Potret post authorBob 09 Januari 2026

Nyalakan Api Nasionalisme di Perbatasan: Maria Goreti Sapa Gen Z Jagoi Babang dengan Empat Pilar MPR RI

Photo of Nyalakan Api Nasionalisme di Perbatasan: Maria Goreti Sapa Gen Z Jagoi Babang dengan Empat Pilar MPR RI EMPAT PILAR - Anggota DPD RI/MPR RI, Maria Goreti, S.Sos., M.Si., melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama para siswa dan guru SMP dan SMK Bahtera yang berlokasi di Dusun Pareh, Desa Kumba, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang.

BENGKAYANG, SP  - Anggota DPD RI/MPR RI, Maria Goreti, S.Sos., M.Si., melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama para siswa dan guru SMP dan SMK Bahtera yang berlokasi di Dusun Pareh, Desa Kumba, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat nasionalisme dan jati diri kebangsaan generasi muda yang hidup di wilayah perbatasan langsung dengan Negara Malaysia.

Dalam kegiatan tersebut, Maria Goreti menegaskan bahwa wilayah perbatasan memiliki posisi strategis sekaligus rentan terhadap berbagai pengaruh dari luar.

Oleh karena itu, penguatan pemahaman terhadap Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi sangat penting, khususnya bagi para pelajar sebagai generasi penerus bangsa.

Sosialisasi diawali dengan penayangan materi audiovisual yang memuat pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 tentang lahirnya Pancasila. Melalui tayangan tersebut, para siswa diajak memahami sejarah panjang perumusan Pancasila sebagai dasar negara.

Maria Goreti menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari pergulatan pemikiran para pendiri bangsa untuk menemukan dasar negara yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang majemuk, baik dari segi suku, agama, budaya, maupun latar belakang sosial.

“Pancasila bukan sekadar teks sejarah, tetapi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Terutama bagi anak-anak bangsa yang hidup di perbatasan, Pancasila menjadi peneguh identitas bahwa kita adalah Indonesia,” ujar Maria Goreti di hadapan para siswa.

Lebih lanjut, Maria Goreti memaparkan Pancasila sebagai ideologi moderat yang mampu menjadi jalan tengah di tengah berbagai ideologi ekstrem yang berkembang di dunia.

Ia menjelaskan bahwa ekstremisme agama, komunisme, maupun liberalisme yang tidak berakar pada nilai-nilai kebangsaan dapat menjadi ancaman serius bagi persatuan dan jati diri bangsa.

Dalam konteks ini, Pancasila hadir sebagai ideologi yang menjunjung tinggi nilai religiusitas, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.

Menurutnya, Pancasila tidak menolak agama, tetapi justru menjamin kehidupan beragama yang rukun dan saling menghormati. Pancasila juga menolak paham yang meniadakan nilai kemanusiaan dan martabat manusia, sekaligus membentengi bangsa dari arus liberalisme yang berpotensi menggerus identitas nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Maria Goreti juga menekankan pentingnya membentuk manusia Indonesia yang Pancasilais. Manusia Pancasilais adalah manusia yang religius, moderat dalam bersikap, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta menjunjung tinggi martabat manusia.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus ditanamkan sejak dini kepada para pelajar agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan berjiwa kebangsaan.

Materi sosialisasi juga menyoroti relevansi Pancasila bagi Generasi Z. Maria Goreti menegaskan bahwa Pancasila bukanlah konsep usang yang hanya relevan pada masa lalu, melainkan sebuah filosofi hidup yang dinamis dan selalu aktual sepanjang zaman.

Di tengah derasnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, dan masuknya berbagai budaya asing, Pancasila dapat menjadi kompas moral bagi generasi muda dalam bersikap dan bertindak.

“Dengan menjiwai Pancasila, generasi muda tidak akan kehilangan identitas budayanya sebagai bangsa Indonesia. Kita boleh terbuka terhadap dunia, tetapi tetap harus memiliki jati diri yang kuat,” tegasnya.

Hal ini menjadi semakin penting bagi pelajar di wilayah perbatasan, yang dalam kehidupan sehari-hari bersentuhan langsung dengan budaya dan pengaruh dari negara tetangga.

Maria Goreti mengajak para siswa untuk mampu menyaring setiap pengaruh yang datang dari luar dengan menjadikan Pancasila sebagai nilai rujukan utama.

Dalam sesi dialog dan tanya jawab, para siswa dan guru menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan seputar penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Maria Goreti menegaskan bahwa keragaman suku, budaya, agama, dan perbedaan pilihan politik bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia apabila dikelola dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kebangsaan para pelajar SMP dan SMK Bahtera Jagoi Babang, sekaligus menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila, generasi muda di wilayah perbatasan diharapkan mampu menjadi benteng ideologis bangsa dan tetap teguh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda