Ponticity post authorKiwi 30 Juni 2020 5,577

Pontianak Marak Prostitusi Anak di Bawah Umur

Photo of Pontianak Marak Prostitusi Anak di Bawah Umur Ilustrasi

PONTIANAK, SP – Kasus prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Pontianak kian marak. Angka kasus justru meningkat di tengah pandemi Covid-19. Transaksi ‘esek-esek’ terjadi di hotel kelas melati hingga hotel berbintang di kota yang berpredikat Kota Ramah Anak (KLA) ini.

Beberapa waktu lalu, Suara Pemred mewawancarai salah seorang pelaku yang juga menjadi korban prostitusi anak ini. Sebut saja inisialnya CI (15), seorang pelajar yang baru saja naik kelas dua di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Pontianak.

Menurut pengakuannya, dia sudah terbiasa dengan praktik tersebut. Aktivitas itu sudah dilakukannya bahkan sejak dia tamat Sekolah Dasar (SD), atau tiga tahun yang lalu. Bahkan di bulan Juni 2020 ini saja aktivitas prostitusi tersebut sudah lebih dari 10 kali dilakukannya.

Ketertarikannya masuk dalam dunia gelap ini, kata dia berawal dari tawaran pekerjaan oleh seseorang yang ia kenal dari media sosial Me-Chat.

"Kau mau duit banyak tak? Maulah," kata CI sambil mengingat tawaran seseorang itu terhadap dirinya.

Meski lahir dari keluarga yang terbilang cukup mampu, namun CI tanpa ragu menerima tawaran tersebut. Secara diam-diam, CI mulai keluar rumah dan mendapatkan 'tamu' pertamanya yang usianya jauh lebih tua dari dirinya.

"Tak pernah yang seumuran. Semua sudah tua-tua. Umur 30 an, 40 an gitulah," ungkapnya.

Meski sempat takut, namun sejak itu CI mulai tergiur dari pendapatan yang ia hasilkan. Dalam semalam, ia bisa menerima 'tamu' dua bahkan sampai tiga orang. Setiap transaksi, tarif yang dipatoknya berkisar Rp600 ribu hingga Rp800 ribu. Uang ini di luar biaya sewa kamar dan aktivitas ini hampir setiap malam dilakukannya. 

Praktik ini sebetulnya tidak langsung melalui CI. Dia hanya menerima 'tamu' yang sudah dipesankan melalui orang ketiga atau germo bernama Eko. Sebagai imbalannya, setiap satu 'tamu' yang didapat maka germo ini diberi uang sebesar Rp100 ribu oleh CI.

"Yang dia ini (germo) bukan seumuran. Dia udah tua. Duda anak satu," jelasnya.

Memegang uang dengan jumlah yang banyak seusianya, sudah tentu menimbulkan pertanyaan bagi orangtua CI sendiri. Apalagi dalam keluarga, CI diketahui hanya pelajar yang tidak memiliki keterampilan apapun untuk menghasilkan uang. Setiap kali ditanya, CI selalu beralasan uang tersebut ia dapatkan dari pacarnya.

"Jadi kalau ditanya (orangtua) jawab jak dikasi cowok (pacar). Biasanya duitnya dibelikan baju, make up, makan," katanya.

Menurut CI, dirinya bukanlah satu-satunya pelajar yang melakukan prostitusi online ini. Temannya yang lain, baik satu sekolah maupun di sekolah yang lain banyak yang melakukan hal sama. Bahkan jumlahnya mencapai belasan orang.

Tarifnya pun sama. Biasanya mereka sendiri yang memesan kamar dengan cara patungan. Sekali boking, bisa dua bahkan tiga kamar. Satu kamar digunakan untuk berkumpul. Sementara dua lainnya secara bergantian digunakan untuk menerima 'tamu'.

"Jadi kalau ada kawan dapat tamu, pakai kamar itu. Kami yang lain nunggu di kamar satunya," kata dia.

Celakanya, aktivitas ini tidak hanya sebatas prostitusi, namun juga menggunakan obat-obatan terlarang. Pil ekstasi kerap menjadi bahan konsumsi. Barang haram tersebut mereka dapatkan dari sesorang yang tinggal di wilayah kampung Beting, Pontianak Timur.

Sekali beli, biasanya mereka hanya mampu mendapatkan 3 atau 4 pil saja dengan harga Rp200 ribu per butirnya. Setiap satu butir dipotong menjadi dua dan digunakan untuk dua orang.

Kondisi ini pun sudah tentu berdampak pada kesehatan. Korban berinisial CI beberapa waktu lalu divonis mengidap penyakit sefilis. Selama dua minggu CI tak bisa beraktivitas setelah dibawa berobat ke dokter dan dirawat mandiri di rumah. Celakanya, kondisi ini tak membuat CI jera. Baru saja sembuh, ia kembali menerima tamu lagi.

Pada kasus yang lain, CI bercerita bahwa teman seumuran dirinya pernah menggugurkan calon bayi dari aktivitas prostitusi ini. Tak menggunakan pertolongan peralatan atau tenaga media, upaya aborsi itu hanya mengandalkan jamu yang dijual bebas di apotek.

Selain CI, Suara Pemred juga bertemu dengan pelajar lain berinisial SA (13). Namun cerita masuk ke dunia hitam ini sedikit berbeda dengan CI. Menurut pengakuan SA, dia mulai masuk ke dunia prostitusi sejak di bangku kelas 1 SMP pada 2019 lalu. Namun, hal ini bukan atas kemauan dirinya, melainkan dijebak oleh teman sebayanya.

Saat itu SA baru saja pulang sekolah. Oleh temannya, ia diminta untuk menunggu di depan gerbang sekolah dan akan dijemput. Tak lama, sebuah mobil yang di dalamnya ada temannya dan seseorang bernama Budi. Menurut pengakuan SA, Budi adalah seorang pensiunan PNS di Kota Pontianak.

"Kamek tu diajak sama dia (temannya). Katanya mau beli baju, tapi ternyata dibawa ke hotel (salah satu hotel di Pontianak)," katanya.

Di hotel, SA dipaksa oleh temannya untuk melayani Budi. Sempat berontak, namun usahanya gagal. Kamar tersebut dikunci dan ia diminta melepaskan seluruh pakaiannya. SA mendapat ancaman jika tidak menuruti kemauan itu.

"Kamek (saya) dipaksa. Kalau tak mau kamek diancam," katanya.

Usai memenuhi kemauan Budi tersebut, SA diberi uang sebesar Rp200 ribu. Begitu juga dengan temannya. Kata SA, dirinya bukan satu-satunya orang yang pernah dijebak. Menurut perkiraannya ada tiga orang lagi yang juga ia kenal.

Dunia prostitusi yang melibatkan pelajar ini sebetulnya bermuara pada pengawasan yang kurang diperhatikan oleh banyak pihak, bahkan cendrung abai. Terutama bagi pihak hotel.

Meskipun hotel-hotel di Pontianak memberlakukan penggunaan KTP untuk check in kamar, namun pengawasan keluar masuk di hotel tersebut justru tidak diperketat. Bahkan ada beberapa pihak hotel yang justru memfasilitasi dunia prostitusi ini demi keuntungan pribadi.

Berdasarkan hasil penelusuran Suara Pemred, karyawan di beberapa hotel di Kota Pontianak menyediakan jasa untuk  mendapatkan layanan tersebut. Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, di hotel hal-hal semacam itu sudah menjadi rahasia umum. Karyawan yang menjabat sebagai public area atau losmen terlebih security adalah orang yang biasanya menyediakan jasa bagi tamu hotel.

“Jadi kalau security sama public area atau losmen itu banyak menyimpan nomor-nomornya. Soalnya mereka kan bisa kemana-mana, beda dengan resepsionis. Biasanya kalau ada tamu hotel yang datang, mereka minta carikan, ya kita pesanlah,” ungkapnya.

Tak hanya orang dewasa, mereka juga menyediakan anak-anak yang masih di bawah umur. Saat tamu datang dan memesan, maka mereka akan mengontak perempuan ini untuk membuat janji.

Jika kedua pihak setuju, maka si pemesan akan memberitahu di kamar berapa tamu itu menginap. Dan dengan itu mereka juga akan mendapatkan ‘uang rokok’ sebagai sebutan imbalan mereka.

“Kalau harganya Rp800 ribu, ya biasa kita minta Rp200 ribu,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, jika terdapat rajia di tempat-tempat hiburan, baik oleh kepolisian maupun gabungan, maka karyawan-karyawan ini saling kerja sama untuk memberitahu kepada si tamu.

“Kalau security tahu nih ada rajia, dia bakalan manggil yang public area. Atau menghubungi si perempuan itu,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda