Ponticity post authorKiwi 20 November 2020 100

Kalbar Waspada Banjir dan Longsor Efek Fenomena La Nina

Photo of Kalbar Waspada Banjir dan Longsor Efek Fenomena La Nina

PONTIANAK, SP - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan agar semua pihak mewaspadai efek dari fenomena La Nina yang sedang berkembang karena dapat meningkatkan curah hujan. Apalagi, fenomena ini terjadi bersamaan dengan musim hujan di wilayah Tanah Air.

Kepala Bidang Diseminasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Djatmiko mengatakan, pengaruh La Nina tidak seragam karena tergantung bulan, daerah, dan intensitasnya.

"Meningkatnya curah hujan akibat La Nina dapat menimbulkan dampak berupa bencana hidrometeorologi, yaitu bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung," kata Hary, kemarin.

"Ini berpotensi mengancam sektor pertanian, perhubungan (transportasi), kesehatan, dan keselamatan masyarakat sehingga perlu diantisipasi," tambah dia.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menambahkan, untuk mengurangi ancaman bencana longsor, ia mengimbau masyarakat untuk membuat sengkedan. Kemudian, masyarakat yang ada di hilir bisa membuat drainase atau memastikan drainase lancar dan aliran sungai tidak tersumbat. Adapun daerah tangkapan hujan di daerah konservasi harus berfungsi dengan baik.

"Jangan ada lereng terbuka (gundul) yang sangat mudah tergerus air hujan," ujar dia.

Dodo mengingatkan masyarakat untuk memantau perkembangan cuaca setiap tiga-enam jam per hari di seluruh kecamatan di Indonesia. Ia mengatakan, perkembangan cuaca dapat dipantau melalui aplikasi Info BMKG.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Sutikno mengungkapkan untuk wilayah Kalimantan Barat sebagian besar saat ini masih diprakirakan masih berpotensi terjadi hujan intensitas sedang hingga lebat hingga tanggal 24 November 2020. 

"Faktor penyebab terjadinya cuaca ekstrem di Kalimantan Barat yaitu adanya penumpukan massa udara yang ditunjukkan dengan pola konvergensi di Kalimantan Barat," jelasnya.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh hujan yang disertai petir dan angin kencang. Seperti pohon tumbang, jalan licin dan sebagainya. Selain itu perlu juga mewaspadai potensi angin kencang terutama pada siang hingga sore hari di pesisir barat wilayah Provinsi Kalbar.

"Serta perlu waspadai potensi terjadinya genangan, banjir dan tanah longsor khususnya pada wilayah yang sering terdampak bencana tersebut," tutupnya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan fenomena La Nina merupakan kondisi alam yang menjadi ciri khas Indonesia. Karena Indonesia mengalami dua musim yakni kemarau dan penghujan. 

Biasanya pada akhir tahun mulai dari September, Oktober, November, Desember, Januari dan Februari akan mengalami musim penghujan. Lalu pada Agustus dan September akan mengalami musim kemarau.

"Faktor cuaca ini mempengaruhi oleh sebab itu kita mengikuti ramalan cuaca yang disampaikan BMKG termasuk air pasang surut, angin hujan, badai," kata dia.

Ia menambahkan jika dilihat pada akhir-akhir ini sudah rutin terjadi hujan baik kecil maupun besar. Kemudian dibarengi dengan pasang air laut sehingga otomatis kondisi air Sungai Kapuas juga meninggi. 

Berdasarkan ramalan BMKG puncak pasang tertinggi bisa mencapai 1,8 meter dari muka air pasang rata-rata. Jika sudah 1,8 meter air pasang, maka 35 persen wilayah Kota Pontianak akan tergenang.

"Pemerintah Kota Pontianak melakukan upaya agar genangan tersebut tidak menghambat aktivitas," katanya.

Dirinya menyampaikan upaya antisipasi yang dilakukan pemerintah Kota Pontianak di antaranya yakni kesiapan warga terhadap genangan. Kemudian memastikan saluran harus berfungsi baik sehingga air pasang dan surut bisa cepat. 

"Pemerintah Kota Pontianak juga mendapatkan bantuan dari Bank Dunia untuk mewujudkan kota yang tangguh terhadap banjir," jelasnya.

Selain itu langkah jangka menengah dan panjang juga dilakukan di antaranya meninggikan jalan. Sebagian besar telah dilakukan tetapi terbentur dengan anggaran. Sehingga tidak serta merta dalam waktu singkat seluruh permasalahan bisa diatasi.

"Kita minta warga untuk siaga selalu, Pemerintah Kota Pontianak juga siaga menghadapi segala kemungkinan, misalnya air pasang di sertai angin dan gelombang yang tinggi, ini bisa menyebabkan banjir bukan genangan lagi," ungkapnya.

Edi menuturkan untuk saluran di Kota Pontianak yang diperlukan bukan kedalaman. Akan tetapi diperlukan kelebaran saluran tersebut. Karena jika hanya dalam maka endapan akan masuk. 

Terlebih saat ini menurutnya kondisi Sungai Kapuas sendiri saat ini telah dangkal. Sementara kewenangan tidak seluruhnya menjadi tanggung jawab pemerintah Kota Pontianak. Seperti halnya Sungai Kapuas dibawah kewenangan balai besar sungai. 

"Kemudian saluran primer menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. Tanggung jawab pemerintah Kota Pontianak di luar Sungai Kapuas dan saluran primer yakni sekunder dan tersier," ujarnya.

Di Kota Singkawang, Kepala BPBD Singkawang, M Syafruddin mengatakan, potensi bencana berdasarkan dokumen KJR (Kajian Resiko Bencana) tahun 2018 dari rendah hingga sedang.

"Potensi pasti ada, ditambah Rambu Bencana Karhutla, banjir dan longsor, angin puting beliung dan banjir bandang," katanya.

Menurutnya, beberapa daerah yang rawan Karhutla seperti daerah Sui Pinang Semelagi Kecil, daerah belukar Setapuk Besar, daerah Air Hitam Setapuk Besar, daerah Sawang Sembilan, Rawasari, Setapuk Kecil, Jalan Senen Sui Rasau dan Jalan Pembangunan Sui Bulan.

Kemudian, Jalan Sinka Permai, Jalan STKIP Sui Naram, Jalan MAN Roban, Jalan Wonosari Roban, Jalan Marhaban Sedau dan Jalan Pasir Panjang Sedau.

Sementara daerah yang rawan banjir ada 12 titik, seperti Jalan Hamid Matali Setapuk Kecil, Jalan Padat Karya Sui Wie, Jalan semai Sui Garam, Bukit Batu dan Gang Makmur Sekip Lama.

"Kemudian, Jalan lembah Murai Condong, Jalan H Tarap, Jalan Rawasari Roban, Jalan Raya Sanggau Kulor, Jalan Hangmui Pajintan, Jalan Pasar Baru Pasiran dan Jalan Mesjid Sedau," ujarnya.

Untuk daerah rawan longsor ada delapan titik, yaitu, daerah Sanggau Kulor 2 titik, Baru Lingkar 2 titik lokasi Galian C, Dusun Gare Sijangkung dan Bukit Galian C.

"Kemudian Jalan Raya Sagatani Kelurahan Sagatani, Bukit Galian C Kaliasin Sedau, Bukit Galian C Jamthang Sedau , Bukit Galian C Teluk Karang, Bukit Galian C Lirang," ungkapnya.

Bentuk pencegahan yang dilakukan seperti mitigasi berupa kegiatan koordinasi, penyebaran leflet, banner dan spanduk kebencanaan.

Sebelumnya Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan berharap pemerintah kota, TNI, Polri dan seluruh elemen terkait harus bersiap menghadapi bencana alam yang sewaktu-waktu mungkin saja dapat terjadi di wilayah Kota Singkawang.

"Kesiapan yang dimaksud baik secara personel maupun peralatan untuk penanganan dan penanggulangan bencana alam yang terjadi," kata Irwan saat memimpin apel Konsolidasi Ops Kontijensi Aman Nusa II Penanganan Bencana Alam pada masa pandemi Covid-19 di halaman Pemkot Singkawang beberapa waktu lalu.

Dia berharap, melalui apel yang digelar bukan hanya sekedar seremonial belaka, tetapi merupakan manifestasi kesiapan pemerintah daerah bersama TNI/Polri maupun berbagai komponen masyarakat dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan apabila terjadi bencana di wilayah Kota Singkawang.

Menurutnya, bencana alam tidak bisa ditolak, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana upaya untuk dapat meminimalisir dampak yang mungkin terjadi akibat bencana tersebut atau yang biasa disebut dengan mitigasi bencana.

"Oleh karena itu, hendaknya pihak-pihak terkait dapat memberikan berbagaj informasi dan edukasi kepada warga khususnya masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana," ujarnya.

Sehingga, masyarakat bisa memahami apa-apa saja yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

"Dengan kesiapan kita semua dalam menghadapi bencana alam serta penanganan dan penanggulangan bencana yang tepat, diharapkan dapat meminimalisir jumlah korban, baik korban jiwa maupun material karena perencanaan penanganan/penanggulangan bencana tersusun dengan baik," ungkapnya.

Sehingga, tindakan operasional pada saat terjadinya bencana dapat dilaksanakan dengan segera.

Irwan mengungkapkan, pada bulan Oktober-November 2020 akan terjadi peningkatan akumulasi curah hujan yang tinggi akibat La Nina yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

"Yang mana dampak dari La Nina dapat mengakibatkan bencana Hidrometeorologi yaitu banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, angin puting beliung, gempa bumi dan bencana Tsunami," jelasnya.

Tak kalah penting adalah sama-sama berdoa kepada Tuhan YME semoga Kota Singkawang dihindarkan dari semua bencana alam, sehingga masyarakat Kota Singkawang dapat melaksanakan aktivitas dengan lancar tanpa ada hambatan.

"Sedangkan Pemkot Singkawang dapat melanjutkan program-program pemerintah yang telah direncanakan dengan baik dan berhasil seperti yang diharapkan,"  tuturnya.

Kepala Bidang Rehabilitasi Perlindungan dan Jaminan Sosial, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Singkawang Agus Purnomo mengatakan, jika pihaknya sudah melakukan persiapan-persiapan bilamana terjadi bencana banjir atau longsor.

"Pertama adalah kesiapan SDM yaitu melibatkan Tagana. Kedua, logistik bahan pangan untuk korban bencana berupa sembako," katanya.

Logistik ini khusus untuk korban bencana yang mau di evakuasi untuk dibuatkan dapur umum.

Halaman Selanjutnya

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda