Singkawang post authorKiwi 30 Juni 2020 56

16 Kasus DBD di Singkawang

Photo of 16 Kasus DBD di Singkawang Ilustrasi

SINGKAWANG, SP – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Singkawang sampai Juni 2020 sebanyak 16 kasus. Dari jumlah tersebut, Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kota Singkawang, Barita P Ompusunggu  menegaskan, angka kematian DBD tidak ada alias nihil.

Upaya pencegahan untuk penanganan DBD, jelas Barita, adalah dengan abatisasi, Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan fogging.

"Kita menggalakan satu rumah satu Jumantik. Kita berharap setiap pemilik rumah bertanggungjawab atas penampungan air, agar tidak ada jentik-jentik nyamuk," ujar Barita, Senin (29/6).

Dia menjelaskan, pencegahan jauh lebih murah, dan tentunya bisa mendidik masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Pada program ini masing-masing Rukun Tetangga (RT) akan bertanggungjawab. Dinkes dan KB juga akan membentuk kader-kader untuk memonitor kegiatan itu. Nantinya para kader setiap sebulan sekali atau dua minggu sekali turun ke rumah untuk melakukan pengecekan. Setelah dicek akan dipasang stiker pada rumah tersebut.

"Jika masih ditemukan jentik-jentik, maka akan diberi tanda contreng, dan penilaian itu dilakukan sesama mereka. Sehingga mereka akan malu jika masih ditemukan jentik-jentik nyamuk," jelasnya.

Kepada masyarakat Kota Singkawang, dia berpesan, mencegah penyebaran DBD bisa dilakukan dengan tetap menjaga lingkungan yang bersih, baik dalam rumah atau sekitar rumah.

"Cara terbaik pencegahan adalah dengan gerakan 3M, yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur," jelasnya.

Sebelumnya, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes dan KB Singkawang, Mursalin meyakini bahwa secara teori dan praktik di tempat-tempat yang sudah menerapkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik sangat efektif.

"Karena penyakit DBD ini kan memang disebabkan oleh nyamuk yang membawa virus. Sehingga apabila ada virus, meskipun nyamuknya tidak bisa berkembang biak, insya Allah penyakit DBD tidak akan bisa ditularkan," katanya.

Mursalin menambahkan, dari Januari hingga Juni 2020 sudah ada sebanyak 16 kasus DBD yang terjadi di Kota Singkawang. "Rata-rata yang terkena DBD adalah anak-anak," ujarnya.

Mengingat curah hujan beberapa waktu lalu dirasakan cukup tinggi, masyarakat Singkawang diimbau untuk selalu menerapkan 3M.

"Intinya jangan sampai ada jentik-jentik di tempat penampungan air," ucapnya.

Dia bersyukur, karena sampai sekarang belum ada penderita DBD yang meninggal dunia. “Mudah-mudahan tidak ada yang meninggal,” harapnya.

Patuhi Imbauan Dinkes

Masyarakat Kota Singkawang diharapkan mematuhi imbauan Kepala Dinkes dan KB, guna mencegah peningkatan penyakit DBD.

"Demi menghindari DBD di Kota Singkawang, maka gerakan 3M yaitu Menguras, Mengubur dan Menutup adalah cara pencegahan yang paling efektif dalam pemutusan mata rantai penularan DBD," kata Anggota DPRD Singkawang, Anewan.

Sebagai wakil masyarakat Kota Singkawang, Anewan sangat mendukung upaya Dinke dan KB dalam memberantas DBD di Kota Singkawang.

"Kita bersyukur kasus DBD masih rendah. Kita sangat mengapresiasi kinerja Dinas Kesehatan dan KB dalam menjaga kesehatan di Kota Singkawang," ujarnya.(rud/yun)

loading...

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda