jadi mereka melakukan penegakan hukum sesuai aturan,” jelasnya. (sms)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda