Potret post authorBob 23 Juni 2024

Pj Gubernur Harisson Geram Daerah Tidak Serius Turunkan Stunting

Photo of Pj Gubernur Harisson Geram Daerah Tidak Serius Turunkan Stunting Pj Gubernur Kalbar Harisson. Foto : Istimewa.

PONTIANAK, SP - Penjabat (Pj) Gubernur Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson geram lantaran masih ada kabupaten kota yang tidak serius dalam upaya percepatan penurunan stunting. Padahal sebagai gubernur dirinya telah menerbitkan sejumlah payung hukum yang bisa digunakan bupati dan wali kota untuk bergerak maksimal menurunkan stunting.

Harisson menilai masih ada bupati dan wali kota yang tidak mampu menterjemahkan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkannya untuk mengintervensi stunting. Bahkan surat edaran yang dikeluarkan Pj Gubernur tidak dimaksimalkan bupati wali kota untuk mendorong keterlibatan banyak pihak dalam penanganan stunting.

"Daerah (kabupaten kota) kurang membaca, sudah ada surat (edaran) dari saya gunakan untuk menggedor pihak-pihak seperti perusahaan lewat CSRnya," ungkap Harisson saat membuka rapat kerja kesehatan daerah (rakerkesda) Kalbar, kemarin.

Pj Gubernur Harisson meminta kabupaten kota mampu menterjemahkan program orang tua asuh yang telah gencar dilaksanakan ditataran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar. Ia pun telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Gerakan Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) sebagai Orang Tua Asuh Anak Stunting. 

"Tolong kebijakan pemprov orang tua asuh melibatkan perusahaan kakak asuh stunting benar-benar diterjemahkan didaerah," katanya.

Dijelaskan Harisson program orang tua asuh dihadirkan sebagai upaya intervensi langsung ke sasaran keluarga stunting. Terutama dengan memberikan pendampingan gizi terhadap anak-anak agar keluar dari kategori stunting. Sehingga semua pihak mulai dari anggota korpi hingga perusahaan dapat terlibat.

Dengan program orang tua asuh, Harisson meyakini angka stunting Kalbar akan mampu ditekan secara maksimal. Terutama untuk mengejar target penurunan stunting secara nasional pada 2024 mendatang yakni 14 persen. Sementara saat ini stunting Kalbar masih berada pada angka 24,5 persen.

"Saya minta seluruh dinas kesehatan dan bupati wali kota kebijakan gubernur itu digunakan untuk intervensi stunting," tegasnya.

Pj Gubernur Harisson juga meminta semua pihak untuk serius dalam menjalankan semua program percepatan penurunan stunting. Dirinya mengingatkan semua pihak untuk tidak asal-asalan dalam mengerjakan program-program intervensi stunting. Baik intervensi sensitif dan spesifik dalam mewujudkan generasi emas Kalbar.

"Saya sudah membuat kebijakan jadi untuk menurunkan stunting dengan cepat maka harus ada intervensi spesifik dan sensitif," ungkapnya.

Harisson menyebut urgensi percepatan penurunan stunting di Indonesia. Menyambung pesan Presiden Joko Widodo, untuk mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari sekarang dengan memenuhi gizi anak sejak balita.

“Dua puluh sampai tiga puluh tahun ke depan, anak-anak kita harus mencapai top management level di dunia kerja. Tidak ada lagi buruh kasar,” jelasnya.

Harisson berharap adanya upaya serius dari berbagai pihak dalam percepatan penurunan stunting. Lantaran stunting akan berdampak pada kemampuan kognitif anak-anak yang berkurang. 

Lalu akibat stunting kemampuan anak untuk berpikir lebih komplek dan mengembangkan nalarnya dalam memecahkan masalah akan lebih rendah. Sehingga nanti hal tersebut akan menghambat mereka pada saat menyerap ilmu pengetahuan disekolah.

Maka stunting harus dicegah sejak dini mulai dari remaja putri pra konsepsi, konsepsi, ibu hamil, ibu menyusui dan kemudian sampai anak berumur dua tahun. 

“Sekarang saatnya kita turun langsung ke ibu-ibu untuk memberikan edukasi gizi yang baik,” ujar Harisson.

Ditekankan Harisson dalam penanganan stunting tidak hanya sekadar berakhir diomongan belaka atau lip servis. Misalnya usai dirinya turun langsung ke posyandu-posyandu lantas setelah itu tidak ada tindak lanjut lagi dari pemerintah kabupaten kota.

Menurutnya pasca ia turun ke posyandu harus dibarengi upaya lanjutan dengan berbagai program yang harus dilakukan dalam menurunkan stunting. Terutama dalam memasifkan edukasi gizi yang tepat dengan menyasar langsung para ibu-ibu.

“Penanganan stunting kita harus benar-benar melakukan aksi nyata tidak hanya sekadar lip servis,” tutup Harisson. (din)

 

 

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda