Ponticity post authorKiwi 24 November 2022

Gubernur Kesal Pelayanan di RSUD Soedarso Tak Ramah, Petugas Banyak Main Handphone dan Judes

Photo of Gubernur Kesal Pelayanan di RSUD Soedarso Tak Ramah, Petugas Banyak Main Handphone dan Judes Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso. net

PONTIANAK, SP - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soedarso kini memasuki usia 46 tahun sejak didirkan pada 24 November 1976 lalu. Dalam usia hampir setengah abad, rumah sakit milik Pemprov Kalbar itu masih berkutat pada masalah pelayanan. Keluhan akan pelayanan tidak ramah acapkali muncul dari masyarakat yang menggunakan fasilitas kesehatan milik pemerintah tersebut.

Kegeraman akan pelayanan RSUD dr Soedarso juga diungkapkan Gubenur Kalbar, Sutarmidji. Ia merasa geram akan pelayanan tidak ramah para perawat dan tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soedarso. Hal tersebut dikatakan Sutarmidji saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Ulang Tahun RSUD dr Soedarso ke-46, Kamis (24/11).

Saya banyak menerima keluhan pasien dan keluarga pasien, sebetulnya hal sepele, karena kurang kepedulian dan cekatan, ketika orang dibawa ke rumah sakit dalam kondisi apapun terutama yang di IGD harus cekatan semuanya, harus disentuh dalam arti dilayani," ungkap Sutarmidji.

Ia meminta pelayanan RSUD dr Soedarso, terutama pada IGD harus dengan hati. Pasalnya, layanan dan sentuhan terbaik yang diberikan rumah sakit merupakan awal dari jalan menuju kondisi perbaikan bagi pasien. Namun jika pelayanan tidak baik justru akan sulit untuk mencapai kemajuan pada pasien.

"Saya minta perawat dan tenaga medis yang masih judes-judes keluarkan dari situ (IGD), jangan di IGD, tidak usah memberikan pelayanan," ungkapnya.

Gubernur juga menyoroti perihal tenaga kesehatan pada IGD RSUD dr Soedaro yang banyak main telpon genggam (handphone) saat bertugas, terutama pada malam hari. Ia mewanti-wanti hal tersebut tidak terjadi lagi. Sutarmidji bahkan mengultimatum dalam seminggu ke depan permasalahan tersebut harus terseleaikan.

"Kalau sudah malam lebih banyak yang main handphone, kalau sebentar saya paham, tetapi kalau sampai 15 menit hingga setengah jam ketawa-ketawa, nanti keluarga pasien datang di situ (IGD) lapor (lalu) diam saja, itu jangan sampai lagi kalau mau rumah sakit ini maju," tegas Sutarmidji.

Selain itu menurutnya, pasien yang datang ke RSUD dr Soedarso terutama pada IGD jangan sampai dibiarkan menunggu tanpa kejelasan, karenanya perlu ada tempat tidur cadangan di IGD yang bisa digunakan pasien yang datang. Kemudian jika dokter kurang, maka hal tersebut harus segera ditambah.

"Masyarakat kita tidak muluk-muluk, mereka disentuh saja, dalam artian peduli, sudah senang. Layanan terbaik yang diberikan itu obat yang melebihi obat paten manapun untuk semua penyakit," jelasnya.

Sutarmidji mengungkapkan, ia tidak merasa bangga ketika pendapatan RSUD dr Soedarso surplus. Tetapi pada sisi lain, masyarakat masih mengeluhkan pelayanan yang didapat. Maka yang harus ditanamkan bahwa pelayanan rumah sakit merupakan pengabdian sosial dan kemanusiaan bukan untung rugi.

"Saya minta pelayanan semakin baik, saya yakin itu bisa apapun yang sulit bisa dikerjakan kalau bersama. Bertekad semuanya harus memberikan pelayanan yang terbaik tanpa keluhan," jelasnya.

Manajemen rumah sakit juga dimintanya melakukan perbaikan pelayanan ke masyarakat. Sutarmidji mengibaratkan pasien yang datang dalam keadaan meringis. Maka saat pulang dari RSUD dr Soedarso pasien harus dalam keadaan tersenyum.

Pelayanan yang diberikan ke masyarakat harus selalu ramah dan penuh senyuman. Kesan yang diberikan ke masyarakat menurutnya harus bagus, karena ada jenis penyakit tertentu ketika emosional pasien tinggi maka akan berdampak pada sakit yang semakin parah.

"Tempatkan orang yang tidak emosional ketika menerima pelayanan, loket jangan sampai ada yang antri semuanya termasuk yang pendaftaran secara online, jangan ada hal yang kecil tetapi bikin masalah," ungkapnya.

"Saya optimis rumah sakit ini akan memberikan layanan yang terbaik dan bukan hanya menjadi rujukan tetapi menjadi contoh pelayanan rumah sakit minimal seluruh Kalbar," tambahnya.

Dewas Saran Manajemen RSUD Belajar ke BCA

Ditempat yang sama, Ketua Dewan Pengawas (Dewas) RSUD dr Soedarso, Harisson meminta pelayanan rumah sakit harus cepat dan ramah. Ia juga menyarankan agar RSUD dr Soedarso untuk dapat belajar ke Bank Central Asia (BCA) dalam memberikan pelayan ke masyarakat.

"Saya sudah minta RSUD Sudarso untuk belajar ke Bank BCA. Di situ ada customer service dan satpam yang melayani nasabah dengan sangat baik," ungkap Harisson.

"Lihat bagaimana satpam (BCA) menyapa, bagaimana costumer servis (BCA) menyapa, dan itu sudah dilakukan," tambahnya.

Harisson berharap dengan upaya tersebut akan menularkan pelayanan ke RSUD dr Seodarso yang semakin baik. Sejalan dengan arahan Gubernur Kalbar agar pelayanan semakin ramah dan cepat. Menurutnya sentuhan simpati dan kepedulian harus ditunjukkan dalam pelayanan ke masyarakat.

"Masyarakat harus dilayani dengan ramah, kepedulian simpati, palayanan cepat, sentuhan itu yang diharapkan dapat membawa peningkatan mutu layanan di RSUD dr Soedarso," katanya.

Harisson menyebutkan fasilitas RSUD dr Soedarso yang telah dibangun Gubernur Kalbar juga harus sejalan dengan peningkatan pelayanan. Sehingga ke depan pasien-pasien diharapkan tidak pergi ke luar negeri atau ke Jakarta untuk berobat. Karena semua fasilitas-fasilitas telah disediakan di RSUD dr Soedarso.

"Tugas kita dewan pengawas, direktur itu tadi untuk peningkatan mutu layanan, bagaimana kita meningkatkan sentuhan ke pasien. Fasilitas kan sudah dibangun," jelasnya.

Minimalisir Komplain

Sementara itu, Direktur Utama RSUD dr Soedarso, Yuliastuti Saripawan berkomitmen terus meningkatkan pelayanan untuk meminimalisir komplain-komplain dari masyarakat. Khususnya pada pelayanan IGD dan mensosialisasikan ke masyarakat pasien-pasien yang harus masuk layanan tersebut.

"Rumah sakit juga melakukan evaluasi setiap enam bulan sekali melalui indeks kepuasan masyarakat," ungkap Yuliastuti.

Ia menyebut RSUD dr Soedarso terbuka akan setiap komplain dari masyarakat. Komplain tersebut menurutnya dapat disalurkan melalui website, whatsapp dan langsung pada tempat-tempat yang telah disediakan. Bahkan menurutnya RSUD dr Soedarso bahkan menjadi pemenang dalam keterbukaan pelayanan publik.

"Kita juga sudah melakukan pelatihan komunikasi efektif untuk seluruh perawat dan tenaga-tenaga yang lain secara bertahap. Kita ada pekan senyum, sapa, salam," tutupnya. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda