Ponticity post authorelgiants 15 Februari 2026

Mahasiswa Ilmu Kelautan UNOSO Turun Langsung ke Lemukutan, Rawat Terumbu Karang

Photo of Mahasiswa Ilmu Kelautan UNOSO Turun Langsung ke Lemukutan, Rawat Terumbu Karang PRATIKUM TERPADU - Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas OSO melaksanakan praktikum terpadu di Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pulau Lemukutan.

PONTIANAK, SP - Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas OSO turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar praktik akademik, tetapi juga bagian dari kontribusi nyata menjaga ekosistem laut tropis.

Di Pulau Lemukutan yang berstatus sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD), mereka melaksanakan kegiatan praktikum terpadu sebagai bagian penting dari kurikulum. Praktikum ini dirancang untuk mengintegrasikan teori yang dipelajari di kelas dengan pengalaman langsung di lapangan, sekaligus memperkuat keterampilan teknis dan analisis mahasiswa dalam memahami dinamika ekosistem laut.

Sejumlah mata kuliah inti terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari Oseanografi Fisika, Oseanografi Kimia, Ekologi Laut Tropis, Koralogi, hingga Planktonologi. Mahasiswa melakukan pengukuran parameter oseanografi, pengambilan sampel, hingga analisis laboratorium. 

Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman konseptual, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan riset dan pengelolaan sumber daya kelautan.

Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah Transplanted Coral Check, yakni pemantauan karang hasil transplantasi yang dilakukan empat bulan sebelumnya. Dalam kegiatan ini, mahasiswa mengamati pertumbuhan karang, mencatat perubahan morfologi, serta menilai tingkat kalsifikasi yang terjadi.

Hasilnya menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Proses kalsifikasi berlangsung cepat dan nyata. Faktor biologis, ekologis, hingga teknis disebut berperan penting, termasuk kondisi perairan yang relatif stabil, keberadaan organisme pendukung, serta metode transplantasi yang tepat.

Temuan tersebut menjadi bukti bahwa konservasi berbasis ilmiah dapat memberikan hasil positif dalam waktu relatif singkat.

Kaprodi Ilmu Kelautan Universitas OSO, Zan Zibar, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata integrasi teori dan praktik.

“Mahasiswa tidak hanya belajar konsep di kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana teori tersebut bekerja di lapangan. Praktikum di Pulau Lemukutan sekaligus memperkuat komitmen kami dalam mendukung kawasan konservasi perairan daerah,” ujarnya, kemarin.

Zan Zibar menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan sinergi lintas sektor.

“Integrasi kegiatan kampus, industri, NGO, pemerintah, dan masyarakat sangat krusial dalam memberikan input data yang akurat dan berkelanjutan di kawasan konservasi. Melalui riset dan pemberdayaan, kita dapat memastikan bahwa setiap langkah konservasi memiliki dasar ilmiah sekaligus melibatkan masyarakat sebagai pemangku kepentingan utama,” tegasnya.

Ia juga merekomendasikan agar kegiatan transplantasi karang dilakukan secara periodik sebagai bagian dari strategi keberlanjutan ekosistem terumbu karang di Kalimantan Barat.

“Upaya ini bukan hanya menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang di Kalbar, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam melestarikan sumber daya laut tropis yang sangat berharga,” tutupnya.

Sementara itu Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) Universitas OSO, Dodi, menilai kegiatan tersebut mencerminkan implementasi nyata pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang selaras dengan standar mutu pendidikan tinggi.

“Kegiatan praktikum yang mengintegrasikan riset lapangan, kolaborasi lintas sektor, serta keterlibatan masyarakat merupakan contoh praktik baik dalam peningkatan mutu pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya memperoleh kompetensi akademik, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir kritis, etika penelitian, serta kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, model pembelajaran kontekstual seperti ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

“Ke depan, kami berharap praktik-praktik pembelajaran berbasis konservasi dapat menjadi bagian integral dari sistem penjaminan mutu akademik di Universitas OSO,” jelas Dodi.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar yang jauh lebih hidup. Salah satu mahasiswa Manti Julisty mengaku optimistis setelah melihat langsung pertumbuhan karang hasil transplantasi.

“Kami bisa melihat sendiri bagaimana karang hasil transplantasi tumbuh dengan cepat. Hal ini membuat kami semakin yakin bahwa konservasi berbasis ilmiah sangat penting,” tuturnya.

Mahasiwa lainnya Eksan menambahkan bahwa kegiatan ini melatih ketelitian dalam pengambilan data dan analisis. Lalu Rama menilai pengalaman tersebut membuka wawasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus memotivasi mereka untuk terus berkontribusi dalam upaya konservasi.

Dukungan juga datang dari masyarakat setempat. Warga Desa Pulau Lemukutan, Afriandi, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan praktikum tersebut.

“Kami sebagai masyarakat sangat mendukung kegiatan ini. Kehadiran mahasiswa memberi manfaat besar, bukan hanya untuk penelitian tetapi juga untuk kesadaran bersama dalam menjaga laut. Pulau Lemukutan adalah rumah kami, dan dengan adanya kegiatan konservasi, kami yakin ekosistem laut akan tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ungkap Afriandi. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda