Singkawang post authorKiwi 28 November 2021

Listrik dan Bantuan PLN Sejahterakan Pembuat Terasi

Photo of Listrik dan Bantuan PLN Sejahterakan Pembuat Terasi Pekerja di rumah olah produksi laut, LKM Jaya Bersama di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, menunjukan hasil produksi terasi yang dihasilkan dari mesin pencetak yang merupakan bantuan PLN melalui Program PLN Peduli./eliazer partoguan

SINGKAWANG, SP – Sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi hasil laut yang berlimpah, Kota Singkawang juga dikenal sebagai daerah yang memiliki potensi hasil laut berlimpah. Sebagai kota wisata di Provinsi Kalimantan Barat, kekayaan bahari yang dimiliki menjadikan nilai tambah bagi Kota Singkawang.
Salah satu hasil laut yang dihasilkan dari kekayaan laut Singkawang adalah jenis udang laut. Selain dijual langsung ke pembeli, udang atau ikan yang didapat dari nelayan ini juga diolah menjadi salah satu bahan pangan yaitu terasi.

Seperti yang diketahui, terasi atau belacan merupakan bumbu masak yang dibuat dari ikan atau udang rebon yang difermentasikan, berbentuk seperti adonan atau pasta dan berwarna hitam-coklat. Kadang ditambah dengan bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan
Salah satu pusat pembuatan terasi di Kota Singkawang ada di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Rumah produksi olahan laut ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitardinamakan LKM Jaya Bersama.

Ketua LKM Jaya Bersama, Sahbani menjelaskan bangunan rumah produksi yang digunakan didapat dari bantuan pemerintah dan baru beroperasi pada tahun 2021 ini.

Sedangkan peralatan untuk memproduksi terasi, sepenuhnya kata Sahbani didapat dari bantuan PLN lewat Program PLN Peduli.

“Semua peralatan untuk produksi terasi dibantu PLN melalui Program PLN peduli. Kami sangat berterima kasih dengan bantuan yang diberikan ke LKM Jaya Bersama di Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan,” kata Sahbani kepada wartawan, belum lama ini.

Sebagai salah satu faktor penentu produksi, keberadaan pasokan listrik yang sangat meumpuni yang dialiri oleh PLN juga diakui sangat membantu.

“Listrik di sini juga sangat lancar. Ini sangat penting dan membantu kami,” sebutnya.

Aktivitas pembuatan terasi di wilayah tersebut sebenarnya telah lama berlangsung lama. Sebagaian besar warga di sana mengandalkan mata pencharian mereka dari hasil penjualan terasi.

Namun sebelum ada bantuan peralatan dari PLN, pengolahan bahan baku terasi dilakukan dengan cara konvensional. Udang sebagai bahan baku terasi dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian baru ditumbuk dalam wadah khusus yang terbuat dari kayu atau biasa disebut masyarakat sekitar Alu.

“Pengolahan dilakukan sederhana menggunakan Alu. Udang yang sudah kita keringkan dengan dijemur, kita tumbuk di Alu. Setelah menjadi bubuk, baru kita oleh menjadi terasi,” kata dia.

Produksi menggunakan metode ini kata Sahbani sangat jauh berbeda hasil yang didapat sejak menggunakan peralatan yang diberikan PLN. Ada beberapa jenis peralatan yang diberi oleh perusahaan milik negara tersebut, mulai dari mesin penggilingan, pengiringan mesin pencetak terasi, dan mesin packing.

Semua peralatan ini disimpan dengan rapi di dalam ruangan bangunan yang bagian dalam dan luarnya berwarna putih dan cukup luas tersebut.

“Sangat bermanfaat bantuan yang kami terima dari PLN. Hasil produksi semakin cepat. Sekarang tinggal terganttung bahan bakunya saja, jika ada banyak, dengan alat yang ada, kami juga bisa memproduksi banyak terasi,” sebut pria paruh baya ini.

Meningkatnya hasil produksi terasi, tentu saja berimbas dengan pendapatan masyarakat. Jika sebelumnya terasi yang dihasilkan hanya dijual di tempat-tempat pembuatan terasi yang sebelumnya tersebar, tidak teroganisir sebelum adanya rumah pengolahan. Sekarang, terasi yang dihasilkan mulai disebar di beberapa lokasi untuk dijual.

“Penjualan sekarang kita sebar, sekarang kami juga sudah ada susunan pengurus yang mengurus penjualan, jadi lebih teroganisir dengan baik,” tukasnya.

Terasi yang dihasilkan di rumah olahan ini juga dijual dengan harga yang berbeda, namun tetap ramah di kantong. Bahkan dapat dikatakan murah untuk hasil produksi yang memiliki cita rasa yang tinggi.

Harga yang dipatok untuk satu kilo terasi senilai Rp100 ribu. Harga ini masih dapat diturunkan apabila pasokan udang untuk pembuatan terasi berlimpah.

“Harga normal satu kilogram Rp100 ribu, tapi kalau lagi banjir (bahan baku) jadi Rp80 ribu. Bisa juga beli setengah kilo,” sebutnya. (jee)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda