Ponticity post authorKiwi 20 Juni 2020 3,896

Banyak Kabar Bohong, Warga Jangan Takut Lakukan Rapid Test

Photo of Banyak Kabar Bohong, Warga Jangan Takut Lakukan Rapid Test

PONTIANAK, SP – Pemerintah saat ini semakin menggencarkan rapid test untuk menemukan kasus virus corona baru. Namun, ada sejumlah warga justru takut dan menolak untuk melakukan rapid test. Hal ini dipicu karena munculnya banyak kabar bohong atau hoaks tentang rapid test.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengatakan, ketakutan dari sejumlah masyarakat untuk melakukan rapid test juga terjadi di Kalbar karena munculnya banyak kabar bohong. Salah satunya karena khawatir ada zat tertentu yang dimasukan ke dalam tubuh saat melakukan rapid test.

“Jadi dalam proses rapid test, petugas kesehatan tidak memasukkan zat apapun, petugas hanya mengambil darah 2-3 tetes dari jari kita. Darah ini yang dimasukan ke dalam alat rapid test," jelasnya.

Untuk itu kata Harisson, masyarakat tidak perlu takut melakukan rapid test karena rapid test hanya mengambil sample darah, dan tidak memasukan zat tertentu ke dalam tubuh orang.

Menurut Harisson, rapid test penting dilakukan sebagai langkah mitigasi awal atau mengetahui sedini mungkin apakah seseorang tertular virus Corona atau tidak. Dengan mengetahui sedini mungkin, maka tindakan medis bisa dilakukan secepat mungkin.

'Kalau sudah sedini mungkin diketahui maka, pengobatan akan lebih mudah dan cepat sembuh," jelas dia.

Lanjutnya, rapid test ini juga untuk melakukan tracing dan upaya memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. Dimana ketika seseorang hasil rapid test dinyatakan reaktif, maka dilakukan isolasi, agar tidak menular kepada yang lain.

Namun untuk mengetahui secara pasti apakah yang reaktif itu benar-benar positif Covid-19 atau tidak, harus melalui pemeriksaan swab dengan RT-PCR. Jika hasil RT-PCR dinyatakan positif, barulah disebut pasien konfirmasi Covid-19.

"Kalau swabnya nanti positif kita akan teruskan isolasi sampai dengan 14 hari atau 21 hari. Kemudian setelah 14 hari pasca dinyatakan positif akan kembali dilakukan tes swab lagi," jelasnya.

Sebagai informasi jika hasil RT-PCR pasien positif Covid-19 negatif dua kali berturut-turut, maka pasien tersebut bisa dinyatakan sembuh dan tidak menjalani isolasi lagi.

Harisson pun meminta masyarakat untuk tidak takut melakukan rapid test karena rapid test penting sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

"Jadi memang penting sekali untuk melakukan rapid test,” tegasnya. 

Dari pantauan Suara Pemred di media sosial, ada sejumlah netizen yang mempertanyakan kenapa dilakukan rapid test, padahal untuk memastikan seseorang positif Covid-19 melalui pemeriksaan RT-PCR.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji bahkan sempat membuat postingan bahwa ada santri yang percaya rapid test dilakukan dengan memasukkan zat tertentu ke tubuh mereka.

Sebelumnya, juga beredar informasi bohong yang mengatasnamakan MUI mengenai imbauan agar masyarakat tidak melakukan rapid test Covid-19. Menurut informasi hoaks yang beredar itu, rapid test merupakan modus PKI untuk para tokoh agama Islam. Namun belakangan MUI menegaskan tidak pernah mengeluarkan imbauan dan memastikan imbauan penolakan rapid test yang telah beredar dan mengatasnamakan MUI tersebut adalah hoaks.

Seorang ibu rumah tangga di Kota Pontianak belum lama ini juga mengaku takut untuk melakukan rapid tes karena khawatir setelah mendengar informasi bahwa jarum yang digunakan petugas kesehatan untuk mengambil sample darah, digunakan secara berulang kali pada orang yang berbeda.  Informasi tersebut diakuinya didapat dari whatsapp.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam diskusi 'Manfaat Rapid Test Pada Kondisi Saat Ini' di Media Center Gugus Tugas Graha BNPB, Jakarta, Jumat (19/6/2020) menegaskan bahwa rapid test ini tidak perlu ditakuti.

Tes ini hanya proses skrining untuk menemukan kasus positif Covid-19. Penemuan kasus positif atau negatif alurnya sudah jelas. Kalau ditemukan reaktif maka akan langsung dilanjutkan pada swab test melalui metode polymerase chain reaction (PCR). Jika PCR negatif, bisa berkegiatan seperti biasa

"Kalau sudah negatif, ya sudah berarti bisa beraktivitas. Aktivitas yang memang diperbolehkan dan harus selalu menjalankan protokol kesehatan," jelas Wiku.

Wiku pun kembali menegaskan bahwa rapid test hanyalah proses skrining untuk memastikan memiliki kontak erat dengan riwayat positif Covid-19.

"Jadi rapid test itu kan tujuannya sebenarnya skrining atau sebenarnya menapis. Jadi memastikan bahwa orang yang memiliki kontak erat, riwayat kontak erat dengan penderita. Itulah yang seharusnya dites, apakah yang bersangkutan itu terinfeksi atau tidak maka menggunakan rapid test," katanya.

Jika ditemukan kontak erat dan hasil rapid test negatif, tes seharusnya diulangi lagi 7 sampai 10 hari kemudian.

"Jadi yang dilakukan dalam rangka menapis. Jadi, tidak semua orang harus dites," jelas Wiku.

Wiku mengatakan jika dalam rapid test tersebut ditemukan kasus positif maka akan dilanjutkan lagi dengan tes PCR untuk memastikan terinfeksi Covid-19 atau tidak. Sehingga, bisa segera dilakukan isolasi atau rawatan. Selama menunggu hasil tes PCR, harus melakukan isolasi untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

"Selama menunggu hasil tes PCR, mereka harus isolasi. Isolasinya kan bisa isolasi mandiri dulu di rumah, tidak pergi ke mana-mana. Atau mungkin kalau ada fasilitas publik yang digunakan untuk isolasi, isolasinya di situ," jelasnya. 

Kalbar Bertambah 14 Kasus Positif

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson mengumumkan ada penambahan kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar pada Jumat (19/6). Penambahan tersebut dari hasil pemeriksaan RT PCR Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) dan Laboratorium Rumah Sakit Universitas Tanjungpura.

"Ada 14 orang tambahan kasus konfirmasi Covid-19 yang ada di Kalbar. 14 orang ini tersebar di Kabupaten Sintang 13 orang dan Kota Pontianak 1 orang," jelas Harisson kepada awak media, Jumat (19/6).

Selain penambahan, Dinkes Kalbar juga menerima hasil pemeriksaan RT-PCR pasien positif Covid-19. Dimana ada 13 orang yang dinyatakan sembuh, setelah hasil pemeriksaan swab negatif dua kali berturut-turut.

Pasien yang sembuh ini berasal Kota Pontianak 7 orang, Kubu Raya 4 orang, Bengkayang 1 orang dan Pasien dari luar Kalbar 1 orang.

"Dengan demikian sampai hari ini terdapat 296 kasus konfirmasi Covid-19 di Kalbar. Dimana 186 orang sudah dinyatakan sembuh," ujarnya. (iat/tik/ien)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda