Singkawang post authorKiwi 19 November 2021

Dana Ratusan Mantan Anggota KPN Sinka Tak Bisa Ditarik, Nasabah Serasa Seperti Pengemis

Photo of Dana Ratusan Mantan Anggota KPN Sinka Tak Bisa Ditarik, Nasabah Serasa Seperti Pengemis Kantor KPN Sinka di Singkawang

SINGKAWANG, SP - Ratusan mantan anggota Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Sinka Singkawang resah lantaran tidak mendapatkan kepastian kapan dana simpanan mereka dapat dibayarkan oleh koperasi.

Keresahan mereka pun cukup beralasan, lantaran sebagian dari mantan anggota yang telah keluar sejak tahun lalu, juga tidak kunjung mendapatkan dana simpanan mereka.

"Saya sangat kecewa dan telah berulangkali mendatangi KPN Sinka, namun tidak kunjung mendapatkan pembayaran terkait dana simpanan saya," kata salah satu mantan anggota KPN Singkawang berinisial E, Kamis (18/11). .

Lantaran menurutnya, struktur kepengurusan koperasi serta dewan pengawasnya adalah pejabat di lingkungan Pemkot Singkawang.

Anggota yang telah keluar sejak pertengahan tahun 2020 ini mengaku dananya baru dibayarkan sebagian oleh KPN Sinka.

Pasalnya, saat dalam kondisi sangat membutuhkan uang, KPN Sinka justru terkesan lamban dalam proses pencairan uang.

Padahal, selama bergabung sejak bertahun-tahun lalu, gaji miliknya selalu dipotong untuk KPN Sinka setiap bulan.

Bahkan terakhir kali ia keluar, pemotongan gaji sudah mencapai Rp85ribu per bulannya.

Merasa kecewa, dia pun mengajukan keluar dari KPN Sinka pada pertengahan tahun lalu.

"Dulu kan mikirnya nabung, tetapi ketika perlu nanti bisa diambil, tapi giliran benar-benar perlu, malah gak bisa diambil," ujarnya.

Sebelum mengajukan keluar, dirinya sempat mengajukan permohonan pencairan uang dengan mendatangi langsung Kantor KPN Sinka untuk keperluan mendesak.

Namun, pihak KPN Sinka, lanjutnya, selalu memintanya untuk menunggu di akhir bulan. Ketika tiba di akhir bulan, pihak KPN Sinka justru memintanya kembali ke awal bulan selanjutnya.

"Berkali-kali datang, lama-lama saya jengkel. Kita nabung di situ, tapi ngambil uang sendiri kayak ngemis," ungkapnya.

Meski demikian, setelah lama menunggu, pihak KPN Sinka sempat mencairkan uang tabungannya, yakni sebesar Rp5 juta, sementara sisanya sekitar Rp4 juta lebih masih belum dicairkan oleh KPN Sinka.

Mantan anggota KPN Sinka lainnya, A mengaku dirinya kini berada di antrean lebih dari 300.

A adalah anggota koperasi sejak tahun 2004, dia mengira loyalitasnya sebagai anggota koperasi akan membuat segala bentuk administrasi ketika keluar akan mudah, namun kenyataan yang dijalani berbeda.

Sehingga, dIa memutuskan keluar ketika mendapati gelagat tidak beres di internal koperasi yang berimbas mengakibatkan ratusan anggota lainnya memilih undur diri.

"Saya pesertanya sejak tahun 2004. Saya keluar karena saya juga mendengar telah ada gejolak di dalam KPN Sinka, makanya saya tidak berani meneruskan," katanya.

A kini mengaku sangat membutuhkan uang simpanan yang selama belasan tahun dia simpan di koperasi dengan skema pemotongan langsung melalui gaji.

"Kalau simpanan sekitar 12 jutaan, tapi tidak tahulah bakal bisa dapat, yang jelas saya sekarang butuh uang makanya saya keluar," ujarnya.

Kepala KPN Sinka, Deni Nirwana mengatakan, akan memberikan penjelasan langsung kepada anggota yang akan keluar.

"Akan kami kumpulkan dan jadwalkan pertemuannya. Karena ini kami lagi persiapan, dalam bulan ini Insya Allah akan kami sampaikan," katanya.

Perkarakan Debitur Macet

Kepala Diseprindagkop dan UKM Singkawang yang juga selaku Dewan Pengawas KPN Sinka, Muslimin mengatakan, ada beberapa saran dan masukan yang mau disampaikan kepada kepengurusan KPN Sinka yang harus mereka lakukan.

"Pertama, bagaimana mereka mencari pihak ketiga (Perbankan), yang mau untuk memberikan pinjaman sebagai pengganti Bank BKE (Bank Kesejahteraan Ekonomi)," katanya.

Mengingat Bank BKE sudah dibubarkan sejak tahun 2019 sehingga tidak ada lagi Bank yang memberikan pinjaman atau donasi modal usaha kepada KPN Sinka.

Namun, diakuinya sampai hari ini belum ada satu bank pun yang bisa memberikan donasi kepada KPN Sinka. Sementara KPN Sinka masih bertanggung jawab untuk melunasi angsuran pinjaman kepada Bank BKE.

Kedua, dia menyarankan agar mengoptimalisasi aset KPN Sinka, karena jika dilihat dari struktur aset lancar maupun aset yang berbentuk tetap, ada sekitar belasan miliar.

"Meskipun bukan dalam bentuk uang, melainkan aset, baik berupa tanah maupun bangunan," ujarnya.

Hanya saja yang menjadi persoalan mereka adalah terkait dengan likuiditas dana lancar dalam kerangka proses untuk memberikan pinjaman atau membayar simpanan wajib atau pokok ketika ASN yang bersangkutan sudah pensiun atau keluar.

Muslimin juga sudah mengarahkan, ada beberapa pinjaman-pinjaman anggota yang tidak lancar.

"Bisa dikatakan pinjaman ini sepertinya macet," jelasnya.

Terkait dengan itu, dia sudah menyarankan kepada pengurus KPN Sinka untuk segera melakukan tindakan hukum kalau memang harus diperlukan.

Karena menurut informasi mereka sudah melakukan pendekatan berupa sosialisasi baik secara lisan maupun teguran tertulis namun ternyata ada beberapa debitur yang memang masih belum melunaskan.

"Jadi saya minta mereka langsung melakukan tindakan-tindakan hukum berupa penyitaan dan lelang jaminannya," tuturnya.

Karena dia meyakini, sebagian debitor menggunakan jaminan ke KPN Sinka. (rud)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda