Iptek post authorKiwi 16 April 2022

Humanoid Bermunculan: 'Teman Tidur' hingga Tentara Super!

Photo of Humanoid Bermunculan: 'Teman Tidur' hingga Tentara Super!

PERSIS fisik manusia dan bisa melakukan apa saja. Inilah cyborg alias humanoid (human android), istilah ilmuwan untuk robot berkecerdasan buatan (intelligence artficial/AI).

Robot humanoid  atau juga dikenal sebagai android, bisa  menjadi apa saja untuk keperluan manusia, dari 'hanya teman tidur', supir, pembantu rumah tangga, merakit mobil.

Bahkan, robot berteknologi AI bahkan menjadi tentara super yang tak mengenal takut dan kelelahan, dan menembak dalam presisi yang sangat akurat, seagaimana dilakukan oleh AS di Timur Tengah atau Rusia di berbagai medan tempur.

Hanya saja, robot tetaplah ciptaan manusia, karena tak satu pun mahluk yang mampu menandingi ciptaan Tuhan. 

Robot yang sudah dilengkapi teknologi AI sekalipun, tak bisa menunjukkan ekspresi layaknya manusia normal.

Paling tidak, saat robot ini menunjukkan ekspresinya, beda-tipis dengan 'manusia robot', alias manusia yang penampilannya kaku, sulit tersenyum apalagi tertawa.

Kalau pun tertawa,manusia mirip robot ini akan tertawa sendiri, untuk sesuatu yang dianggapnya lucu dalam versinya, dan tak dianggap lucu bagi manusia normal,  alias 'bukan manusia robot'.

Teknologi AI telah menjadi titik  api dari persaingan ketat antara AS dan China,  terutama untuk bidang  militer, baik tank, senjata, hingga android yang bentuknya mirip dalam film Hollywood, Terminator, yang dibintangi aktor Arnold Schwarzenegger.

Kendati begitu, khusus robot wanita, China tampil lebih unggul setelah Jepang sejak  2017. Robot humanoid berbentuk wanita sangat cantik ini, bisa melakukan apa saja.

Bahkan membantu meringankan tugas kaum ibu rumah tangga untuk mencuci piring, bisa dilakukannya, dan pada malam hari, kerap  'disalahgunakan'  oleh sang suami.

Kehadiran robot wanita ini memang cenderung dijadikan sebagai objek pemuas nafsu. Selain berpenampilan super seksi, pabrik pembuatnya menawarkan robot ini dalam paket yang serba lengkap.

Bahkan,  ada kepala cadangan dengan wajah berbeda, atau wadah penampung 'cairan kelelakian' yang bisa dibongkar pasang.

Dilansir dari Phys.Org, 9 Januari 2017,  harga paket komplit ini berkisar antara 200-500 dolar AS, misalnya produk dari   Brand Management Co Ltd di Guangdong, China.

Bahkan, sejak 2017, ribit humanoid bernama Jia Jia menghebohkan ketika tampil perdana. Jia Jia dapat melakukan percakapan sederhana dan membuat ekspresi wajah tertentu ketika ditanya.

Dianggap sebagai robot mirip manusia pertama di dunia, Jia Jia pertama kali diluncurkan oleh tim insinyur di Universitas Sains dan Teknologi China.

Pemimpin tim,  Chen Xiaoping terdengar seperti ayah yang bangga saat tampil bersama prototipenya di sebuah konferensi wartawan ekonomi yang diselenggarakan oleh raksasa perbankan UBS di pusat keuangan futuristik di Shanghai.

Chen mengklaim, robot AI seperti Jia Jia bisa pula melakukan berbagai tugas kasar di restoran China, panti jompo, rumah sakit, dan rumah tangga.

Dengan rambut hitam tergerai dan mengenakan pakaian tradisional Tiongkok, Jia Jia terlihat sangat nyata.

Namun,  pesonanya memiliki batas dan pertanyaan sederhana sering membuatnya bingung.

Namun, Chen mengaku timnya telah bekerja keras selama dua tahun terakhir dalam mengembangkan AI-nya.

Karena tu,  Jia Jia mampu secara akurat menjawab pertanyaan tentang cuaca hari itu, mengadakan percakapan dasar,  dan mengenali jenis kelamin yang bertanya.

"Kamu pria yang tampan," Jia Jia memuji seorang wartawan yang bertanya.

Ketika ditanya kemudian apakah dia punya pacar, Jia Jia menjawab, "Aku lebih suka tetap melajang."

Menurut Chen,  pertumbuhan kemakmuran menyebabkan banyak anak muda China menghindari pekerjaan tertentu semisal pramusaji, sementara populasi yang menua membutuhkan lebih banyak bantuan. Chen juga membantah pertanyaan tentang kemungkinan bahwa kehidupan manusia kelak akan dikuasai oleh humanoid, seperti dalam film-film fiksi ilmiah.

“Selama ini (humanoid) dilakukan secara bertahap dan terkendali, saya kira tidak akan berdampak besar bagi masyarakat. Tidak akan merugikan umat manusia,” katanya.

Pembuatan Jia Jia sendiri, dilakukan dengan menghindari ketakutan tersebut. Dilansir dari Asia Newsable, 7 Januari 2017, Jia Jia dapat dikendalikan menggunakan teknologi komputasi awan (cloud).  Jia Jia memiliki gerakan mata yang alami, dan dapat berbicara dalam bahasa Inggris dan Mandarin, dirancang untuk mengenali interaksi manusia-mesin, dan memiliki fasilitas navigasi otonom sehingga tak beda dengan penampilan manusia. 

Humanoid ini memiliki gerakan mata alami dan dapat berbicara selaras dengan gerakan bibirnya,. memberikan jawaban yang akurat untuk pertanyaan tentang cuaca dan mengadakan percakapan dasar. 

Bentuk wajah Jia Jia diuat dari wajah seorang mahasiswi dari Universitas Sains dan Teknologi China di Hefei, Ibukota Provinsi Anhui, China timur.

Humanoid ini dirancang untuk mengenali interaksi manusia - mesin,  dan memiliki fasilitas navigasi otonom, serta memiliki gerakan lengan dan kaki yang sederhana, memutar kepalanya, dan dapat membungkuk.

Kehadiran humanoid, menurut Reuters,  diklaim akan mengubah China menjadi  pembangkit tenaga AI, dan menanamkan teknologi di semua aspek kehidupan, tapi oneka seks adalah lebih cepat untuk mendapatkan untung.

WMDOLL, salah satu pembuat boneka wanita humanoid terbesar di China, berbasis di provinsi tenggara Guangdong, meluncurkan apa yang disebutnya boneka bertenaga AI sejak akhir 2016.

Menawarkan fitur mulai dari percakapan sederhana hingga gerakan mata, lengan, dan dada, pelanggan dapat mempersonalisasi bonekanya dengan memilih berbagai pilihan penampilan termasuk tinggi, gaya rambut, dan warna mata.  

Hanya saja, fitur AI pada boneka masih sangat mendasar: mereka dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat melakukan percakapan lebih lama.  Boneka itu menggunakan kosakata dengan menghubungkan ke database yang didukung oleh raksasa teknologi China,  Baidu. Pihak perusahaan mengakui bahwa peningkatan sebagian fitur itu  sulit karena para ahli tidak tertarik untuk berusaha keras mengembangkan teknologi AI untuk produk boneka bagi pembeli dewasa. 

“Tentu saja kami tidak berharap membuat boneka AI kami seperti manusia, lagipula kami hanya membuat produk dewasa,” kata Liu Ding, manajer produk WMDOLL.  

"Tapi,  kami pasti akan menambahkan teknologi yang lebih maju... misalnya membuat anggota badan bergerak lebih alami," lanjutnya. WMDOLL   telah menjual lebih dari 20 boneka AI, dengan harga antara 10.000 yuan dan 50.000 yuan (1.470 hingga 7.350 dolar AS), dibandingkan dengan penjualan tahunan 20.000 boneka. Perusahaan berharap boneka AI pada akhirnya akan lepas landas dengan pelanggan luar negeri, termasuk di AS, di mana ekspornya menyumbang 80 persen dari penjualan. 

Saingan ketatmya,  EXDOLL juga tak mau kalah. Dilansir dari AFP,  2 Februari 2018, hal ini krena China menghadapi kesenjangan gender yang besar dan populasi yang beruban. Itu sebabnya EXDOLL ingin menghubungkan pria dan pensiunan yang kesepian dengan jenis pendamping baru: boneka wanita 'pintar', yang dapat berbicara, memutar musik, dan menyalakan mesin pencuci piring. Deretan badan silikon boneka wanita yang menggairahkan,  tergantung di gudang EXDOLL, sebuah perusahaan yang berbasis di kota pelabuhan timur laut Dalian. Para insinyur juga bekerja untuk menghidupkannya.

Seorang programmer dengan jas lab bertanya kepada prototipe pirang mungil yang duduk di kursi dan mengenakan blus putih tembus pandang: "Siapa namamu?" “Namaku Xiaodie,  tapi kamu juga bisa memanggilku sayang. Tapi kalau saya tidak senang,  saya tidak akan menjawab,” kata suara robotik itu melalui pengeras suara, meski bibirnya tidak bergerak.  

Banyak Dibuat China karena Minus Wanita

EXDOLL memiliki ambisi untuk menerapkan AI, untuk membuat boneka menjadi seperti aslinya sehingga dapat menyembuhkan kesepian di antara para lajang di negara itu, juga merawat orang tua dan orang cacat. Ada 33,6 juta lebih banyak pria daripada wanita di China yang berpenduduk 1,4 miliar orang itu.  

Kesenjangan ini dikaitkan dengan kebijakan satu anak sebelumnya di China,  dan preferensi tradisional untuk anak laki-laki, yang telah menyebabkan aborsi selektif dan ilegal.  

Sekitar 114 anak laki-laki lahir untuk setiap 100 anak perempuan, jauh di atas rata-rata global. China juga memiliki populasi yang menua dengan cepat, yang membebani sistem perawatan kesehatan dan kesejahteraan sosial. 

Direktur pemasaran Wu Xingliang mengakui,  produk perusahaannya dapat memecahkan masalah sosial utama negara itu.

“China kekurangan wanita, dan ini adalah faktor mengapa ada permintaan ini, tetapi mereka tidak hanya untuk seks,” kata Wu, yang pelanggannya termasuk pria lajang dan tua tetapi juga yang sudah menikah.

 “Kami mendesainnya sehingga mereka dapat melakukan percakapan yang bermakna dengan Anda dan membantu pekerjaan rumah. Mereka akhirnya bisa bekerja sebagai asisten medis atau resepsionis,” kata Wu.

Boneka menggairahkan ini dilengkapi dengan fungsi wifi,  yang mirip dengan aplikasi Siri iPhone sehingga dapat menjelajahi internet dan merespons perintah suara.

Boneka ini juga dapat menghidupkan dan mematikan peralatan rumah tangga yang terhubung ke wifi.

Perbedaaan antara Robotika dan AI

Dilansir dari AI Business, 26 November 2021, robotika dan AI alias kecerdasan buatan,  adalah dua disiplin ilmu yang sangat berbeda.

Meskipun Anda dapat memiliki robot dengan kecerdasan buatan, robotika juga dapat berkembang tanpa AI, dan memang sebagian besar sistem saat ini melakukannya.

Robotika adalah cabang ilmu teknik dan komputer,  di mana mesin dibangun untuk melakukan tugas terprogram, tanpa campur tangan manusia lebih lanjut.

Itu definisi yang cukup luas dan mencakup semuanya, mulai dari lengan mekanis sederhana yang merakit mobil, hingga sesuatu yang keluar dari fiksi ilmiah,  seperti Wall-E atau robot rumah Astro 'Alexa on wheels' dari Amazon.

Secara tradisional, robot digunakan ketika tugas terlalu sulit bagi manusia,  untuk dilakukan dengan baik. Misalnya, dlam tugas perakitan mesin atau bodi mobil.

Robot akan melakukan tugas melelahkan yang sama berulang-ulang setiap hari. Manusia akan bosan, lelah atau keduanya,  dan saat itulah kesalahan masuk.

Apakah robotika dan kecerdasan buatan adalah hal yang sama? Meskipun terkadang (salah) digunakan secara bergantian, robotika dan AI adalah hal yang sangat berbeda.

AI adalah di mana sistem meniru pikiran manusia untuk belajar, memecahkan masalah dan membuat keputusan dengan cepat, tanpa memerlukan instruksi yang diprogram secara khusus.

Robotika adalah tempat robot dibangun dan diprogram untuk melakukan tugas yang sangat spesifik.

Dalam kebanyakan kasus, ini tidak memerlukan kecerdasan buatan, karena tugas yang dilakukan dapat diprediksi, berulang, dan tidak memerlukan 'pemikiran' tambahan.

Meskipun demikian, robotika dan AI dapat hidup berdampingan. Proyek yang menggunakan AI dalam robotika adalah minoritas, tetapi desain seperti itu,  kemungkinan akan menjadi lebih umum di masa depan karena sistem AI kami menjadi lebih canggih.

Pertanian, Industri hingga Suntikkan  Vaksin Corona

Contoh robot yang paling jelas untuk rumah tangga yang menggunakan AI,  adalah bot Astro Amazon. Robot menggunakan AI untuk bernavigasi secara mandiri di sekitar rumah, bertindak sebagai mata dan telinga saat Anda tidak ada berkat kamera periskop. 

Ini tidak sepenuhnya baru, karena penyedot debu robot juga dapat bernavigasi di sekitar furnitur. Tapi di sini juga, AI memainkan peran yang lebih besar. Perusahaan iRobot, misalnya, menggunakan pembelajaran mesin dan AI untuk mengenali dan menghindari kotoran hewan peliharaan. 

Adapun cakupan AI robotik di bidang manufaktur, juga dikenal sebagai Industri 4.0, berpotensi lebih transformasional. Ini bisa sesederhana robot yang secara algoritme menavigasi jalan di sekitar gudang yang sibuk, tetapi perusahaan seperti Vicarious menggunakan AI pada robot turnkey yang tugasnya terlalu rumit untuk otomatisasi terprogram. Tidak sendirian dalam hal ini.

Contoh lain tentang bagaimana robot digunakan dalam manufaktur termasuk Shadow Dexterous Hand, yang cukup gesit untuk memetik buah lunak tanpa menghancurkannya yang berpotensi menjadikannya terlibat di bidang farmasi. Sedangkan robot lainnya, Robot Pemantau Situs Scaled Robotics, dapat berpatroli di lokasi konstruksi, memindai proyek, dan menganalisis data untuk kemungkinan masalah kualitas. 

Sementara untuk bisnis, yang perlu mengirim barang dalam radius empat mil, robot pengiriman Starship Technologies adalah inovasi yang cerdas. Dilengkapi dengan sistem pemetaan, sensor, dan AI, robot kecil beroda ini dapat mengetahui rute terbaik untuk diambil dengan cepat, sambil menghindari bahaya dunia luar. Di ruang katering, segalanya menjadi lebih mengesankan.

Flippy dari Miso Robotics menggunakan 3D dan penglihatan termal untuk belajar dari dapurnya, dan dapat memperoleh keterampilan baru dari waktu ke waktu, termasuk cara membalik burger.  Di bidang lain, seperti medis, akalngan profesional di bidang ini  sering lelah karena terlalu banyak bekerja.

Padahal, dalam dunia perawatan kesehatan, kelelahan dapat berakibat fatal. Tapi, robot tidak lelah, yang berpotensi menjadikannya pengganti yang sempurna, bahkan mampu melakukan operasi dengan akurasi luar biasa dan 'tangan' yang stabil. Tetapi, robot tidak harus mampu melakukan tugas ahli bedah yang sangat terlatih agar berguna. Contoh robot yang lebih mendasar dalam perawatan kesehatan, dapat membebaskan waktu petugas medis dengan menangani pekerjaan dengan keterampilan yang lebih rendah.  

Moxi, misalnya, dapat melakukan segalanya mulai dari mendistribusikan APD hingga menjalankan sampel pasien, sehingga para dokter manusia memiliki lebih banyak waktu untuk merawat. Dan selama pandemi virus corona, Cobionix menciptakan robot yang dapat memberikan vaksinasi tanpa jarum, tanpa memerlukan pengawasan manusia apa pun. 

Seperti dalam perawatan kesehatan, masa depan robotika di bidang pertanian dapat membuat kekurangan tenaga kerja dan kelelahan pekerja tidak terlalu terasa. Tetapi,  ada potensi keuntungan besar lainnya yang keberlanjutan.  

Iron Ox, misalnya, menggunakan AI dan robotika untuk mencoba,  dan memastikan bahwa setiap tanaman mendapatkan tingkat optimal sinar matahari, air, dan nutrisi yang dibutuhkan untuk memastikannya tumbuh secara maksimal. Dengan setiap pabrik yang dianalisis dengan robotika dan AI, lebih sedikit air yang terbuang dan pertanian menghasilkan lebih sedikit limbah.  Idenya adalah bahwa AI akan terus belajar dari data, meningkatkan hasil panen di masa depan juga. Contoh lain dari robot yang digunakan dalam pertanian adalah Agrobot E-Series.  

Tidak hanya dapat memanen stroberi dengan 24 lengan robotnya, tetapi juga menggunakan kecerdasan buatan untuk menilai kematangan setiap buah yang dipanen. Sementara di luar angkasa, NASA terus meningkatkan kecerdasan buatan untuk wahana penjelajah Mars,  dan mengerjakan robot perbaikan satelit otomatis.  

Perusahaan lain tertarik untuk meningkatkan eksplorasi ruang angkasa melalui robotika dan AI. CIMON Airbus, misalnya, mengerahkan robot Alexa di luar angkasa. Robot ini dirancang untuk membantu astronot dengan tugas sehari-hari, dan mengurangi stres melalui pengenalan suara, sementara juga beroperasi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi masalah. 

Di bidang militer, masa depan senjata AI sangat nyata,  dan drone militer otonom telah melihat pertempuran yang sebenarnya.***

Penulis & Editor: Patrick COG Sorongan

Sumber: Phys.Org, Asia Newsable, Reuters, AI Business, AFP     

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda