Ponticity post authorBob 30 Juni 2020 111

Wali Kota Minta Masyarakat Laporkan Jika Ada Praktik Protistusi di Hotel

Photo of Wali Kota Minta Masyarakat Laporkan Jika Ada Praktik Protistusi di Hotel Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono

PONTIANAK, SP - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan pihaknya selama ini selalu rutin melakukan pengawasan terhadap hotel-hotel yang ada di Kota Pontianak. Dia meminta masyarakat turut membantu dalam memberikan informasi jika menemukan praktik protistusi.

"Kalau ada laporan dari wartawan misalnya di hotel ini ada kejadian ini, kita langsung turun," tegas Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono pada Selasa (30/6).

Ia menambahkan, Pemkot Pontianak juga memerlukan laporan dari masyarakat. Sehingga jika masyarakat memiliki informasi sebaiknya disampaikan kepada pemerintah.

Edi menyebutkan, dengan keterbatasan petugas yang ada sehingga mengalami kesulitan jika harus turun serentak pada seluruh wilayah Kota Pontianak. Namun menurutnya jika memang terbukti terjadi pelanggaran maka akan diberikan sanksi.

"Kita juga perlu laporan dari masyarakat, jika itu terbukti pelanggaran akan ada sanksi," tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, kasus prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Pontianak kian marak. Angka kasus justru meningkat di tengah pandemi Covid-19. Transaksi ‘esek-esek’ kerap terjadi di hotel kelas melati hingga hotel berbintang di kota yang berpredikat Kota Ramah Anak (KLA) ini.

Dunia prostitusi yang melibatkan pelajar ini diduga bermuara pada pengawasan yang kurang diperhatikan oleh banyak pihak, bahkan cendrung abai. Terutama bagi pihak hotel. Meskipun hotel-hotel di Pontianak memberlakukan penggunaan KTP untuk check in kamar, namun pengawasan keluar masuk di hotel tersebut justru tidak diperketat.

Bahkan ada beberapa pihak hotel yang justru memfasilitasi dunia prostitusi ini demi keuntungan pribadi. Berdasarkan hasil penelusuran Suara Pemred, karyawan di beberapa hotel di Kota Pontianak menyediakan jasa untuk  mendapatkan layanan tersebut.

Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, di hotel hal-hal semacam itu sudah menjadi rahasia umum. Karyawan yang menjabat sebagai public area atau losmen terlebih security adalah orang yang biasanya menyediakan jasa bagi tamu hotel.

“Jadi kalau security sama public area atau losmen itu banyak menyimpan nomor-nomornya. Soalnya mereka kan bisa kemana-mana, beda dengan resepsionis. Biasanya kalau ada tamu hotel yang datang, mereka minta carikan, ya kita pesanlah,” ungkapnya.

Tak hanya orang dewasa, mereka juga menyediakan anak-anak yang masih di bawah umur. Saat tamu datang dan memesan, maka mereka akan mengontak perempuan ini untuk membuat janji. Jika kedua pihak setuju, maka si pemesan akan memberitahu di kamar berapa tamu itu menginap. Dan dengan itu mereka juga akan mendapatkan ‘uang rokok’ sebagai sebutan imbalan mereka.

“Kalau harganya Rp800 ribu, ya biasa kita minta Rp200 ribu,” ungkapnya.

Tak sampai di situ, jika terdapat rajia di tempat-tempat hiburan, baik oleh kepolisian maupun gabungan, maka karyawan-karyawan ini saling kerja sama untuk memberitahu kepada si tamu.

“Kalau security tahu nih ada rajia, dia bakalan manggil yang public area. Atau menghubungi si perempuan itu,” jelasnya.

Berdasarkan data Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Kalbar, sejak Januari hingga Juni 2020 ini sudah 64 kasus prostitusi yang melibatkan anak yang mereka ditangani. Rata-rata kasus melibatkan pelajar, dengan rincian 62 kasus di tingkat SD, satu kasus di tingkat SMP dan satu di SMA.

Dari data ini, peningkatan yang paling besar justru di tengah pandemi Covid-19 ini. Sejak Maret hingga sekarang saja misalnya, angka kasus yang ditangani YNDN sebanyak 49. Sementara di Januari dan Februari 2020 masing-masing berjumlah 8 dan 7 kasus saja.

“Rata-rata kasus bermula dari mereka (anak-anak) diiming-imingi. Dibelikan baju, diberi uang dan akhirnya tergiur dan mereka mulai main sendiri (mencari ‘tamu’ sendiri),” kata Ketua YNDN, Devi Tiomana.

Angka ini belum termasuk dengan kasus yang ditangani Polresta Pontianak. Berdasarkan data yang disampaikan Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Komarudin, sepanjang tahun 2018 dan 2019 pihaknya telah kasus prostitusi terhadap anak masing-masing sebanyak 37 dan 44 kasus.

Sementara di tahun 2020, per Januari hingga Juni sudah mencapai 12 kasus. Angka-angka ini dibagi menjadi tiga klaster, yakni kekerasan seksual, persetubuhan maupun pencabulan terhadap anak di bawah umur.

“Sebagian kasus ini sudah masuk dalam proses sidik, 9 kasus P21,” kata Komarudin.

Data ini menurut dia sangat memprihatinkan. Fenomena yang berkembang di era digitalisasi, di mana masyarakat lebih mudah mengakses komunikasi, di sisi lain justru menimbulkan dampak buruk.

“Banyak laporan prostitusi online yang kita terima dari masyarakat. Saat ini kami masih mendalami kasus tersebut, terus kita jajaki dan dalami,” katanya.

Dia tidak menyangkal bahwa beberapa hotel di Pontianak turut memfasilitasi kegiatan tersebut. Apalagi dalam keadaan pandemi Covid-19 ini, di mana beberapa tempat hiburan malam ditutup sementara oleh pemerintah. Maka perhotelan menjadi sasaran.

Berangkat dari itu, pihaknya saat ini tengah mengawasi secara ketat perhotelan di Pontianak. Bahkan hal ini juga sudah disampaikannya ke pihak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

“Tentunya kita berkomunikasi dengan pihak manajemen aktivitas-aktivitas yang memang dapat reaksi dari masyarakat,” tutupnya. (sms)

 

 

 

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda