Singkawang post authorKiwi 28 November 2021

Listrik PLN Bantu Pembatik Singkawang Tingkatkan Produktivitas

Photo of Listrik PLN Bantu Pembatik Singkawang Tingkatkan Produktivitas Manager PLN UP3 Singkawang, Ahmad Mediansyah bersama pembatik Singkawang, Friska memegang kain batik yang dihasilkan di rumah produksi milik Fiska. /eliazer partoguan

SINGKAWANG, SP – Sebagai salah satu kota wisata di Kalimantan Barat, Kota Singkawang memiliki berbagai keistimewaan sektor wisata, salah satunya Kampung Membatik. UMKM yang tersebar di lima kacamatan di Kota Singkawang ini setidaknya menjual 30 batik khas Singkawang setiap bulan. Penjualan batik tulis ini tidak hanya di lokal Singkawang atau Kalbar, tapi juga dijual di tingkat nasional, bahkan internasional.

“Pemasaran masih melalui online, kemudian dibeli langsung oleh pejabat-pejabat dan kami juga pasarkan di pusat oleh-oleh di Singkawang,” kata Priska Yeniriatno, pemilik Kampung Wisata Membatik yang ada Kecamatan Singkawang Tengah.

Menurut Priska sebelumnya, rekannya sesama pembatik masih mengandalkan minyak tanah sebagai bahan baku pemanas untuk membantik. Namun seiring semakin sulitnya mencari bahan bakar minyak tanah di pasaran, mereka kini beralih menggunakan alat yang menggunakan energi listrik untuk membatik.

“Sekarang sudah sulit menggunakan minyak tanah, dengan menggunakan listrik tentunya sangat membantu, lebih cepat, kemudian yang jelas kontroling panas lebih enak, karena kalau pakai kompor biarpun menggunakan api yang paling kecil, kita susah mengontrol suhu panasnya,” jelas Priska.

Produktivitas sejak menggunakan listrik sebagai pemanas untuk bahan membatik juga meningkat jika dibandingkan menggunakan cara konvensional. Selain itu desain batik yang dihasilkan juga tidak berbeda jika menggunakan energi listrik untuk membantik.

“Tidak ada bedanya menggunakan listrik atau mintak tanah untuk hasil batik yang dihasilkan, semua tergantung keterampilan tangan kita saja,” papar Fiska.

Batik tulis yang dihasilkan dan diminati konsumen, lanjut Friska adalah motif Tiga Penjuru. Pembelinya biasa berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta dan lainnya.

Motif tiga penjuru sendiri memiliki makna yang menunjukkan tiga pintu masuk ke Singkawang dan sekaligus sebagai simbol keberagaman suku yang ada di Singkawang yakni Melayu, Tionghoa dan Dayak.

"Masing - masing di penjuru untuk masuk ke Kota Singkawang itu memiliki karakteristik seperti di arah pesisir itu identik dengan Melayu, kalau timur Tionghoa dan Dayak serta untuk barat urban. Jadi motif ini menceritakan keberagaman," jelas dia.

Untuk harga batik tulis yang ia produksi mulai Rp300.000 - Rp3000.000 per helai kain. Untuk batik tulis dengan motif tiga penjuru itu adalah harga tertinggi capai Rp3000.000. (jee)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda