PONTIANAK, SP - Usia boleh bertambah, tenaga semakin berkurang, rambut boleh semakin habis, tetapi pengabdian tidak mengenal kata berhenti. Kalimat itu seakan menemukan maknanya dalam sosok Bruder Stephanus Paiman, OFMCap.
Senin (28/9/2026), menjadi hari istimewa. Bukan hanya karena ia genap berusia 64 tahun, tetapi juga karena usia pengabdiannya bersama banyak orang terus bertumbuh dalam ruang-ruang kemanusiaan.
Di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Jalan Purnama 9, Kota Pontianak, tiga perayaan berlangsung dalam satu suasana penuh keakraban dan syukur: HUT ke-64 Bruder Stephanus Paiman, OFMCap, HUT ke-21 FRKP, serta HUT ke-8 West Borneo Vespa Lovers.
Tiga perayaan itu seperti tiga perjalanan yang bertemu pada satu titik: persaudaraan.
Ada perjalanan seorang Bruder yang mengabdikan hidupnya untuk sesama. Ada perjalanan sebuah forum yang selama 21 tahun bergerak dalam pelayanan kemanusiaan. Dan ada perjalanan komunitas Vespa yang selama delapan tahun merawat persahabatan, kebersamaan, serta semangat berbagi.
Di tengah semuanya, sosok Bruder Stephanus menjadi salah satu benang merah.
Bukan Sekadar Bertambah Usia
Perayaan ulang tahun bagi sebagian orang mungkin hanya tentang bertambahnya angka. Namun bagi Bruder Stephanus, usia adalah perjalanan panjang yang diisi dengan perjumpaan.
Perjumpaan dengan mereka yang membutuhkan pertolongan. Dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Dengan orang-orang yang berbeda agama, budaya, suku, dan cara pandang.
Dari perjumpaan itulah tumbuh sebuah keyakinan bahwa kemanusiaan tidak pernah mengenal sekat.
Selama 21 tahun bersama FRKP, Bruder Stephanus menjadi bagian dari perjalanan panjang pelayanan kemanusiaan. Ia hadir bukan hanya sebagai seorang rohaniwan, tetapi juga sebagai sahabat bagi banyak orang.
Sosoknya seolah mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia hadir melalui tangan yang membantu, telinga yang mau mendengar, langkah yang datang ketika orang lain membutuhkan, dan hati yang tidak mudah menutup diri.
Karena itu, ucapan selamat ulang tahun untuk Bruder Stephanus bukan sekadar ucapan atas keberkahan usia.
Lebih dari itu, ada doa agar setiap tahun yang diberikan Tuhan menjadi kesempatan baru untuk terus menghadirkan kebaikan.
Selamat atas keberkahan usia ke-64, Bruder Stephanus. Semoga senantiasa menjadi wujud malaikat nyata bagi semesta alam, hadir membawa kasih, menebarkan damai, merawat kemanusiaan, dan menjadi cahaya bagi mereka yang membutuhkan.
Tiga Perayaan, Satu Semangat
Suasana perayaan di Sekretariat FRKP berlangsung hangat. Tidak terasa seperti sebuah seremoni yang berjarak, melainkan perjumpaan keluarga besar yang dipersatukan oleh pengalaman, persahabatan, dan kepedulian.
HUT ke-21 FRKP menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan membutuhkan ketekunan. Dua dekade lebih bukan waktu yang singkat. Ada banyak cerita, tantangan, air mata, tawa, dan perjumpaan yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Sementara HUT ke-8 West Borneo Vespa Lovers menunjukkan bahwa sebuah komunitas dapat tumbuh bukan hanya karena kesamaan hobi, tetapi juga karena persaudaraan yang dibangun dari perjalanan bersama.
Vespa kemudian menjadi lebih dari sekadar kendaraan. Ia menjadi medium untuk bertemu, menyapa, menjalin persahabatan, dan dalam banyak kesempatan membuka jalan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Tiga perayaan tersebut akhirnya menyatu dalam satu pesan sederhana: hidup menjadi berarti ketika keberadaan kita memberi arti bagi orang lain.
Ketika Pengabdian Menjadi Warisan
Dalam perayaan tersebut, perjalanan Bruder Stephanus juga diabadikan melalui sebuah buku berjudul Bruder Stephanus Paiman, OFMCap: Ketua FRKP, Aplikasi Moderasi Beragama, Humanisme Lintas Budaya Wajah Gereja Katolik, karya Dominico Savio dan Juniardi Sucinda.
Buku itu bukan semata-mata catatan tentang seseorang.
Ia menjadi dokumentasi tentang sebuah perjalanan pengabdian. Tentang bagaimana kemanusiaan dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas.
Tentang bagaimana moderasi beragama bukan hanya menjadi gagasan, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dan tentang bagaimana humanisme lintas budaya dapat tumbuh ketika seseorang memilih untuk hadir, mendengarkan, memahami, dan membantu.
Pada akhirnya, usia 64 tahun Bruder Stephanus bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus melanjutkan langkah berikutnya.
Sebab dunia selalu membutuhkan orang-orang yang memilih untuk peduli.
Dunia membutuhkan mereka yang tetap membuka pintu ketika banyak orang memilih menutupnya.
Dunia membutuhkan tangan yang menolong tanpa terlebih dahulu bertanya siapa yang ditolong. Dan dunia membutuhkan manusia yang menjadikan hidupnya sebagai jalan bagi hadirnya kebaikan.
Mungkin itulah makna terdalam dari keberkahan usia. Bukan sekadar panjang umur, tetapi panjang manfaat. Bukan sekadar bertambah tahun, tetapi bertambah banyak kehidupan yang disentuh oleh kebaikan.
Selamat HUT ke-64, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap. Selamat HUT ke-21 Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak. Selamat HUT ke-8 West Borneo Vespa Lovers.
Semoga ketiganya terus menjadi bagian dari cerita panjang tentang persaudaraan, kemanusiaan, dan keberanian untuk berbuat baik.
Dan bagi Bruder Stephanus, semoga setiap langkah berikutnya selalu diberkahi, agar tetap menjadi malaikat nyata bagi sesama dan semesta, bukan dengan sayap, melainkan dengan hati, tangan, dan tindakan nyata. (mas mul, Jurnalis sahabat Bruder Stephanus Paiman)