Ponticity post authorKiwi 22 Mei 2020 124

Sindir Masyarakat yang Bandel, Petugas Medis Tulis “Indonesia Terserah”

Photo of Sindir Masyarakat yang Bandel, Petugas Medis Tulis “Indonesia Terserah”

PONTIANAK, SP – Banyaknya masyarakat yang masih tidak mentaati peraturan pemerintah dalam pencegahan Covid-19 membuat sebagian kalangan merasa kesal. Termasuk salah satunya tenaga medis. Kata ‘Indonesia Terserah’ pun muncul sebagai bentuk kekecawaan mereka.

Di Kalimantan Barat (Kalbar), 15 tenaga medis dari Dinas Kesehatan Kalbar juga ikut mengumandangkan frasa "Indonesia Terserah" sebagai bentuk representasi dari respon mereka terhadap perilaku masyarakat di Kalbar, terutama di Kota Pontianak yang masih saja membandel.

Caranya sedikit unik. Mereka menulisakan kata ‘Indonesia Terserah’ di baju hazmat dengan spidol berwarna hitam saat mendata dan mengecek kesehatan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru datang dari Malaysia di Dinas Sosial Provinsi Kalbar, Rabu (20/5) malam.

Dari baju yang khusus dipakai oleh para tenaga medis untuk melindungi diri dari virus, utamanya Covid-19 ini, tampak beberapa kalimat yang ditulis tangan menggunakan spidol hitam. Dari jauh sudah pasti tampak, sebab warna tulisan ini kontras dengan warna baju hazmat yang serba putih.

Beberapa tulisan itu di antaranya ‘Cuka-cuka’, kemudian ada beberapa yang hanya dituliskan satu huruf di setiap baju. Jika diperhatikan secara seksama, gabungan huruf itu membentuk kalimat ‘Terserah Indonesia’.

UPT Kesehatan Kerja dan Olahraga Masyarakat, Dinas Kesehatan Kalbar, Wahidah, mengatakan kalimat itu sebetulnya merupakan representasi dari respon terhadap perilaku masyarakat di Kalbar, terutama di Kota Pontianak.

Dia menilai, semakin meningkatnya pasien Covid-19 ini, perilaku masyarakat juga semakin membandel. Padahal, upaya pemerintah untuk memutus rantai sebaran virus ini sudah massif dilakukan.

“Banyak kebijakan pemerintah seperti pembatasan jalan, masih saja dilanggar. Warga tetap saja berkeliaran ke luar rumah walaupun tidak punya kepentingan apapun yang mendesak,” ungkapnya.

Kata dia, sebetulnya tenaga medis sudah “lelah” terhadap perilaku masyarakat yang dinilainya tidak mau menjalankan intruksi pemerintah, yang notabanenya untuk kebaikan masyarakat itu sendiri. Namun, dikarenakan hal ini merupakan tugas dan kewajiban, tenaga medis tetap komitmen menjalankan sesuai tupoksi.

“Semakin banyak kasus yang terungkap, perilaku masyarakat semakin menjadi. Jadi terserah kepada masyarakat, kalau mau dikarantina, jadi terserah. Sebenarnya kami sudah putus asa dan pasrah terhadap masyarakat, namun karena itu tugas kami harus tetap menjalan sesuai apa yang diintruksikan oleh pemerintah,” katanya.

Dia menjelaskan, 15 orang yang diturunkan untuk mengecek kesehatan para PMI merupakan kerjasama dengan BP2PMI dan Dinas Sosial Provinsi Kalbar. Masing-masing tenaga medis ini diberi tugas mengukur suhu tubuh, anamesa, melakukan pendataan dan pembuat laporan, mengetes dengan rapid test dan pembaca hasil rapid test tersebut.

Dalam menjalankan tugas tersebut, kata dia selama ini belum ada PMI yang hasil rapid testnya menunjukkan reaktif. Hanya saja, ada beberapa dari PMI yang mengeluh sakit.

“Namun semua tidak ada yang reaktif,” ungkapnya.

Seperti diketahui, kata ‘Indonesia Terserah’ baru-baru ini menjadi trending karena banyaknya masyarakat yang masih tidak mentaati peraturan pemerintah dalam menjalani kebijakan pencegahan Covid-19.

Bahkan kini pemerintah mulai memberikan kelonggaran dan mulai mengizinkan warga di bawah usia 45 tahun untuk beraktivitas normal hingga layanan transportasi umum yang kembali dibuka, meski tetap dengan “embel-embel” protokol kesehatan.

Hal itulah yang kemudian memicu rasa “lelah” dari sejumlah kalangan, termasuk para tenaga medis. Dan belakangan, alih-alih berusaha mengingatkan, tampaknya tenaga medis memilih untuk menyerah dan mengumandangkan frasa “Indonesia Terserah”, menyerahkan sepenuhnya nasib perkembangan kasus Covid-19 di tangan masyarakat.

Hal ini tentu juga menjadi tamparan keras buat masyarakat yang masih berkeliaran dan berkumpul, tanpa ada sedikitpun rasa takut akan Covid-19.

"Indonesia? Terserah!!! Suka-suka kalian saja," demikian frasa yang ditulis dalam gerakan ini.

Kata kunci "Indonesia Terserah" pun sejak Jumat (15/5) malam hingga Sabtu (16/5) masih berada di jajaran lima besar Trending Topic, menjadi wadah suara protes masyarakat karena banyaknya golongan bandel yang seolah tak ingin wabah segera berakhir.

Dari pantauan Suara Pemred, memang menjelang lebaran, aktivitas warga di Kota Pontianak, Kalbar semakin meningkat. Pasar-pasar tradisional penuh sesak oleh masyarakat yang berbelanja persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri. Mirisnya, tak sedikit yang mengabaikan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak dan menggunakan masker.

Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Komarudin mengungkapkan, saat ini dalam menyambut Idulfitri terdapat perubahan pola peningkatan dan pergeseran tempat berkumpulnya masyarakat.

"Trend pada awal puasa yang diserbu pasar dan toko sembako, sekarang bergeser ke toko pakaian, ini yang terus kita evaluasi," katanya.

Pihak kepolisian katanya, akan menyesuaikan pola pengamanan, penambahan personil dan sarana prasarana.

"Seperti pengeras suara yang lebih banyak, kemudian APD yang banyak karena kita akan masuk ke jantung titik keramaian," pungkasnya.

Sementara, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengimbau warga yang berbelanja kebutuhan menjelang lebaran di pasar untuk tetap menggunakan masker, menjaga jarak, dan tidak berlama-lama di pasar.

“Saya mengimbau kepada masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan mengikuti anjuran pemerintah dan menjalankan ptotokol kesehatan,” imbaunya.

Malaysia Deportasi 142 PMI

Kepala BP3TKI Pontianak, Erwin Rachmat menjelaskan sebanyak 142 orang Pekerja Migrasi Indonesia (PMI) bermasalah kembali dideportasi atau dipulangkan pihak Depot Imigresen Semuja Malaysia ke Indonesia melalui PLBN Entikong Kabupaten Sanggau, Kalbar.

Mereka ini terdiri dari 116 orang laki-laki dan 26 orang perempuan. Dan berasal dari Kalbar sebanyak 83 orang, Sulsel 18 orang, Jateng tiga orang, Jabar empat orang, Sulbar empat orang, NTT lima orang, NTB sembilan orang, Sumut satu orang, Sulteng dua orang, Lampung satu orang dan Jatim 12 orang.

Untuk para PMI yang dari Kalbar sebanyak 83 orang ini berasal dari Kubu Raya 10 orang, Landak dua orang, Singkawang tiga orang, Sambas 54 orang, Mempawah tujuh orang, Bengkayang tiga orang, Pontianak dua orang, dan Sanggau dua orang.

Sebelum memasuki wilayah Kalbar, Para PMI ini diperiksa kesehatannya oleh Petugas Karantina Kesehatan Entikong. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan suhu tubuh, pemberian hand sanitizer dan penyemprotan cairan disinfektan ke barang- barang PMI.

“Hasil Pemeriksaan 142 PMI-B dengan alat ukur suhu tubuh tidak ditemukan suhu tubuhnya melebihi batas maksimum. Untuk memastikan hal itu, setibanya datang ke Dinas Sosial Kalbar, para PMI ini juga dilakukan rapid test juga,” ungkapnya. (sms/ien/din)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda