Sambas post authorBob 30 September 2022

KWT Desa Serindang Kelola Limbah Kulit Singkong Jadi Cemilan Stik

Photo of KWT Desa Serindang Kelola Limbah Kulit Singkong Jadi Cemilan Stik KWT Desa Serindang Kelola Limbah Kulit Singkong Jadi Cemilan Stik

SAMBAS, SP - Usaha untuk membangkitkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) maupun kelompok usaha lainnya setelah pandemi Covid-19 menjadi perhatian yang sangat penting bagi semua pihak, seperti pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum.

Hal ini dikarenakan bahwa UMKM maupun kelompok usaha lainnya, seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) ini memiliki peranan yang sangat strategis dalam mendukung perekonomian nasional. Adanya kelompok/unit usaha ini akan menyerap tenaga kerja dan dapat mengurangi tingkat pengangguran, memberikan keterampilan dan berfikir inovasi terhadap suatu produk.

Inovasi terhadap suatu produk pertanian dapat meningkatkan nilai tambah dari produk sehingga dapat menciptakan kesejahteraan bagi kelompok unit usaha tersebut.

Hal ini bisa dilihat dari munculnya usaha-usaha kecil yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia khususnya di Kabupaten Sambas, dimana usaha ini didukung dengan adanya kreativitas dan ide baru agar produknya digemari oleh konsumen. 

Kondisi tersebut mendorong Dosen Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) yang diantaranya Susilawati, SP, MMA, Sri Mulyati, SE, ME,  Ir. Sunardi, MMA dan Heriadi, A.Md melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sejak 16 Juli 2022 dengan tema Peningkatan Nilai Tambah Produk melalui Pemanfaatan Limbah dari Kulit Ubi Kayu pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Berkat Usaha.

Kegiatan tersebut mendampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berada di Desa Serindang, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas adalah KWT Berkat Usaha. Kelompok ini berdiri pada tahun 2013. KWT ini diketuai oleh Ibu Hamilah dan memiliki 15 orang anggota.

Ketua kelompok PKM Susilawati, SP, MMA mengatakan, kerupuk ubi kayu yang diolah telah terjual di pasaran, khususnya di Kabupaten Sambas.

"Kerupuk ubi kayu yang dijual dalam bentuk mentah atau belum digoreng dengan harga jual Rp 25.000/kg, pemasaran kerupuk ubi kayu ini sudah beredar di Kabupaten Sambas, Kecamatan Sambas, Tebas, Pemangkat dan daerah sekitarnya," katanya. Selasa (27/9/2022).

Dia mengatakan, saat ini kelompoknya mengalami kesulitan untuk pemasaran dikarenakan produk tradisional ini akan bersaing dengan produk yang modern.

"Penjualan dan produksi kerupuk ubi kayu yang menurun dari sebelumnya, sehingga pendapatan anggota KWT Berkat Usaha juga menurun dari biasanya. Hal ini dikarenakan ketersediaan bahan baku dan bahan penunjang dalam pengolahan kerupuk ubi kayu sulit diperoleh," jelasnya.

"Selain itu, pelaku usaha yang memproduksi makanan ringan tradisional, akan bersaing ketat dengan pelaku usaha makanan modern, ataupun dengan makanan ringan produk impor. Sedangkan KWT Berkat Usaha ini hanya memproduksi kerupuk ubi kayu, yang diolah dari daging ubi kayu dan belum ada melakukan diversifikasi olahan ubi kayu lainnya," sambungnya.

Susilawati, SP, MMA menjelaskan, selain kerupuk kelompok KWT tersebut memproduksi produk seperti stik kulit singkong hanya menggunakan bahan-bahan yang telah tersedia.

"Untuk membuat cemilan stik kulit singkong adalah kulit singkong/ubi kayu, dan ditambah telur ayam, beserta bumbu-bumbu masakan yaitu bawang merah, bawang putih, daun bawang, daun seledri, tepung terigu, kaldu bubuk, garam, mentega, santan kelapa, dan minyak goreng. Dengan demikian, cita rasa dari stik kulit singkong ini semakin nikmat, gurih dan renyah," ucapnya.

Sementara itu rekannya,  Sri Mulyati, SE, ME menjelaskan, dalam meningkatkan dan menambah daya tarik masyarakat kelompok KWT tersebut akan mendesain kesamaan agar tampak menarik ketika dipasarkan.

"Desain kemasan yang memiliki arti penting dalam pemasaran produk dan analisis usaha cemilan stik kulit singkong sehingga diperoleh haga jual yang layak guna mencapai keberhasilan usaha, maka peran kemasan dan atribut yang ada pada label kemasan produk sangat menentukan pemasaran produk. Kemasan tidak hanya digunakan sebagai bahan pembungkus, tapi kemasan merupakan sarana komunikasi dan informasi tentang produk tersebut kepada konsumen," ujarnya.

"Melalui pelatihan pemanfaatan limbah kulit ubi kayu yang diolah menjadi stik kulit singkong, maka keterampilan dari anggota PKM ini bertambah, jenis produk olahan juga bertambah, pengolahan produk pertanian ini bersifat ramah lingkungan, dan diikuti dengan bertambahnya volume penjualan sehingga dapat meningkatkan pendapatan bagi anggota KWT Berkat Usaha ini," tutupnya. (noi)

 
Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda