Sambas post authorKiwi 27 September 2021

Capaian Kinerja 100 Hari Pemerintahan Satono-Rofi

Photo of Capaian Kinerja 100 Hari Pemerintahan Satono-Rofi Bupati dan Wakil Bupati Sambas, Satono–Fahrur Rofi

SAMBAS, SP - 100 hari bekerja sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sambas, Satono–Fahrur Rofi melakukan banyak hal. Sejumlah program pro rakyat yang dia sampaikan dalam visi misinya ketika kampanye Pilkada 2020 lalu sudah terealisasi.

Bupati Sambas, Satono mengatakan, sejak masuk kerja 16 Juni 2021, dia bersama Wakil Bupati Sambas, Fahrur Rofi akan terus bekerja semaksimal mungkin, demi mewujudkan Sambas Baru Berkemajuan yang artinya, Beriman, Kemandirian, Maju dan Berkelanjutan.

“Alhamdulilah kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah meridai semua kegiatan Bupati dan Wakil Bupati selama 100 hari menjabat. Sudah ada beberapa program yang kita tawarkan ke masyarakat saat kampanye, mampu kita realisasikan,” katanya saat Diskusi 100 Hari Pemerintahan Satono-Rofi yang digelar oleh Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kabupaten Sambas, Sabtu (25/9) malam di teras Rumah Dinas Bupati Sambas.

Satono mengatakan, salah satu program andalan mereka adalah Prosesar atau Program Sehat Satono-Rofi, yang mana setiap warga Sambas yang belum terakomodir BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) bisa berobat gratis di kelas III.

“Prosesar sudah kita launching pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2021. Sekarang masyarakat Sambas yang tidak mampu sudah menikmati program berobat gratis di kelas III tersebut. Program tersebut akan terus berjalan dan terus di evaluasi ke depan agar lebih sempurna dalam melayani masyarakat,” katanya.

Selama kampanye Pilkada, kata Satono, dia dan Fahrur Rofi banyak mendengar keluhan masyarakat terutama kaum ibu-ibu soal antrean gas LPG 3 kilogram bersubsidi.

Dia mengatakan, tahun ini sebelum Prosesar diluncurkan, Satono-Rofi telah menambah kuota gas LPG bersubsidi tersebut agar tidak terjadi kelangkaan setiap hari.

Kemudian, Satono-Rofi juga sudah menambah kuota pupuk bersubsidi guna menjawab keluhan para petani. Awalnya, kuota pupuk subsidi untuk Sambas hanya 3000 ton, tahun ini pemerintah daerah sudah menambahnya jadi 17.700 ton.

“Kalau dulu kuota pupuk subsidi kita pernah mencapai 20.000 ton, kemarin hanya 3000 ton saja. Karena banyak keluhan petani jadi kita tambah tahun ini sebanyak 14.700 ton. Kita juga tidak diam, pengawasan akan semakin diketatkan agar distribusinya tepat sasaran,” katanya.

Satono mengungkapkan, di masa pandemi Covid-19 saat ini, banyak para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Sambas, baik itu yang resmi maupun tidak resmi, pulang kampung. Hal itu berdampak banyaknya pengangguran.

Pemerintah, sedang menyiapkan desain kerjasama dengan balai latihan kerja nasional.

Nantinya, anak muda di Sambas akan dikirim ke balai latihan kerja untuk belajar berbagai macam keahlian. Ketika pulang mereka akan punya life skill sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri. Program itu disebut Pemuda Siap Kerja.

 “Kita lebih konsen kepada peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) agar Sambas benar-benar Berkemajuan. Jadi Program Pemuda Siap Kerja itu akan kita galakkan secepatnya. Untuk sekarang, kita butuh doa masyarakat,” katanya.

Satono menjelaskan, pandemi akan berdampak langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sambas. Dia ingin, tolok ukur IPM Sambas lebih akurat. Satono kemudian menginstruksikan Dukcapil untuk melakukan jemput bola kepada para mahasiswa di Sambas untuk memperbarui identitas mereka.

 “KTP mahasiswa itu masih banyak yang pelajar. Padahal mereka sudah mahasiswa, dan itu secara langsung memengaruhi data statistik pendidikan masyarakat Sambas. Saya instruksikan Dukcapil untuk jemput bola, dan sekarang sedang berjalan,” katanya.

Satono menjelaskan, hal lain yang sudah dilakukan Satono-Rofi selama 100 hari kerja adalah membangun ekonomi kawasan perbatasan sesuai Inpres Nomor 1 Tahun 2021. Di mana dalam Inpres tersebut, Aruk adalah salah satu daerah yang harus dibangun dalam tempo kurang lebih dua tahun.

“Kita sedang konsen di perbatasan, seperti Aruk dan Temajuk. Grand desain untuk kawasan itu sedang kita rancang sebaik mungkin. Pembangunan ekonomi di sana tidak akan lepas dari infrastruktur yang mumpuni, dan mewujudkan itu butuh sinergi semua lini, mulai dari pusat sampai ke desa,” katanya.

Satono mengatakan, sebagai langkah konkret, dia sudah mengantar Wamen ATR BPN, Surya Tjandra untuk melihat langsung kondisi Aruk dan Temajuk pada 26 Juni 2021 lalu, beberapa hari setelah dilantik jadi bupati.

“Selain Wamen Agraria, tim kajian Wantannas RI juga sudah melakukan peninjauan di sana. Kita akan terus membuat progres sampai target kita membangun ekonomi perbatasan tercapai. Semua ini demi masyarakat Sambas,” katanya.

Di sektor pertanian, Satono mengatakan dia sudah dua kali bertemu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di Jakarta. Mulai dari pertemuan di kantor Mentan, sampai ke Warung Kopi Joni. Dalam pertemuan itu Satono memaparkan semua potensi pertanian yang ada di Sambas.

“Akhirnya pada saat panen raya padi varietas unggul baru BPTP Kalbar di Desa Lonam Pemangkat Agustus lalu, Wamentan RI, Harvick Hasnul Qalbi datang langsung. Kita sudah sampaikan ke beliau, bahwa pemerintah pusat harus lebih banyak mengucurkan program untuk petani Sambas,” katanya.

Satono mengatakan, dia juga sudah bertemu Menparekraf, Sandiaga Uno untuk membahas pembangunan sektor wisata bahari di Temajuk. Bahkan, dia pernah memasang reklame promosi wisata Temajuk di jalan tol Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Baru-baru ini dia juga bertemu Menteri Perhubungan, Budi Karya di PLBN Aruk. Beberapa hal penting sudah diusulkan ke pusat terkait keberlangsungan PLBN ke depan. Salah satunya terkait fasilitas karantina bagi Pekerja Migran Indonesia yang pulang dari negeri Jiran.

 “Masih banyak lagi hal-hal yang kita kerjakan di 100 hari kepemimpinan Satono-Rofi. Kemarin kita baru saja ketuk palu APBD Perubahan 2021. Kita berharap, aspirasi masyarakat yang belum terakomodir dalam APBD murni 2021 bisa masuk dalam APBD perubahan tersebut,” katanya.

Terakhir, Satono mengtakan, tentu masih banyak hal yang harus dikerjakan. Untuk itu, dia perlu masukan dan saran yang bersifat membangun dan elegan dari semua pihak.

ASN Lebih Disiplin

Wakil Ketua Aliansi Jurnalis Perbatasan (AJP) Kabupaten Sambas, Nurhadi menjadi pemateri dalam diskusi itu. Nurhadi mengatakan, penilaian 100 hari pemerintahan Satono-Fahrur Rofi dilakukan karena masyarakat sangat ingin tahu capaian yang telah diraih.

"Meskipun Bupati dan Wakil Bupati mengatakan tidak ada program 100 hari, namun masyarakat selalu ingin tahu, dan ini sudah menjadi tipikal masyarakat Kabupaten Sambas, meskipun secara politik anggaran, keluwesan untuk menjalankan visi misi baru secara mutlak bisa dijalankan usai pengesahan APBD Perubahan Jumat kemarin," ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan, terdapat nuansa baru yang telah berhasil diciptakan kedua pemimpin Kabupaten Sambas tersebut.

"Saya melihat ada kebiasaan disiplin waktu yang telah ditegaskan terhadap ASN dan Kepala Dinas, artinya pelayanan kepada rakyat lebih cepat dilakukan," ungkapnya.

Selain itu, ada kebiasaan bupati berbelanja ke pasar-pasar tradisional pada pagi hari dalam upaya menyerap keluhan pedagang, kemudian wakil bupati selalu menghadiri pertemuan-pertemuan meskipun itu acara pernikahan di desa.

"Untuk bidang pertanian yang merupakan sektor dominan di Kabupaten Sambas, kita berharap agar pada tahun anggaran 2022 alokasinya jauh lebih besar, apalagi visi misi Sambas Berkemajuan sangat kental akan bidang tersebut," paparnya.

Pemerintah Kabupaten Sambas, kata dia, juga diharapkan mampu mengawal dan mengentaskan program pembangunan yang diarahkan oleh pemerintah pusat.

"Sementara ini mengandalkan APBD murni Kabupaten Sambas adalah sangat mustahil untuk memenuhi seluruh tuntutan pembangunan, karenanya arahan program dari pemerintah pusat seperti Inpres 01 2021 tentang Percepatan Pembangunan Daerah Perbatasan mestilah kita kawal bersama dengan baik," pungkasnya. (noi)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda