PONTIANAK, SP - Langit malam di atas Kota Pontianak tampak teduh. Usai salat Isya, ribuan jemaah bertahan di shaf masing-masing. Mereka tak beranjak.
Perlahan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Muhajirin Yanis, melangkah menuju mimbar.
Suaranya tenang, namun sarat makna. Dalam tausiah kultum yang singkat tapi menggetarkan, ia mengajak jemaah merenungi satu pertanyaan sederhana: Apakah puasa kita benar-benar sampai kepada Allah, atau hanya menyisakan lapar dan haus. Atau hanya memindahkan jadwal jam makan, tanpa meninggalkan jejak ketakwaan?
“Betapa banyak orang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga,” ucapnya penuh kharisma, Ahad (22/2/2026 bertepatan 5 Ramadan 1447 H).
Kakanwil Kemenag menjelaskan, hal pertama yang dapat membatalkan puasa adalah berdusta (al-kadzib).
Bukan hanya kebohongan besar, tetapi juga dusta kecil yang dianggap sepele. Termasuk gurauan yang tak sesuai fakta, hingga menyebarkan hoaks di media sosial. “Di era digital ini, satu klik bisa menjadi dosa yang berlipat,” pesannya.
Kedua, ghibah. Membicarakan aib orang lain. Muhajirin mengajak jemaah membayangkan, bagaimana pahala puasa yang susah payah dikumpulkan, perlahan habis hanya karena lisan yang tak terjaga.
Ketiga, marah atau emosi berlebihan. Puasanya hanya bisa menahan lapar, tetapi tidak menjadikannya orang yang sabar. Tidak boleh salah sedikit, emosinya langsung memuncak.
Keempat, memandang dengan syahwat.
Sengaja memandang yang diharamkan dengan dorongan hawa nafsu. Menurutnya, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga mata, hati, dan pikiran.
Kelima, riya'. Melakukan ibadah hanya ingin mendapatkan pujian manusia. Amal kebaikannya tidak tulus. Maka, rugilah orang yang melakukan sesuatu hanya mengejar pujian manusia.
Kakanwil Muhajirin menegaskan, menghindari kelima perbuatan tersebut adalah ikhtiar agar puasa tidak sia-sia. “Jangan sampai kita lelah beribadah sebulan penuh, tetapi pulang tanpa pahala yang utuh,” ujarnya.
Kakanwil mengajak jemaah untuk senantiasa terus memperbaiki dan memantaskan diri naik kelas puasa, seperti yang diungkapkan Imam Al-Ghazali.
Malam itu, bukan hanya ilmu yang dibagikan, tetapi juga kesadaran yang ditanamkan. Hadir mendampingi, Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Kalbar, H. Mahmud, S.Ag, turut menyimak tausiah bersama para jemaah.
Ramadan datang bukan hanya menahan lapar dan haus. Namun lebih dari itu, ia adalah tentang menjaga lisan, menundukkan pandangan, dan membersihkan hati.
Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan sekadar rasa dahaga, melainkan sejauh mana puasa membentuk jiwa menjadi lebih bertakwa. (*)