Sosok post authorKiwi 08 Februari 2022

Saleh yang Lepas dari Pandangan Kita

Photo of Saleh yang Lepas dari Pandangan Kita Saleh (kanan) warga Kota Pontianak yang tinggal di gubuk ditengah kota Pontianak.

PONTIANAK, SP – Jalanan lengang dan menyisakan angin kendaraan yang melintas sepanjang Rahadi Usman, Pontianak Kota. Begitu terus, sampai satu-dua motor kembali melintas dengan kecepatan tinggi dan suara knalpot yang berisik. Saya menarik gas motor sangat pelan di sekitar kawasan itu. Lima meter setelah persimpangan Jalan Nusa Indah I, tiga orang terlihat duduk di kursi warungkopi emperan toko. Suara mereka terdengar samar saat saya melintas. Entah apa yang mereka bicarakan, seolah begitu serius dan urgen untuk didiskusikan sesubuh itu.

Lalu, suara mereka benar-benar hilang, kalah saing dengan suara mesin tronton yang melintas di seberang mereka. Di saat bersamaan, pandangan saya tak sengaja menangkap sosok laki-laki duduk tersandar sendirian di kursi dengan sebuah box kayu di depannya, tepat dekat tepian Jalan Kapten Marsan.

Prediksi saya laki-laki itu penjaga malam. Melihat posisinya, saya pikir cukup bagus untuk difoto. Saya memutar balik kendaraan mengarah ke laki-laki itu. Ia tidak beranjak dari kursi sampai benar-benar sadar bahwa saya menghampirinya.

“Pak, izin. Saya boleh foto bapak. Saya tadi berkeliling moto-moto,” kata saya meminta izin kepadanya, Jumat (4/2) kemarin. Memang, kurang lebih satu jam sebelumnya saya berkeliling di kota ini untuk mencari objek foto apa saja. Aktivitas rutin bila saya punya waktu longgar di tengah malam. Ia memberi izin, dan duduk kembali seperti semula.

Jalanan yang sepi, gedung tinggi bank milik pemerintah, dan seorang laki-laki paruh baya berkumis tebal yang duduk di antaranya. Cahaya kuning lampu jalan menyiram tubuhnya. Belakangan, ternyata lensa kamera saya menangkap seorang bapak yang kehilangan rumah dan tengah kepayahan menafkahi dua anaknya yang ia titipkan ke pesantren.  

Namanya Saleh, bapak dua anak yang kebingungan menghitung angka usianya yang lahir pada 1979. Melihat perawakannya, saya teringat dengan almarhum Munir Said Thalib. Berkumis tebal dan rambut hitam ikal.  

Kata Saleh, ia asli warga Pontianak ini, meski KTP sudah hilang sejak tiga tahun lalu ketika mengurus sang istri berobat, dan penderitaannya nanti akan dimulai dari sini.

“Saya cuma bantu jaga di sini. Jaga ruko-ruko. Kadang keliling, tapi tidak diupah,” kata dia kepada saya. Lalu ia menunjuk gubuk papan yang di sebelah kami sebagai tempat tinggalnya tiga tahun terakhir ini.

Mungkin 3x4 meter, atau kurang. Tapi menurut perhitungan saya kira-kira begitu ukuran gubuk papan dengan atap seng yang sudah bekarat itu. Posisinya tepat berdampingan dengan bekas pos Ormas Pemuda Pancasila yang juga sudah tidak terawat.

Penampakannya tidak layak bila disebut tempat tinggal. Apalagi, Saleh punya dua anak yang saat ini masih sekolah.

“Tapi mau bagaimana lagi. Inilah kondisi tempat tinggal saya. Kalau anak datang (dari pesantren), ya berbagi tempat tidur,” ungkapnya.

Saya meminta izin ke Saleh untuk masuk ke dalam bangunan yang seperti hampir robuh itu. Tanpa ragu dan malu ia memberi izin, meskipun dia bilang kondisi di dalamnya sangat berantakan dan gelap. Lampu 10 watt yang tersambung dari ruko sebelah dan menjadi satu-satunya penerangan di dalam gubuk itu padam.

Saleh mempersilahkan saya masuk setelah ia membuka pintu tanpa kunci yang engselnya sudah bekarat. Saya terpaksa menyalakan senter handphone lantaran pandangan tidak mampu menjangkau apapun di dalam gubuk itu.

Potongan-potongan papan menjadi titian langkah saya saat melewati lorong kecil yang mengarah langsung ke kamarnya. Bau apak dari papan yang mulai rapuh dan tumpukan pakaian yang begantungan memenuhi rongga hidung saya. Saleh bilang jika hujan lebat, air pasti merembes ke dalam dan menggenangi lantai beralas tanah gubuk itu.

“Beginilah kondisinya,” kata Saleh lagi mengulang ucapan yang sebelumnya ia sampaikan. Dan, memang benar, pakaian dan lembaran-lembaran kertas saling bertumpuk di antara pangkeng yang jadi alas Saleh membujurkan badan di gubuk itu.

Kami keluar, dan Saleh kembali melanjutkan ceritanya sembari menghabiskan sebatang rokok yang belum setengah terbakar. Tiga tahun lalu ia punya rumah di wilayah Utara kota ini. Namun semua terpaksa dijual, termasuk menggadai motornya yang tak terbayar sampai detik ini untuk pengobatan sang karena menderita asma.

Saleh menghitung-hitung rumah sakit yang pernah ia singgahi. Yarsi, Soedarso, Karitas Bhakti, dan terakhir Antonius masuk dalam radar ingatan Saleh bagaimana ia pernah bersusah payah mencari pengobatan.

Seperti yang sudah-sudah, takdir seringkali berkata lain. Istrinya menuntaskan perjuangan melawan sakit, sementara Saleh harus melanjutkan perjuangan hidup ia dan dua anak perempuan yang kini melanjutkan pendidikan di pesantren Darul Salam, Sungai Kakap. Saleh membagi peran, sebagai ibu dan tentu saja sebagai ayah yang menafkahi kedua anaknya.

Udara semakin dingin seiring jarum jam beberapa menit lagi tepat di angka tiga subuh . Obrolan kami terhenti ketika sepasang laki-laki dan perempuan berboncengan memanggil Saleh. Mereka menghentikan laju motor, kemudian merogoh kocek saat Saleh menghampirinya.

"Tak banyak bang,” terdengar samar obrolan singkat mereka sebelum pasangan itu kembali beranjak.

“Beginilah, kadang ada orang yang ngasi. Buat bantu saya,” kata Saleh sambil menyimpan selembar uang di saku bajunya.

Saleh adalah tukang servis keliling, rupanya. Dia bercerita, peralatan elektronik apa saja yang rusak diperbaikinya. Kipas angin, magicom, kulkas dan apa saja yang masih punya potensi untuk diselamatkan.

Sebelum pandemi, pendapatannya bisa sampai Rp300 ribu per hari atau kurang sedikit dari itu. Pemasukan sebesar itu lebih dari cukup untuk membagi kebutuhan mereka, membeli peralatan dan biaya sekolah anaknya. Belakangan, pandemi betul-betul menghajar dirinya. Biarpun sudah seharian berkeliling berjalan kaki dari komplek ke komplek, gang ke gang, kadang tidak ada satupun tuan rumah memanggil dirinya.  

Saleh ingat pernah suatu kali mereka bertiga tidak makan seharian lantaran jasanya tidak ada yang menggunakan. Kebetulan hari itu kedua anaknya keluar pondok karena libur. Mereka menghentikan rasa lapar dengan sebanyak-banyaknya minum air putih.

“Anak-anak paham kondisi bapaknya. Mereka tidak menuntut banyak,” kata Saleh. Matanya mulai berkaca saat bercerita bagian ini.

 

Saleh pernah menaruh harapan pada Pemkot Pontianak untuk memberi bantuan kepada dirinya. Apalagi di tengah pandemi ini. Namun, masalah birokrasi pengurusan KTP membuatnya mengurungkan harapan itu. Ia dibuat bolak-balik oleh RT setempat, sampai akhirnya menyerah sendiri, dan terpaksa jadi penonton bantuan sosial.

Untung, pemilik-pemilik ruko yang ia jaga di sepanjang jalan itu murah hati. Ia menunjuk satu toko di ujung sudut jalan itu yang kerap beri ia pinjaman ketika ada biaya sekolah anak yang mesti dipenuhi sesegera mungkin. Mungkin sebagai ucapan terima kasih karena menjaga toko mereka.

Lagi-lagi, seorang laki-laki berjalan ke arah kami. Ia menyapa sebelum akhirnya meminta sebatang rokok milik Saleh yang bungkusnya tergeletak di atas box kayu yang juga saya jadikan tempat duduk.

Udara subuh hari itu semakin dingin. Saya harus pulang, sementara Saleh harus melanjutkan tugas tanpa tuntutan untuk menjaga ruko-ruko itu. Lalu saya terpikir, mungkin benar, modal sosial mereka yang berada di sudut-sudut kota seperti Saleh begitu sederhana. Saling memberi dan menerima tanpa berhitung berapa banyak jumlah di dalamnya. Meski hanya selembar uang yang digenggam atau sebatang rokok. Mereka hidup terhormat, meski kerap lepas dari pandangan kita dan tidak pernah protes karena keadaan. (suria mamansyah). 

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda