Oleh: Mei Purwowidodo
MOMENTUM Musda menjadi titik penting bagi Partai Golongan Karya di Kalimantan Barat untuk menegaskan arah masa depan.
Keberanian bersikap dalam koridor aturan organisasi menunjukkan bahwa Golkar tetap menjadi partai kader yang adaptif—mampu mengelola kompromi tanpa menabrak konstitusi partai.
Dinamika menjelang Musda sesungguhnya hanyalah “cek ombak”. Hal yang wajar dalam proses demokrasi internal.
Yang terpenting bukan sekadar siapa yang tampil, tetapi ke mana Golkar Kalbar akan dibawa: bertahan dengan pola lama atau memberi ruang lebih luas pada energi baru.
Realitas politik hari ini menunjukkan satu hal yang tidak terbantahkan: eranya adalah era generasi muda. Regenerasi bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan strategis.
Kita bisa melihat contoh konkret di Trio DPD Golkar Kota Pontianak Beby,Karyadi dan Dedet.
Dimana sebagai kepemimpinan muda mereka mampu meningkatkan performa elektoral dan memperkuat struktur partai hingga ke akar rumput.
Nama-nama seperti Beby Nailufa (Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak), Arif Rinaldi (Anggota DPRD Provinsi dapil Kubu Raya–Mempawah), dan Ichfani, ST (Bendahara Golkar Kalbar) adalah representasi bahwa kader muda Golkar Kalbar telah siap diberi tanggung jawab lebih besar. Mereka bukan hanya simbol regenerasi, tetapi juga bukti bahwa kaderisasi berjalan.
Kini tantangannya ada pada para senior. Peran senioritas bukan untuk menghambat, melainkan membuka jalan.
Pengalaman, jaringan, dan basis massa yang telah dibangun bertahun-tahun adalah modal besar untuk memastikan proses transisi berjalan mulus. Regenerasi yang berhasil bukanlah pergantian mendadak, melainkan estafet yang terencana.
Pileg 2029 sudah mulai menjadi horizon politik.Segmentasi konstituen, pemetaan dapil, dan strategi pendekatan harus dirancang sejak dini.
Regenerasi kepemimpinan harus selaras dengan kesiapan mesin partai agar tidak terjadi kekosongan kendali. Ketika momentum tiba, Golkar harus sudah berada dalam posisi siap tempur, solid dari DPD hingga ke tingkat desa.
Kolaborasi antara senior dan junior menjadi kunci. Sinergi, soliditas, dan loyalitas ideologis harus tetap dijaga. Partai besar bisa tetap eksis bukan hanya karena sejarahnya, tetapi karena kemampuannya membaca zaman dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Golkar Kalbar hari ini sedang diuji: apakah mampu menjadikan Musda sebagai titik konsolidasi dan regenerasi, atau sekadar arena tarik-menarik kepentingan.
Jika mampu memadukan pengalaman senior dan energi muda, maka Golkar bukan hanya akan bertahan, tetapi berpotensi kembali menjadi kekuatan dominan di Kalimantan Barat.
Karena pada akhirnya, partai besar bukan yang paling keras bersuara, melainkan yang paling siap menyongsong masa depan. (*)