TRENGGALEK,SP - Komitmen pemberdayaan perempuan kembali ditegaskan Anggota DPR RI Novita Hardini dalam kunjungan ke KWT Mawar Desa Jambu, Kecamatan Tugu, Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (14/2/2026). Melalui Program Perempuan SARINAH (Selesaikan Masalah Sampah Organik dan Limbah), ia mendorong perempuan menjadi motor penggerak ketahanan pangan sekaligus solusi persoalan lingkungan.
Di hadapan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), Novita menekankan pentingnya membangun daerah tanpa mengeksploitasi alam. Menurutnya, pembangunan harus berpijak pada keberlanjutan dan kekuatan komunitas perempuan.
“Kita ingin membangun ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan ketahanan perempuan. Jangan sampai eksploitasi hari ini mengorbankan masa depan anak cucu kita,” tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.
Melalui program tersebut, KWT didorong menjadi pionir pengolahan sampah organik rumah tangga, limbah dapur SPPG, hingga limbah produksi menjadi pupuk organik. Langkah ini dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu mahalnya pupuk dan meningkatnya volume sampah.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan minyak jelantah dan pemilahan sampah secara terstruktur agar tidak lagi dibakar atau dibuang sembarangan.
“Kita ingin Trenggalek menuju zero sampah. Sampah tidak boleh dibakar, harus diolah agar punya nilai ekonomi,” ujar Legislator Dapil Jawa Timur VII yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan dan Magetan.
Gerakan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan target pembangunan rendah emisi di daerah, sekaligus memperkuat posisi perempuan sebagai penggerak ekonomi berbasis lingkungan.
Sebelumnya pada Kamis (12/2) dan Jumat (13/2) Novita juga melakukan kunjungan ke KWT Desa Munjungan, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Pada kesempatan tersebut Novita juga mendorong peran strategis perempuan dalam mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Hal ini dinilai bisa menjadi solusi atas kelangkaan dan mahalnya harga pupuk.
“Di satu sisi pupuk sulit dan mahal, di sisi lain sampah organik melimpah dan mencemari lingkungan. Jika dikelola dengan baik oleh KWT, ini bisa menjadi solusi yang berkelanjutan,” ujar Novita yang bertugas di Komisi VII DPR RI itu.
Ia mengajak perempuan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayur dan buah guna menekan biaya hidup keluarga. Menurutnya, pemberdayaan perempuan di sektor pertanian tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi jawaban konkret atas persoalan lingkungan.
“Kita dukung target Net Zero Carbon dengan memberdayakan KWT. Sampah organik harus diolah, bukan dibuang. Ini tentang membangun ekosistem yang berkesinambungan,” ujarnya.
Novita berkomitmen secara konsisten memberikan dorongan kepada perempuan di Trenggalek agar dapat menjadi subjek utama pembangunan. Menurutnya perempuan berdaya menggerakkan ketahanan pangan dari pekarangan rumah, sekaligus menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah bernilai ekonomi.
SMAN 1
Selain itu, di SMAN 1 Munjungan, suasana dialog berlangsung riuh dan penuh antusiasme. Di hadapan para siswa, Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan lulusan untuk sektor formal semata. Dunia kerja, telah berubah, dan industri kreatif menjadi ruang baru yang terbuka luas bagi generasi muda.
“Saya ingin mendorong sekolah lebih serius menyiapkan masa depan anak-anak kita. Dunia kerja tidak hanya formal. Industri kreatif seperti gaming, perfilman, animasi, hingga digital marketing memiliki potensi besar dan bisa dimasuki anak-anak muda hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ekosistem industri kreatif tidak hanya membutuhkan figur di depan layar, tetapi juga talenta di balik layar; mulai dari penulis, editor, animator, hingga tenaga kreatif berbasis literasi dan teknologi. Karena itu, ia mendorong sekolah menghadirkan ekstrakurikuler yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti teater, koding, dan pelatihan kreatif digital.
Bagi Novita, ruang-ruang kreatif tersebut bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan pintu masuk menuju kemandirian ekonomi sejak dini. Generasi muda, tegasnya, perlu membangun pengalaman dan keterampilan lebih awal agar siap menghadapi dinamika industri yang terus bergerak.
“Saya pernah muda. Semakin cepat kita mencoba dan bekerja, semakin banyak pengalaman dan keterampilan yang kita miliki. Itu yang akan membentuk masa depan kita,” pesan Novita.
Respons positif datang dari para siswa. Mereka mengaku mendapatkan perspektif baru tentang bagaimana platform digital dapat menjadi instrumen produktif, bukan sekadar ruang hiburan.
Pesan tentang kemandirian dan pemberdayaan itu tidak berhenti di lingkungan sekolah. Di hari yang sama, Novita menemui Guru PPG Non Sertifikasi di Desa Masaran, Kecamatan Munjungan. Dalam pertemuan tersebut, ia menyerap aspirasi terkait kesejahteraan sekaligus menawarkan solusi alternatif yang bisa segera dijalankan.
Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru memang harus diperjuangkan di tingkat kebijakan. Namun, di saat yang sama, peluang ekonomi berbasis UMKM dan digital dapat menjadi langkah taktis untuk menambah penghasilan.
“Saya tidak bisa membiarkan masalah ini tanpa solusi. Karena itu, saya tawarkan inkubasi UMKM dan peluang menjadi affiliate atau konten kreator agar para guru memiliki tambahan penghasilan,” ujar Legislator Dapil Jawa Timur VII yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan dan Magetan.
Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang bermitra dengan kementerian di bidang UMKM dan ekonomi kreatif, ia menilai transformasi digital telah membuka akses usaha tanpa batas geografis. Siapa pun, termasuk guru, dapat memanfaatkan platform digital secara kreatif untuk menciptakan nilai tambah.
“Dengan memanfaatkan platform digital secara kreatif, penghasilan tambahan itu sangat mungkin. Ini bisa menjadi solusi sementara untuk meringankan beban mereka,” tambahnya.
Meski menyambut positif tawaran inkubasi UMKM tersebut, para guru tetap berharap adanya kejelasan status dan peningkatan kesejahteraan yang diperjuangkan di tingkat nasional. Menanggapi hal itu, Novita menyatakan komitmennya untuk mengawal aspirasi tersebut melalui koordinasi lintas komisi di DPR RI.
Melalui kreativitas, keberdayaan ekonomi tidak lagi dibatasi ruang dan latar belakang profesi. Menurut Novita, baik siswa maupun guru memiliki peluang yang sama untuk tumbuh melalui UMKM dan industri kreatif, sepanjang diberikan akses, pendampingan, serta keberanian untuk memulai.(nif)