Ponticity post authorKiwi 20 Januari 2021 380

Danrem 121/Abw Ungkap Duka Mendalam pada Dua Kerabatnya yang jadi Korban Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Photo of Danrem 121/Abw Ungkap Duka Mendalam pada Dua Kerabatnya yang jadi Korban Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Komandan Korem 121/Abw, Brigjen TNI Ronny, S.A.P.

PONTIANAK, SP - Kesedihan mendalam diungkap Komandan Korem (Danrem) 121/Abw, Brigjen TNI Ronny, S.A.P., terhadap dua keluarganya yang juga menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Duka ini disampaikannya saat jenazah salah seorang dari dua korban tersebut telah kembali ke Ketapang.

"Keduanya adalah pasangan suami istri, yaitu Beben Sofian (59) dan sang istri Razanah (58). Secara urutan, keduanya adalah paman dan bibi saya. Saya sangat merasa kehilangan," papar Danrem 121/Abw.

Brigjen TNI Ronny pun mendoakan, agar kedua keluarganya tersebut mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas dan tawakal. Sehingga mereka yang menjadi korban, selalu tenang di alam mereka.

"Semua ini sudah takdir dan menjadi ketentuan Allah SWT. Kita yang ditinggalkan ini harus terus mendoakan, agar mereka tenang di alamnya," kata Brigjen TNI Ronny.

Usai mendapat kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada Sabtu (9/1) di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, Danrem 121/Abw dan keluarga di Ketapang terus memantau perkembangan. Ia menyatakan jenazah Beben Sofian sendiri telah diidentifikasi pada 16 Januari 2021.

Namun, sang istri, Razanah, yang juga menjadi penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182 belum berhasil diidentifikasi. Ia pun berharap, semoga jenazah sang bibi bisa segera diidentifikasi dan kembali ke Ketapang untuk dimakamkan di sebelah sang suami.

"Alhamdulillah, Rabu (20/1), jenazah Paman Beben sudah dimakamkan di Ketapang. Setelah sebelumnya sampai di Bandara Supadio Pontianak dengan penerbangan dari Jakarta. Kemudian pukul 11.00 WIB, diterbangkan kembali ke Ketapang. Semoga semuanya mendapat tempat terbaik," paparnya.

Almarhum Beben Sofian adalah pensiunan ASN Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang. Sedangkan istrinya, Almarhumah Razanah saat ini belum teridentifikasi, Danrem 121/Abw pun berharap semoga dapat cepat ditemukan dalam kondisi apapun.

"Terimakasih kepada Pemprov Kalbar, yang diwakili Kadis Kesehatan, Harrisson yang telah menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga di Bandara Supadio dan Pemkab Ketapang yang di mana Wabup Suprapto S menghadiri pemakaman di pemakaman keluarga Abdul Hamid, Kampung Kaum, Matan Hilir Selatan (MHS)," ujar Brigjen TNI Ronny.

Dimakamkan di Ketapang

Jenazah Beben Sopian (59), salah seorang warga Ketapang yang juga menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182, tiba di Ketapang, Rabu (20/1) siang. Jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dikebumikan di pemakaman keluarga di Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong.

Jenazah tiba di Bandara Rahadi Oesman Ketapang pukul 11.50 WIB menggunakan pesawat Nam Air untuk kemudian disalatkan di Masjid Al-Falah, yang berada tepat di samping rumah almahum, yaitu di Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Kantor, Kecamatan Delta Pawan.

Dalam kesempatan penyerahan jenazah, Bupati Ketapang Martin Rantan bersama dengan Wakil Bupati Ketapang, Suprapto turut menemani pihak keluarga menerima jenazah di bandara. Pada kesempatan itu pula Wakil Bupati Ketapang Suprapto S menyerahkan akte kematian ke pihak keluarga.

Muhaiyan Sidik, yang merupakan keluarga almahum, mengaku kalau pihak keluarga sudah mengikhlaskan ini semua. "Semua keluarga sudah mengikhlaskan termasuk untuk tidak membuka peti ini, semua anggap saja rahasia Allah," katanya.

Ia juga mengaku, kalau pihak keluarga juga berharap istri dari Beben Sofian, yakni Razanah (58) dapat segera teridentifikasi. "Kami dari keluarga terus bersabar hingga almarhumah Razanah dapat segera teridentifikasi. Kami mengerti karena proses pengidentifikasian dibutuhkan ketelitian dan ketepatan," harapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Ketapang Suprapto S berharap amal ibadah dapat diterima Allah SWT dan mendapat tempat terbaik disisi Tuhan yang maha kuasa. "Pada kesempatan ini, kami pemerintah kabupaten menyerahkan akta Kematian atas nama bapak Beben semoga dapat digunakan sebagai mana mestinya," tuturnya.

Wabup Suprapto S menyampaikan, Pemkab ketapang memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada  semus pihak yang terlibat baik langsung maupun tdk langsung atas pemulangan jenazah almarhum.

"Penghargaan ini disampaikan kepada unsur Forkompimda Ketapang, Basarnas, pihak maskapai Sriwijaya Groups dan pihak lainya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu," ujar Suprapto.

Ia juga berharap, istri dari almarhum Beben Sopian, Razanah (58) dapat segara teridentifikasi dan segara dapat diserahkan ke pihak keluarga.

"Untuk almarhumah  ibu Razanah, saya berharap Segera dpt diidentifikasi dn diserahkan ke pihak keluarga utk dapat segera dikebumikan," ucapnya.

Kemoterapi di Bandung

Sebelumnya, keluarga korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih terus berdatangan ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, hingga Rabu (13/1). Mereka tak jarang bagikan kisah terkait kejadian nahas tersebut.

Salah satunya cerita datang dari keluarga korban atas nama Beben Sopian dan Razanah. Beben dan Razanah merupakan pasangan suami istri yang menjadi korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Dadi Gunadi, keluarga korban, yang merupakan pasangan suami istri, Beben Sofian dan Razanah mengungkapkan bahwa awal pertama kali pihaknya terima kabar terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182 sempat merasa biasa saja. Pasalnya korban tak biasa menggunakan maskapai Sriwijaya Air.

"Awalnya pas kejadian itu kita cuek, cuek kebiasaan almarhum pakai maskapai yang lain. Cuma pas malam kita dapat dari call center Sriwijaya, kita yakin. Kita dapat manifest, ya sudah ada semua, gitu," kata Dadi.

Dadi mengungkapkan, kedua korban melakukan perjalanan Jakarta-Pontianak usai jalani kemo terapi di Bandung. Salah satu korban Razanah diketahui ternyata sedang mengidap penyakit kanker.

Kala itu, keluarga sempat mewanti-wanti Razanah dan suaminya agar tak pulang ke Pontianak dan fokus pada kemo terapinya. Namun, hal itu tak diindahkan korban, sampai akhirnya kejadian naas itu datang.

"Jadi keluarga saya, Bu Razanah itu lagi kemo terapi di Bandung dan pekan depan itu kemo terakhir, kankernya. Dia pulang, memang sudah kita tahan untuk nggak usah pulang, ternyata ingin pulang, pulanglah dan kejadian," tuturnya.

Dadi dan keluarga hanya bisa pasrah menerima keadaan. Saat ini dirinya menanti kejelasan kabar terkait kondisi korban. "Ya semoga penyebabnya cepat ketahuan. Kita ambil hikmahnya dari kejadian ini," paparnya. (teo/mul/sur)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda