Ponticity post authorKiwi 22 Juli 2021

Impor Oksigen dari Malaysia, Kalbar Kehabisan Oksigen? Warga Minta Penimbun Dihukum Berat

Photo of Impor Oksigen dari Malaysia, Kalbar Kehabisan Oksigen? Warga Minta Penimbun Dihukum Berat

 

PONTIANAK, SP - Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia, membuat kelangkaan tabung oksigen. Sejumlah Rumah Sakit mengaku kesulitan mencari medium penampung oksigen tersebut di tengah tingginya kebutuhan.

Selain itu, penimbunan ini ditengarai ada oknum tak bertanggung jawab yang sengaja melakukan penimbunan. Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Polda Kalbar sendiri, teloah menggerebek sebuah gudang dan toko bangunan yang diduga menjadi tempat penimbunan oksigen di Kabupaten Sanggau.

Dari gudang dan toko bangunan yang berada di Kecamatan Parindu itu, polisi berhasil mengamankan ratusan tabung oksigen.

Polda Kabar, dalam hal ini Satgas Pengawas Oksigen, menggerebek dua tempat penimbunan oksigen di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalbar.

Dua tempat yang digerebek pada Selasa (20/7) itu adalah gudang dan toko bangunan. Penggerebekan itu dibenarkan Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go.

"Dari dua lokasi itu petugas menemukan 497 tabung di TKP gudang dan 56 Tabung di TKP toko bangunan," katanya, pada Rabu (21/7).

Perwira Menengah Polri lulusan Akpol Tahun 1997 yang pernah menjabat sebagai Kapolres Sanggau ini mengungkapkan, total ada 553 tabung yang ditemukan.

Dari jumlah ini, 273 tabung masih berisi oksigen, dan 280 tabung lainnya kosong. Kemudian 273 tabung yang berisi oksigen sudah disalurkan ke rumah sakit di Sanggau.

“Saat ini ada satu orang pemilik yang sedang kita dalami keterlibatannya dalam dugaan kasus penimbunan tabung oksigen ini,” papar Kombes Pol Donny.

Tahap Penyidikan

Sementara itu, penyidikan terhadap kasus dugaan penimbunan tabung oksigen di gudang dan toko bangunan di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, terus berlanjut.

Kombes Pol Donny mengaku pihaknya masih melakukan gelar terhadap kasus tersebut.

“Kasusnya sudag digelar di Polda Kalbar. Hanya, Kami masih belum tahu hasilnya. Kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari penyidik,” kata Kombes Pol Donny.

Dalam kasus tersebut, lanjut Kabid Humas, dua orang sudah diperiksa. Seorang pemilik gudang yang berinisial BM dan seorang lagi yang mengaku penjaga gudang tesebut. Hanya saja satupun belum ditetapkan sebagai tersangka.

“Yang penting kita tangani. Karena keterangan harus ada bukti pendukungnya. Harus dikuatkan dengan bukti-bukti lain. Kita pun untuk mengambil keputusan ataupun menaikkan status harus ada gelar. Kita masih mendalami semua, apakah dia distributor untuk RS, atau tuntuk bengkel,” katanya.

Kabid Humas Polda Kalbar memastikan, bahwa proses hukum tetap berjalan. Prises ini akan diselidiki sesuai dengan ketentuan yang ada dan masih perlu waktu dengan bukti-bukti yang ada.

Perhatian Khusus

Penggerebekan dua lokasi yang diduga menimbun oksigen pada Selasa (20/7) di Parindu, mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Sanggau, Supardi.

Ia sangat menyayangkan ada oknum–oknum yang melalaikan kemanusiaan di tengah Pandemi Covid-19 saat ini.

Terlebih kebutuhan oksigen sangat tinggi. Dirinya mendukung kepolisian untuk mengungkap dugaan kasus tersebut agar ada efek jera bagi pelaku sekaligus shock therapy agar tidak kembali terjadi di kemudian hari.

“Kok bisa–bisanya, dalam kondisi seperti ini, kebutuhan oksigen sedang tinggi, malah dimainkan oleh oknum-oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya. Sementara, banyak nyawa yang terancam bila persediaan oksigen tidak ada. Terlebih yang di rumah sakit,” kesal Supardi, Rabu (21/7).

Ia tegas-tegas mendukung adanya tindakan hukum bila benar terbukti kesengajaan dalam penimbunan tabung oksigen tersebut.

Temuan kasus tersebut harus dikawal agar tidak ada lagi yang berani-berani memainkan kondisi pandemi untuk keuntungan pribadinya semata.

“Pastinya, selaku wakil rakyat, saya meminta kepolisian untuk menuntaskan kasus ini. Kalau memang terbukti, lakukan penegakan hukum. Jangan sampai setelah korban berjatuhan baru nanti kalang kabut. Saya kira ini tamparan keras bagi daerah ini. Mudah-mudahan, jangan sampai terulang lagi kasus serupa,” tegasnya.

Warga Khawatir

Salah satu masyarakat, Zulfikri mengatakan memang beberapa waktu terakhir mengalami kesulitan dalam mencari oksigen di Kota Pontianak. Dirinya harus mengantri dalam waktu yang cukup lama untuk bisa mendapatkan oksigen. Bahkan pada beberapa tempat oksigen sudah habis.

"Memang agak susah buat dapat oksigen, saya saja sudah pergi ke beberapa tempat tapi kosong, ada tapi harus mengantri," ucap Zulfikri.

Merespon adanya tindakan penimbunan oksigen yang dilakukan oleh oknum tertentu menurutnya hal tersebut tidak pantas dilakukan di saat kondisi sekarang.

Karena pada saat sekarang banyak masyarakat yang sangat membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidup.

"Mereka yang menimbun ini harus dihukum biar bila perlu mereka bisa merasakan sulitnya mencari oksigen," katanya.

Warga lainnya, Ibrahim juga sangat menyayangkan tindakan penimbunan oksigen yang dilakukan ditengah pandemi Covid-19 saat sekarang. Pasalnya menurutnya saat ini banyak masyarakat yang sangat membutuhkan oksigen tersebut sampai rela harus mengantri.

Dirinya meminta pihak berwajib memberikan hukuman yang seberat-beratnya atas tindakan penimbunan oksigen yang dilakukan. Bila perlu diberikan sanksi dengan pasal berlapis dikaitkan dengan ekonomi dan kesehatan.

"Karena ini menyangkut nyawa orang banyak. Penimbunan oksigen yang dilakukan disaat kondisi seperti ini adalah perbuatan yang biadab dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan," kata Ibrahim.

Jumat Normal

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengatakan dalam sehari, saat ini kebutuhan oksigen di seluruh Provinsi Kalbar sekitar 3.000 tabung. Menurutnya berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen di Provinsi Kalbar. Di antaranya dengan mendatangkan oksigen dari Batam dan Malaysia.

"Untuk oksigen hari ini sampai di pelabuhan dua ISO tank untuk 4.000 tabung. Hari ini juga kita minta untuk produk dan malam hari bisa di distribusikan ke daerah-daerah," kata Gubernur Kalbar Sutarmidji.

Ia menambahkan untuk oksigen yang dibeli dari Batam sebanyak 800 tabung dan satu ISO tank sekitar untuk 2.000 tabung diperkirakan datang pada Jumat (23/7).

Lalu untuk oksigen dari Malaysia saya sudah surati Menteri Besar Sarawak beliau. Jika lancar urusan di perkirakan datang pada Jumat (23/7).

"Jumlahnya kalau bisa tiga ISO tank berarti sekitar 6.000 tabung, sehingga mulai Jumat, saya rasa sudah normal," tuturnya.

Midji menyebutkan permasalahan oksigen sebenarnya tergantung manajemen rumah sakit. Di beberapa daerah seperti Kabupaten Sambas memang sempat terjadi kekosongan. Sehingga seharusnya Kepala Daerah bisa mengantisipasi dan menjaga pasokan oksigen.

Ia menyampaikan upaya untuk menjaga ketersediaan oksigen di rumah sakit harus dilakukan kepala daerah. Seperti halnya yang dilakukannya pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso. Dirinya langsung melakukan kontrol terhadap ketersediaan oksigen pada rumah sakit tersebut.

"Masalah oksigen sebetulnya tergantung pada manajemen rumah sakit. Kenapa RSUD dr Soedarso bisa aman karena mereka menjaga hubungan dengan pemasok oksigen," katanya.

"Contohnya kemarin ditemukan 500 tabung di Kabupaten Sanggau, kemudian saya suruh langsung di distribusikan ke Kabupaten Sekadau, Kapuas Hulu," paparnya.

Distributor Tersendat

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kalbar, Harisson mengatakan dalam upaya menjaga ketersediaan oksigen saat ini pemerintah Provinsi Kalbar mendukung beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan oksigen untuk impor oksigen di Kuching Malaysia.

Meskipun proses ini tidak mudah karena menyangkut perdagangan antar negara.

"Untuk mempermudah itu Gubernur Kalbar sudah menyurati Ketua Menteri Sarawak untuk meminta izin. Kita juga dibantu oleh Konjen RI di Kuching untuk berkomunikasi dengan Ketua Menteri Serawak," ucapnya.

Ia menambahkan pemerintah Provinsi Kalbar juga melakukan koordinasi dengan Kanwil Bea Cukai dan Kanwil Kemenkum HAM dalam hal ini Imigrasi Kelas I TPI Pontianak.

Berdasarkan informasi terakhir Ketua Menteri sudah memberikan persetujuan namun tinggal administrasi dibawahnya.

Dirinya menyebutkan pemerintah Sarawak juga harus harus melakukan penghitungan kebutuhan oksigen mereka. Kalau lebih maka akan dijual ke Indonesia.

Untuk mendukung proses impor oksigen tersebut maka Pemprov Kalbar melakukan pendekatan dan meminta izin kepada Ketua Menteri Serawak di Kuching.

"Sebenarnya mobil yang membawa ISO Tank perusahaan oksigen di Kalbar sudah ada di Entikong tinggal proses administrasi saja," sebut Harisson.

Dikatakannya seluruh urusan administrasi sudah dikerjakan. Akan tetapi karena bertepatan dengan Sarawak Day pada Kamis (22/7) maka baru akan aktif pada Jumat (23/9). Diharapkan karena alasan kemanusiaan proses tersebut tetap bisa dilakukan meskipun libur.

"Mudahan dengan alasan kemanusiaan walaupun mereka sedang libur masih bisa melakukan proses segala bentuk administrasi yang diperlukan dan langsung membawa ISO Tank yang telah siap di Entikong," ungkapnya.

Harisson menjelaskan proses impor oksigen dari Malaysia memang cukup rumit karena antar negara. Namun jika bisa dan lancar maka pasokan oksigen untuk Kalbar akan kembali normal.

Terlebih saat ini oksigen dari pulau Jawa tidak bisa terlalu diharapkan. Karena adanya peningkatan kasus hingga empat kali lipat dari biasanya di Pulau Jawa.

"Hal ini menyebabkan pasokan berkurang karena mereka mengutamakan pasokan ke RS Jawa dan Bali," jelasnya.

Harisson menyebutkan dalam upaya memastikan ketersediaan oksigen di Kalbar.

Pemerintah Provinsi Kalbar juga mendukung perusahaan untuk melakukan pengisian ISO Tank di Batam. Saat ini ISO Tank tersebut tengah berlayar dari Jakarta menuju Pontianak.

"Hari ini ada dua ISO Tank yang dibawa kapal Icon Bravo sore nanti akan merapat di Dermaga Icon Bravo. Gubernur sudah perintahkan untuk langsung kerja masukan ke dalam tabung dengan kapasitas 4000 sampai 5000 tabung besar untuk dipindahkan ke tabung oksigen yang akan didistribusikan ke rumah sakit yang membutuhkan," katanya.

Harisson juga mengatakan, merasa tidak bisa berharap dengan pasokan oksigen dari Pulau Jawa. Pasalnya, saat ini sejumlah rumah sakit di Pulau Jawa mengalami peningkatan pasien tiga sampai empat kali lipat dari sebelumnya.

“Sehingga prioritasnya di Jawa dan Jali, sehingga kita tidak boleh berharap terlalu banyak,” kata Harisson.

Maka dari itu, Pemprov Kalbar mengimpor oksigen dari Serawak, Malaysia. Impor oksigen tersebut untuk mendukung pasokan dalam penanganan pasien Covid-19.

Namun proses tersebut tidak mudah, karena menyangkut perdagangan antar negara, sehingga Pemprov Kalbar menyurati Ketua Menteri Serawak, Malaysia, untuk meminta izin.

“Pemprov Kalbar mendukung beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan oksigen untuk mengimpor oksigen dari Kuching, Malaysia,” kata Harisson.

Harisson mengklaim, Ketua Menteri Serawak telah menyetujui upaya tersebut. Hanya sekarang, masih menghitung kebutuhan oksigen di Malaysia.

“Sebenarnya ketua menteri setuju, tinggal administrasi di bawahnya, mereka harus melakukan penghitungan berapa oksigen yang diperlukan. Jika lebih, itu yang dijual,” ucap Harisson.

Harisson berharap, dalam dekat proses administrasi tersebut selesai, karena mobil-mobil yang akan mengangkut oksigen tersebut sudah disiagakan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar.

“Kita juga dibantu oleh Konjen RI di Kuching, kemudian untuk di Kalbar berkoordinasi dengan Kanwil Bea Cukai dan Imigrasi,” jelas Harisson.

Jangan Panik

Sekertaris Komisi V DPRD Kalbar, Sudiantono mengimbau masyarakat Kalbar tidak panik terkait kabar kelangkaan oksigen untuk keperluan pengobatan pasien Covid-19.

"Saya harap masyarakat tidak panik, jangan ikut-ikut membeli jika belum perlu, biarlah oksigen kita prioritaskan kepada pasien yang memang sangat memerlukan," katanya kepada Suara Pemred, Kamis (22/7).

Legislator Partai Nasdem ini mengakui memang saat ini suplai oksigen ke Kalbar terbatas. Tapi saat ini, kata dia, sudah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) pengawasan oksigen dan obat Covid-19 yang diketuai Wadir Intel Polda Kalbar, AKBP Munizar.

"Satgas akan membantu dan mengawasi, mulai dari proses pengadaan dan ketersedian serta distribusi ke rumah sakit, sampai dengan harganya yang wajar. Karna itu suplai oksigen dibagi, tapi intinya tetap diupayakan agar semua rumah sakit tersuplai dengan baik, begitu juga utuk keperluan masyarakat yang melakukan isoman," sebut anggota dewan dari daerah pemilihan Singkawang-Bengkayang ini.

"Termasuk juga yayasan atau perkumpulan membantu memberikan pinjaman oksigen secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan, dalam artian isoman yang membutuhkan, saya mohon kesabarannya, sementara kita seadanya dulu, tapi intinya kita semua peduli dan sedang mengupayakan solusi secepatnya," sambungnya.

Kelangkaan oksigen saat ini, menurut dirinya, selain diakibatkan meningkatnya kebutuhan, juga diakibatkan minimnya supplai oksigen dari pulau Jawa, tapi saat ini juga sedang diupayakan suplai dari Batam dan juga sedang dalam proses negosiasi untuk dapat suplai dari wilayah Kuching, Malaysia.

"Kalau semua berjalan lancar, kita harapkan awal bulan nanti suplai sudah normal kembali. Mari kita dukung dan doakan agar Satgas dan kawan-kawan distributor oksigen di kalbar diberikan Tuhan kemampuan utuk mengatasi permasalah ini," pungkasnya.

DPRD Labrak RSUD Sambas

BUNTUT dari pengumuman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sambas yang menyatakan, tidak bisa menerima pasien Covid-19 dan pasien dengan penyakit sesak napas yang diperlukan terapi oksigen dikarenakan stok oksigen yang habis.

Anggota DPRD Kabupaten Sambas pun melaksanakan inspeksi mendadak ke RSUD Sambas, Kamis (22/7).

Para wakil rakyat yang melakukan sidak tersebut di antaranya, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Sambas, Lerry Kurniawan Figo, Sekretaris Komisi 1 Bagus Setiadi, Yakob Pujana dari Komisi 3 dan Hendro anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Sambas.

Mereka kemudian mengecek ketersediaan stok oksigen di Rumah Sakit milik pemerintah tersebut, hasilnya didapati hanya terdapat dua tabung oksigen terisi yang ada di RSUD Sambas.

Dikatakan Sekretaris Komisi 1 DPRD Kabupaten Sambas, Bagus Setiadi, tindakan RSUD Sambas dengan mengeluarkan pengumuman tersebut telah menimbulkan keresahan masyarakat.

"Kondisi Kabupaten Sambas pada hari ini masyarakat sangat resah dengan kondisi covid-19, ditambah dengan adanya pengumuman yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit, kami nilai itu malah menambah keresahan masyarakat," tegasnya.

Ditekankan Bagus Setiadi, langkah yang diambil pihak RSUD Sambas menggambarkan begitu lemahnya koordinasi dan upaya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Sambas.

"Karena RSUD Sambas pada hari ini ibarat orang tua bagi masyarakat kita yang sakit, tidak mungkin masyarakat mau berobat keluar daerah sementara disana juga kondisinya sama-sama kesulitan," katanya.

Menurut Bagus Setiadi, semestinya pihak Rumah Sakit tidak menyerah pada keadaan dan melakukan upaya untuk mengatasi ketiadaan stok oksigen tersebut

"Dengan adanya surat pengumuman kemarin masyarakat sangat sangat resah, dan saya sangat menyesalkan tindakan rumah sakit yang seperti itu, bukankah lebih baik kita bersama-sama, anggota DPRD, Rumah Sakit, Satgas Covid-19, kepolisian untuk mencari upaya mengatasi kekosongan stok oksigen," kata Bagus.

"Bukan malah mengeluarkan pengumuman tidak bisa menerima pasien, yang mana membuat potensi keresahan yang lebih besar di masyarakat," cecarnya.

"Saya tidak mau ini terulang kembali dimasa datang dan kita harus mencari solusinya," sambungnya.

Ditegaskan Bagus, sangat penting bagaimana ketersediaan oksigen harus ada dan ini adalah mutlak, apalagi menurut dia, di Kabupaten Sambas masyarakat masih akan tetap turun ke jalan, berjualan dan bekerja untuk mencari nafkah.

"Paling tidak, pada kondisi Sambas yang seperti ini kita harus bisa memberikan rasa aman, bukan dengan memberikan kabar yang meresahkan, kalau pemerintah sedang susah jangan diceritakan," ujar Bagus.

"Semuanya harus memberi solusi, agar masyarakat tidak turut susah, mereka harus merasa aman dan nyaman dan kita lah yang sama-sama memikirkan dan mencari solusi bagaimana mengatasinya, bukan dengan pasrah dan menyerah," tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Sambas, Lerry Kurniawan Figo mengatakan mereka datang untuk mengkonfirmasi surat yang di keluarkan oleh RSUD Sambas sore kemarin.

"Kita datang untuk mendengarkan penjelasan dari pihak rumah sakit untuk pengumuman yang dibuat kemarin sore, meskipun tadi sudah dikeluarkan pengumuman terbaru jika sudah bisa menerima pasien lagi di RSUD Sambas," ujarnya.

Selain itu kata dia, mereka juga bertanya mengenai ketersediaan oksigen di RSUD Sambas. Menurutnya, dari beberapa informasi yang mereka terima jika kelangkaan oksigen itu sudah teratasi.

Namun demikian, kata dia saat di cek ketersediaannya di UGD RSUD Sambas ketersediaannya hanya tersisa dua tabung.

"Apakah betul informasi yang kami terima kalau sudah ada tambahan oksigen, karena tadi kami cek di UGD, oksigen hanya sisa dua tabung," tuturnya.

"Ini untuk kita cari solusi bersama, apalagi ini menyangkut pelayanan kesehatan kita kepada masyarakat," tutupnya.

Direktur RSUD Sambas, drg Gusmadi MPH meminta maaf perihal keluarnya surat pengumuman tentang RSUD Sambas tidak lagi menerima rujukan pasien Covid-19 dan rujukan pasien dengan keluhan sesak nafas atau perlu terapi oksigen karena ketersediaan oksigen di RSUD Sambas habis.

Kata dia, sebetulnya pengumuman itu tidak bermaksud untuk menolak semua pasien untuk datang berobat ke RSUD Sambas.

Tapi kata dia, dikhususkan kepada pasien rujukan Covid-19 atau yang memiliki masalah pernafasan karena memang kondisinya di RSUD Sambas stok oksigen kemarin sempat kosong.

"Dari hasil rapat kita itu sebenarnya kita putuskan tidak lagi menerima rujukan itu hanya lisan. Tapi memang ada usulan dan saya tandatangani lalu kemudian menyebar, tapi untuk hari ini kita sudah buka kembali," ungkapnya.

"Dan untuk pengumuman itu sebenarnya adalah untuk pasien rujukan Covid-19. Tapi untuk layanan kepada masyarakat tetap berjalan. Karena memang untuk masalah kelangkaan oksigen itu bukan rahasia lagi," dr Gusmadi.

Untuk itu kata dia, dirinya selaku Direktur dan seluruh karyawan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang disebabkan oleh pengumuman kemarin.

"Kita memohon maaf, walaupun memang pulihnya agak lama. Tapi walau bagaimanapun ini sudah terjadi," ungkapnya.

Lebih lanjut Gusmadi menanggapi usulan dari anggota DPRD Kabupaten Sambas yang meminta agar pihak RSUD bisa lebih cepat menyiapkan oksigen untuk menolong banyak masyarakat yang memerlukan oksigen.

Usulan DPRD agar RSUD yang ada di Sambas baik itu RSUD Sambas maupun Pemangkat agar bisa menyiapkan oksigen portable hingga oksigen konsentrator di setiap rumah sakit. Bahkan kalau bisa mesin isi ulang oksigen itu di adakan di setiap RSUD.

"Mesin kita memang ada untuk isi ulang oksigen, tapi memang kondisinya sedang rusak dan sudah cukup lama. Dan mudah-mudahan nanti bisa kita perbaiki," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr Fattah Mariyunani mengatakan kiriman oksigen dari provinsi masih belum memenuhi kebutuhan Kabupaten Sambas.

"Kabar terupdate hari ini cuma datang 60 tabung, ini masih jauh dari kebutuhan sehari Kabupaten Sambas yang diperkirakan 125 tabung sehari," ungkapnya.

Pihaknya kata dr Fattah telah mengajukan penyediaan oksigen kepada pemerintah provinsi seraya berharap agar pada hari jumat bisa terpenuhi.

"Kita ajukan kebutuhan sehari 125 tabung, moga besok (hari ini) ada pasokan lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Sambas, H. Satono, telah mengambil langkah cepat mengatasi mulai menipisnya ketersediaan oksigen di Rumah Sakit.

Hal ini diharapkan bisa menenangkan masyarakat Kabupaten Sambas yang sempat resah dikarenakan RSUD Sambas memasang pengumuman bahwa stok oksigen mereka telah habis.

"Kita langsung mengantisipasi hal ini, masyarakat harap tenang karena terkait ketersediaan stok oksigen di Rumah Sakit di Sambas telah diatasi," ungkap Bupati, Rabu (21/7).

Bupati juga memastikan pada hari kamis (22/7) Rumah Sakit akan mendapatkan tambahan stok oksigen, sehingga semua pasien bisa diberikan pelayanan terbaik.

"Karena saya sudah menghubungi Gubernur Kalbar bapak Sutarmidji dan meminta agar segera dibantu stok oksigen tersebut, beliau menyanggupi dan Alhamdulillah besok (hari ini) kita mendapatkan kiriman oksigen dari pemerintah provinsi untuk seluruh Rumah Sakit di Kabupaten Sambas," beber Satono.

Pemprov Kalbar, kata Bupati juga akan kembali menambah stok oksigen untuk Rumah Sakit di Kabupaten Sambas pada hari jumat.

"Setelah hari kamis, juga akan ditambah lagi stok tersebut pada hari jumat oleh pemerintah provinsi, selain itu kita juga mendapatkan bantuan stok oksigen dari pihak ketiga," jelasnya.

Karenanya Bupati berharap agar masyarakat Sambas tidak panik dan tetap tenang.

"Silakan untuk berobat ke Rumah Sakit, kita juga meminta agar pihak Rumah Sakit untuk tetap memberikan pelayanan prima dan terbaik kepada seluruh warga Kabupaten Sambas," tukasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Sambas, Ahmad Hapsak Setiawan mengatakan, stok oksigen di Rumah Sakit harus diantisipasi sejak awal.

"Harusnya sudah di antisipasi dari awal, dengan meningkatnya kasus positif di daerah lain, Kabupaten Sambas harusnya juga ikut antisipasi dengan memperbanyak stok oksigen apabila kasus positif meningkat," tegasnya.

Tak hanya itu, pihak Rumah Sakit juga diharapkan Hapsak untuk menambah ruang bagi pasien Covid-19.

"Selain diusahakan penambahan stok cadangan oksigen, harus juga di tambah ruangan dan tempat tidur untuk pasien covid yang bergejala berat, menutup pelayanan rumah sakit bukan solusi yang bijak," ujar Politisi PPP tersebut. (noi/din/lwu/jul/jee)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda