Ponticity post authorKiwi 18 Juni 2021

Indonesia Alami Bom Lonjakan Pasien Covid-19, Ramuan dan Obat Diyakini Sembuhkan Corona

Photo of Indonesia Alami Bom Lonjakan Pasien Covid-19, Ramuan dan Obat Diyakini Sembuhkan Corona

PONTIANAK, SP - Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau pembawa infeksi virus Corona disebut Covid-19 (Corona Virus Disease 2019), positif masuk ke Indonesia sejak menjangkiti tubuh dua warga Depok yang sempat dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi, Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Virus corona, termasuk yang terbaru dengan nama resmi SARS-CoV-2, bisa menular lewat tetesan pernapasan. Termasuk bisa ditularkan lewat batuk dan bersin, sehingga tetesan pernapasan itu terpapar masuk melalui hidung, mata, dan mulut, orang yang sehat.

Menurut World Health Organization (WHO), gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan dan sesak napas.

Sejumlah langkah bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah coronavirus, yaitu dengan rajin cuci tangan pakai sabun antiseptik dan air, serta tidak kontak dengan orang yang sakit.

Selain itu, masyarakat juga harus menjaga sistem kekebalan tubuh.Para ahli di Indonesia, hingga kini terus berjuang untuk mendapatkan formulasi obat anti virus tersebut. Dengan penelitian dan uji coba mendalam, ada beberapa ahli yang sudah menemukan formulasi obat virus corona.

Kini, kondisi usai hampir dua tahun lebih, penyebaran Covid-19 semakin menggila. Bahkan kondisinya memperhatinkan, karena hampir semeua rumah sakit rujukan sudah penuh dengan pasien Positif Covid-19. Walau telah divaksin, tetapi masih saja terus bertambah setiap hari.

Titik Terang

Perusahaan farmasi Merck, Ridgeback Biotherapeutics dan laboratorium dari Amerika sedang mengembangkan obat Covid-19 oral yang dapat mengurangi viral load atau jumlah virus dalam tubuh pasien. Berdasarkan laporan mereka pada Sabtu, 6 Maret 2021, obat tersebut dinilai menjanjikan.

"Pada saat ada kebutuhan yang belum terpenuhi untuk perawatan antivirus terhadap SARS-CoV-2, kami terdorong oleh data awal ini," kata Wendy Painter, kepala petugas medis dari perusahaan AS, Ridgeback Biotherapeutics.

Pada Januari lalu, Merck telah menghentikan studi pada dua kandidat vaksin Covid-19. Namun, ia terus melakukan pengembangan pada dua produk obat infeksi pernapasan tersebut yakni pil yang disebut molnupiravir.

Berdasarkan Medical Xpress, obat ini menyebabkan penurunan signifikan viral load pada pasien setelah lima hari pengobatan. Tes uji coba Fase 2a ini dilakukan terhadap 202 penderita Covid-19 bergejala tetapi tidak dirawat di rumah sakit.

Ridgeback mengatakan tidak ada peringatan dalam hal keamanan, dan dari empat efek samping serius yang dilaporkan tidak ada yang berkaitan dengan penggunaan obat.

Peneliti dan profesor kedokteran di University of North Carolina, William Fischer, mengatakan temuan studi ini menjanjikan.

"Jika didukung oleh studi tambahan, (obat ini) dapat memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang penting. Terutama karena SARS-CoV-2 terus menyebar dan berkembang secara global," ujar Fischer.

Merck juga sedang mengerjakan pengobatan Covid-19 oral lain yang disebut MK-711.

Hasil awal dari uji klinis obat tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 50% risiko kematian atau komplikasi pernapasan pada pasien Covid-19 sedang hingga parah yang dirawat di rumah sakit.

Formav-D Racikan Lutfi

Di Pontianak, Kalbar, Fahrul Lutfi, seorang mantan asisten apoteker, yang sudah malang melintang di dunia farmasi dan pernah bekerja di beberapa perusahaan farmasi internasional, mengenalkan Formav-D.

Formulasi hasil racikannya yang telah diyakini bisa menyembuhkan pasien positif Covid-19.Menurut Lutfi, Formav-D awalnya digunakan pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

Namun, ia meyakini bahwa virus corona (Covid-19) dalam tubuh pasien yang terjangkit bisa dibunuh atau disembuhkan dengan obat DBD hasil temuannya 10 tahun yang lalu itu.

“Sekarang sudah terbukti, hampir puluhan orang sudah memanfaatkan Formav-D. Di antara mereka ada yang sudah positif, setelah minum racikan saya, Alhamdulillah, mereka sembuh,” kata Lutfi.

Banyak kesaksian dari orang-orang yang telah mengkonsumsi Formav-D. Rata-rata di antara mereka mendapati bahwa mereka terkena Covid-19, karena ada gejala.

Di antaranya demam tinggi, sesak nafas, tidak bisa menggunakan indra perasa, batuk, pilek, dan lemas.Testimoni orang yang sembuh karena Formav-D, sempat viral di youtube.

Dia adalah Agustian Pratama, adik sepupu dari sutradara film PONTIEN, Agung Trihatmojo. Agus mengungkapkan, jati dirinya nama lengkapnya dan berusia 24 tahun pada 19 April 2020, ia mengalami demam tinggi.

“Awalnya, saya mengalami demam tinggi, awal suhu badan saya 36,7°C lalu saya istirahat. Pada malamnya, naik menjadi 37,9°C. Saya pun langsung minum parasetamol dan istirahat,” katanya.

“Besoknya suhu badan saya justru naik 38,7°C. Lalu saya hubungi Bang Agung dan menceritakan gejala sakit saya. Bang Agung langsung menghubungi Bang Lutfi, untuk meminta dikirimin obat. Alhamdulilah, setelah minum beberapa kali, suhu badan saya turun dan saya sehat kembali," lanjut Agus.

Dia juga menyarankan bagi masyarakat yang merasa demam tinggi atau merasa mengalami gejala Covid-19 untuk mengkonsumsi obat corona temuan Lutfi. Menurutnya, kesembuhan itu datang dari Tuhan, mungkin obat Bang Lutfi sebagai perantara.

Ramuan Herbal Pati TNI AL

Seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut (AL) mengenalkan ramuan herbal untuk mengatasi pandemi virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Dia menegaskan, ramuan herbal ini ampuh untuk membasmi virus Corona dan berharap bisa segera diproduksi massal oleh pemerintah.

Perwira tinggi TNI AL yang mengenalkan ramuan herbal ini adalah Dr Suradi AS, S.Sos, S.T, MM. Dia menyatakan, ramuan herbal ini merupakan hasil kerja keras ahli mikro biologi Indonesia.

"Semua bahannya dari herbal, ada satu persen yang rahasia. Masa expirednya lima tahun. Jadi ini herbal. Bayi, anak kecil, ibu hamil dan menyusui, orang tua nggak apa-apa mengonsumsi," ujar Dr Suradi, saat dihubungi wartawan, Senin (27/4).

Dr Suradi menjelaskan, selama ini dirinya sudah menguji coba ramuan herbal ini untuk masyarakat yang dinyatakan positif terjangkit virus Corona, dan hasilnya mereka sembuh. Dia juga mengaku telah memberikan ramuan ini kepada paramedis, anggota TNI-Polri hingga pejabat daerah.

"Satu pun yang saya obati nggak ada yang nggak sembuh. Secara fisik, saya sendiri dan keluarga setelah mengonsumsi, saya ketemu orang positif pun saya salaman nggak akan nular. Sampai sekarang sehat," kata Dr Suradi.

"Saya sendiri udah ketemu orang positif (Corona) bukan sepuluh kali, ratusan kali. saya datangi. Orang sibuk takut kena Corona, saya sibuk nyari orang Corona. Saya nemuin orang Corona sampai di luar Jawa juga, saya obati dan sembuh semua. Satu pun belum ada yang nggak sembuh," sambungnya menegaskan.

Menurut Dr Suradi ramuan ini selain mampu memberi kesembuhan terhadap orang yang positif COVID-19, juga bisa digunakan untuk pencegahan dengan cara diminum dan disemprotkan ke udara.

Ramuan ini menurutnya telah banyak digunakan dalam kegiatan penyemprotan, antara lain di Kompleks Polri Jatirangga Bekasi dan Komplek TNI AL Kodamar Kelapa Gading, dan lain-lain.

Dr Suradi menambahkan, ramuan herbal ini telah didaftarakan ke Balai POM RI serta sudah mendapat Surat Izin Edar Nomor POM TR203636031 tanggal 14 April 2020.

Ditambahkan Dr Suradi, dirinya berharap ramuan ini bisa digunakan secara masif di seluruh NKRI guna memutus penyebaran COVID-19 sehingga dibutuhkan campur tangan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, bila seluruh masyarakat Indonesia menggunakan ramuan herbal tersebut secara masif dan serentak, Indonesia dalam waktu yang relatif singkat dapat terbebas dari pandemi Corona.

"Saya sudah punya stok sekarang 150 ribu liter itu untuk konsumsi seluruh rakyat indonesia. Produksi massal kita sudah siap. Selama dua minggu apabila dijadikan gerakan nasional, Indonesia bebas Corona. Saya menunggu perintah Presiden untuk digunakan dalam skala nasional," ujarnya.

Makanan SF PalembangPeneliti asal Palembang, Profesor Faisal Rizal, mengklaim telah menemukan antivirus guna mencegah penularan virus Corona atau Covid-19. Antivirus Covid-19 itu berupa makanan yang bisa dikonsumsi setiap hari.

Faisal Rizal menjelaskan penemuan antivirus ini berawal dari penelitian soal sifat virus Corona. Dia mengatakan antivirusnya ini mengubah zat yang ada di dalam tubuh sehingga virus Corona tidak menyebar.

"Ini berupa makanan yang sudah bisa kita konsumsi setiap hari. SF yang mengubah glukosa menjadi energi di makanan," kata Faisal.

Dosen Akbid Suaibah Palembang ini menyebut antivirus temuannya sudah menunjukkan bukti.

Dia mengatakan antivirus itu efektif ketika dikonsumsi oleh orang yang positif COVID-19.

"Tingkat keberhasilannya sudah ada. Data kami dapat dari beberapa rumah sakit luar Sumatera Selatan, sudah beberapa pasien yang sembuh tak lebih dari lima hari," kata Faisal.

Menurut Faisal, cara kerja antivirus Covid-19 temuannya berfungsi memecah protein ketika dikonsumsi oleh seseorang. Dia mengatakan Covid-19 bakal menyebar jika seorang pasien diberi protein.

"Covid-19 ini akan cepat menyebar atau membelah diri jika pasien tersebut diberi protein. Artinya, pasien ini pantang untuk diberi protein," katanya.

"Antivirus ini bisa memecah protein pada tubuh, sehingga kita terhindar dari COVID-19," sambung Faisal.

Faisal mengatakan mayoritas warga terjangkit Covid-19 karena imunitas yang rendah. Dia mengklaim temuannya bisa mengatasi masalah penyebaran Corona dalam tubuh.

"Ini bisa memecah glukosa menjadi kalori. Sebab, glukosa adalah energi bagi Covid-19. Jadi protein bisa digunakan Covid-19 untuk membelah atau memperbanyak turunannya dan glukosa adalah energinya. Sebab itu, gula dikemas dengan teknologi yang mampu menangani itu," jelas Faisal.

Riset Anwar Nidom

Professor Chaerul Anwar Nidom, mengklaim herbal yang ditelitinya, bisa menangkal virus corona. Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, mengaku masih mencari formulasi obat herbal yang tepat untuk melawan corona.Nama Nidom terdengar luas saat dia pertama kali mengatakan bahwa ramuan jahe dapat mencegah penularan virus corona atau Covid-19.

"Formulasi (ramuan) terdiri dari jahe, kunyit, temulawak, sereh, dan bahan lainnya. Bahan-bahan ini biasa disebut sebagai empon-empon," ujarnya.

Menurutnya, formulasi empon-empon yang dibuatnya berawal dari formulasi yang dibuat saat wabah flu burung yang merebak pada 2008 silam. Nidom mengakui, kenapa dirinya dan tim tertarik membuat Antiviral atau antivirus-sejenis obat yang mampu mengobati atau menghilangkan virus tertentu-dengan menggunakan bahan dasar tanaman herbal.

"Jadi saya melihat bahan alami itu berhenti di statement hanya untuk penyegaran tubuh, imunomodulator, dan lain sebagainya. Nah, kenapa tidak dilanjutkan, formula jamu ini bisa digunakan untuk membunuh virus A atau bakteri A," papar Nidom.

Berangkat dari hal tersebut, Nidom dan tim meneliti apakah formulasi jamu tertentu dapat membunuh suatu virus atau bakteri.

"Itu yang pertama. Yang kedua, penerimaan teman-teman yang ada di bidang medis terhadap formulasi bahan alami itu tidak sepenuhnya 100 persen. Ini berbeda dengan negara China, di mana antara pengobatan modern dan tradisional itu berdampingan," ungkapnya.

Nidom menjelaskan, bahan-bahan pengobatan modern yang berasal dari konsep barat hanya menggunakan senyawa tunggal yang dimurnikan sedemikian rupa.Sementara pengobatan timur, termasuk China dan Indonesia, yang menggunakan tanaman herbal disebut Nidom multi compound. Dia mengatakan, dalam satu jamu terdiri dari banyak senyawa.

"Sehingga kalau teman-teman dokter mengobati dan menggunakan konsep barat, maka obat yang diberikan untuk satu penyakit ada banyak. Bisa saja satu orang menerima lima jenis obat," ungkapnya."

Nah harusnya konsep timur diperdalam. Karena dengan multi compound tadi tentunya bisa untuk mengobati," imbuh peneliti yang bergelut di bidang virus dan infeksi itu.

Kedua hal inilah yang dikatakan Nidom menyadarkannya bahwa tanaman herbal juga dapat digunakan untuk memerangi covid-19.

Nidom sendiri menjabat sebagai Ketua Riset Corona dan Formulasi Vaksin di Profesor Nidom Foundation (PNF) mengatakan bahwa ia bersama timnya tengah mengembangkan formulasi obat dari curcumin. Berdasar hasil riset yang pernah dibuatnya tahun 2007-2008 tentang curcumin untuk wabah flu burung (H1N1), kini dia membuat formulasi dari curcumin untuk melawan Covid-19.

"Sebagai peneliti, saya mencoba untuk melanjutkan. Jadi dari komposisi apa dia betul-betul dapat melawan virus Covid-19," ujar Nidom."Tujuan saya adalah sebagai Antiviral, suplemen, atau imunomodulator," imbuhnya.

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda