Ponticity post authorKiwi 20 November 2020 197

Kalbar Waspada Banjir dan Longsor Efek Fenomena La Nina

Photo of Kalbar Waspada Banjir dan Longsor Efek Fenomena La Nina
Siap Antisipasi

Puncak La Nina diprediksi akan terjadi pada akhir tahun 2020 dan awal 2021. Pada kondisi ini, curah hujan jauh lebih tinggi dibanding pada kondisi normal sehingga memperbesar potensi bencana hidrometereologi seperti banjir, longsor dan angin kencang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sanggau melalui Kasi Pencegahan Bencana BPBD Kabupaten Sanggau Kristian Hendro mengatakan, BPBD Kabupaten Sanggau telah mengambil beberapa langkah antisipasi menghadapi potensi bencana hidrometereologi akibat fenomena La Nina.

“Kami melakukan monitoring di wilayah rawan bencana serta melakukan mitigasi bencana dengan memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat yang berisiko tinggi terdampak banjir, longsor dan puting beliung. Dan kami juga melakukan penetapan perpanjangan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung di Kabupaten Sanggau,” katanya, Jumat (20/11).

Koordinasi lintas sektor, lanjut dia, juga dilakukan untuk penanggulangan potensi bencana akibat fenomena La Nina.

“Dan kami telah melaksanakan apel kesiapsiagaan Batingsor (banjir, puting beliung dan tanah longsor,” ungkap Hendro.

Ia menuturkan, untuk memastikan penanganan bencana tertangani dengan maksimal telah dilakukan pemasangan jalur evakuasi bencana, persiapan alat mitigasi bencana dan penyerahan leaflet serta standing banner di 20 desa fokus dan desa rawan bencana.

Hendro mengungkapkan, di Kabupaten Sanggau wilayah rawan banjir berada di Kecamatan Meliau yang meliputi Meliau Hilir, Meliau Hulu, Sei Mayam, Kuala Buayan, Cupang dan Balai Tinggi. Kemudian Tayan Hulu di Sosok, Kecamatan Sekayam di Balai Karangan dan Pegadang, Kecamatan Noyan di Noyan, Sei Dangin, Empoto, Semongan dan Idas.

Wilayah rawan banjir lainnya, dibeberkan dia, di Kecamatan Kembayan yang meliputi Tanjung Merpati, Kuala Dua dan Sebungkuh. Kecamatan Mukok di Semuntai dan Inggis, Kecamatan Kapuas di Penyaladi dan Semerangkai. Kecamatan Beduai di Sei Ilai, Beleng Berkawat dan Kasro Mego.

Di Kecamatan Tayan Hilir, Hendro melanjutkan, daerah rawan banjir berada di Kawat, Pedalaman, Pulau Tayan Utara, Sebemban dan Beginjan. Di Kecamatan Balai (Batang Tarang) berada di Temiang Mali, Senyabang, Empirang Ujung, Kebadu, Tae, Hilir, Temiang Taba, Cowet, Bulu Bala, Mak Kawing, Padi Kaye dan Semoncol.

Untuk Kecamatan Jangkang, sambung dia, daerah rawan banjir berada di Ketori, Saper, Balai Sebut, Selampung dan Tanggung. Kecamatan Bonti di Sami, Batha, Empodis, Kampuh dan Bonti serta di Kecamatan Parindu rawan banjir berada di Rahayu.

“Kalau Kecamatan Entikong, daerah rawan banjir di Pala Pasang dan Suruh Tembawang. Terakhir banjir bandang di Nekan pada 8 Juli 2020,” ungkap Hendro.

Sementara untuk Wilayah rawan longsor disampaikan dia, di Pandan Sembuat, Kecamatan Tayan Hulu, Sei Batu dan Tanjung Sekayam di Kecamatan Kapuas, Kawat, Pedalaman, Beginjan, Sejontang dan Subah di Kecamatan Tayan Hilir, Temiang Mali, Cowet, Mak Kawing dan Padi Kaye di Kecamatan Balai (Batang Tarang), Semombat, Jangkang Bedua, Empiyang dan Tanggung di Kecamatan Jangkang. Selain itu, Entikong dan Sami di Kecamatan Bonti juga rawan longsor.

“Kalau rawan puting beliung di Kunyil, Balai Tinggi dan Sei Kembayau, Kecamatan Meliau. Kemudian Semerangkai dan Nanga Biang di Kecamatan Kapuas, Beginjan di Tayan Hilir dan di wilayah Bonti di Kecamatan Bonti,” kata Hendro.

Jika kurang antisipasi, bencana hidrometereologi akibat fenomena La Nina juga mengganggu sektor pertanian.

Terkait hal itu, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan Hortihultura dan Perikanan Kabupaten Sanggau Kubin mengatakan, tidak ada kebijakan khusus dalam mengantisipasi dampak La Nina di Bumi Daranante, julukan Kabupaten Sanggau. 

Meski begitu, menurut dia, dalam banyak kesempatan, baik pada pertemuan penyuluh, pertemuan BPP, rapat dinas, pertemuan kelompok tani (poktan) serta pembinaan poktan selalu disampaikan hal-hal terkait pengaruh La Nina.

“Kita sampaikan bahwa fenomena La Nina berpengaruh langsung terhadap aktivitas usaha tani. Seperti jadwal tanam, pelaksanaan, panen hingga dan serangan hama,” kata Kubin. 

Ia menyebut, biasanya di musim hujan yang agak lama akan ada serangan hama tikus. Pada kondisi seperti itu para petani harus selalu membersihkan saluran parit sawah mereka agar arus air lacar.

“Dan BMKG rutin mengirim laporan kejadian dan prediksi cuaca ke kami. Begitu juga Dinas Pertanian Provinsi dan Kementerian Pertanian selalu mengirim surat edaran atau pentunjuk dalam upaya antisipasi dampak cuaca, juga arahan jadwal tanam,” ujar Kubin. 

Ancaman La Nina, lanjut dia, kecenderungan terjadi banjir pada lahan pertanian atau sawah karena volume air hujan cukup tinggi.

“Untuk wilayah rawan terdampak tidak ada yang benar-benar rawan, relatif merata. Mungkin bisa terendam bajir satu sampai dua hari di Kembayan. Namun tanamannya belumlah puso. Kecuali jika padi sedang berbunga atau sudah berbuah, dapat menyebabkan buah bangar atau puso. Lumbung pangan juga begitu, relatif seluruh kecamatan. Tapi untuk lumbung padi ada di Kecamatan Balai, Kembayan, Sekayam dan Mukok,” jelas Kubin. 

Fenomena La Nina, sambung dia, selain bisa mengganggu rantai produksi dan ekonomi akibat bencana hidrometereologi, juga memberikan dampak positif.

“Dampak positifnya selalu tersedia air untuk tanaman, tidak perlu menyiram, tidak kesulitan air bagi tanaman. Tersedia cukup air pada sawah tadah hujan,” kata Kubin.

Ia menambahkan, sesuai data yang ada bahwa ketersediaan pangan di Kabupaten Sanggu cukup.

“Pangan tersedia di masyarakat. Pangan juga dibawa dari luar serta peran penyangga pangan oleh Bulog. Aktivitas usaha tani tetap berlangsung di masa pandemi. Indikatornya para petani tetap bekerja, data luas tanam terus bertambah, pembinaan poktan yang terus menerus dan harga pangan di pasar relatif masih stabil,” pungkas Kubin. (rep/din/rud/jul)

Halaman Selanjutnya

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda