Potret post authorBob 14 April 2026

Dari Kalbar, “Pantunin AI” Resmi Meluncur: Aplikasi Pantun Berbasis AI Pertama di Dunia

Photo of Dari Kalbar, “Pantunin AI” Resmi Meluncur: Aplikasi Pantun Berbasis AI Pertama di Dunia

PONTIANAK, SP - Inovasi literasi berbasis digital kembali mencuat dari Kalimantan Barat. Aplikasi Pantunin AI, platform yang mampu menghasilkan pantun berbasis kecerdasan buatan, resmi melakukan soft launching dan kini telah tersedia di Play Store.

Keunggulan aplikasi ini terletak pada basis datanya. Algoritma Pantunin AI “diinjeksi” dari karya-karya maestro pantun Agus Muare.

"Pantun yang dihasilkan tidak sekadar acak, tetapi memiliki struktur, rima, dan kedalaman makna yang terjaga.

Kami meyakini pantun yang dihasilkan lebih baik dari keluaran Chatgpt atau gemini," ujar Yaser Syaifudin, founder Pantunin AI tanpa berkesan jumawa.

Dikembangkan dari Kalimantan Barat, aplikasi ini diklaim sebagai yang pertama di dunia yang secara khusus mengolah pantun dengan pendekatan algoritmik, namun tetap berpijak pada kaidah dan sastra Melayu.

“Pantun bukan sekadar susunan kata, melainkan marwah bangsa Melayu. Kehadiran aplikasi ini adalah cara kita memastikan bahwa di tengah gempuran budaya asing, pantun tetap berdiri tegak sebagai identitas yang relevan dengan zaman,” ujar Agus Muare, pria yang kerap dijuluki raja pantun Kalbar ini saat ditemui Senin, 13 April 2026.

Di tengah dominasi konten digital yang serba cepat dan instan, Pantunin AI hadir dengan pendekatan berbeda: menghidupkan kembali tradisi lisan ke dalam ruang digital yang lebih personal dan masif.

Agus menilai, salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian pantun adalah jarak psikologis generasi muda terhadap tradisi tersebut. Banyak yang menganggap berpantun sebagai sesuatu yang rumit dan kaku.

“Banyak anak muda merasa berpantun itu sulit karena takut salah rima atau suku kata. Aplikasi ini hadir untuk memutus rasa takut itu. Ini pintu masuk bagi generasi Z untuk mulai mencintai sastra lisan dengan cara yang asyik dan membahagiakan,” katanya.

Secara teknis, pengguna hanya perlu memasukkan tema atau kata kunci, dan mesin akan menghasilkan pantun yang relevan. Fitur ini membuka peluang pemanfaatan yang luas, mulai dari komunikasi sehari-hari di media sosial hingga kebutuhan konten kreatif.

Lebih dari sekadar aplikasi hiburan, Pantunin AI juga diposisikan sebagai bagian dari strategi pelestarian warisan budaya tak benda melalui pendekatan digital.

Yaser menambahkan, “Digitalisasi adalah strategi adaptif untuk mendokumentasikan warisan budaya tak benda. Dengan aplikasi ini, pantun tidak lagi hanya hadir di panggung pengantin atau acara adat, tetapi masuk ke ruang-ruang privat seperti WhatsApp dan media sosial sebagai literasi budaya harian."

Peluncuran ini sekaligus menegaskan bahwa inovasi digital tidak selalu harus berangkat dari kota besar. Dari Kalimantan Barat, Pantunin AI mencoba menawarkan model baru: teknologi yang tumbuh dari akar budaya lokal, namun relevan untuk konsumsi global.

Ke depan, Yaser dan Agus Muare membuka peluang pengembangan lanjutan, termasuk fitur interaksi komunitas, kurasi pantun pengguna, hingga integrasi lintas platform. Banyak fitur-fitur kejutan yang telah disiapkan.

"Ini baru memasuki taraf ujicoba, insya Allah kita akan mengadakan softlaunching di akhir April. Kita mengundang berbagai pihak untuk terlibat dan turut serta dalam acara tersebut," pungkas Yaser. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda