PONTIANAK, SP – Atlet panjat tebing kebanggaan Kota Pontianak, Veddriq Leonardo, kembali mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 itu sukses merebut medali emas nomor speed putra pada World Climbing Series Chamonix 2026 yang berlangsung di Chamonix, Prancis, Minggu (12/7/2026).
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena Veddriq berhasil bangkit setelah menjalani masa pemulihan akibat cedera yang sempat menghambat program latihannya.
Indonesia bahkan memastikan dominasi di nomor speed putra setelah partai final mempertemukan dua atlet Merah Putih, yakni Veddriq Leonardo dan Antasyafi Robby Al Hilmi.
Pada laga puncak, Veddriq tampil tenang dan penuh percaya diri. Ia mencatatkan waktu 4,89 detik, mengungguli Antasyafi yang membukukan waktu 5,11 detik. Hasil itu memastikan medali emas dan perak menjadi milik Indonesia.
Sementara medali perunggu diraih atlet Jepang, Ryo Omasa, yang mencatatkan waktu 4,701 detik pada perebutan tempat ketiga.
Usai pertandingan, Veddriq mengaku sangat bersyukur akhirnya kembali meraih medali emas setelah perjuangan panjang menghadapi cedera.
"Saya merasa luar biasa. Saya sangat bersyukur. Ini adalah medali emas pertama saya setelah Olimpiade dan butuh waktu yang lama untuk meraihnya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Pencapaian ini sangat berarti bagi saya," ujar Veddriq, dikutip dari laman resmi World Climbing.
Bangkit dari Masa Sulit
Keberhasilan di Chamonix menjadi momen emosional bagi Veddriq. Ia mengungkapkan bahwa proses pemulihan cedera membuatnya belum dapat menjalani latihan secara maksimal dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, atlet asal Pontianak tersebut mampu menunjukkan mental juara dan kembali berdiri di podium tertinggi dunia.
"Saya belum bisa memanjat dengan baik karena belum bisa berlatih secara maksimal. Saya sudah memberikan yang terbaik dan menurut saya ini adalah pencapaian yang luar biasa," katanya.
Veddriq mengaku persiapannya menuju tiga seri dunia berlangsung jauh dari ideal.
"Saya hampir tidak menyentuh dinding saat latihan, lalu langsung bertanding di Madrid, Krakow, dan sekarang di Chamonix. Saya benar-benar bersyukur atas hasil ini," ujarnya.
Kemenangan di Chamonix menjadi penanda bahwa Veddriq telah berhasil melewati masa sulit sekaligus kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu pemanjat tercepat di dunia.
Dominasi Indonesia Berlanjut
Meski harus puas dengan medali perak, Antasyafi Robby Al Hilmi juga tampil impresif sepanjang kompetisi. Ia tampil konsisten sejak babak kualifikasi hingga memastikan Indonesia menciptakan all Indonesian final di ajang bergengsi tersebut.
Keberhasilan dua atlet Indonesia menguasai podium pertama dan kedua kembali menegaskan dominasi Merah Putih di nomor speed putra pada World Climbing Series 2026.
Hasil di Chamonix juga melanjutkan tren positif Indonesia pada musim kompetisi tahun ini. Sebelumnya, pada seri Krakow, Indonesia berhasil membawa pulang empat medali, yakni satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Medali emas saat itu dipersembahkan oleh Desak Made Rita Kusuma Dewi di nomor speed putri.
Dengan tambahan satu emas dan satu perak di Chamonix melalui Veddriq Leonardo dan Antasyafi Robby Al Hilmi, Indonesia kini telah mengoleksi enam medali sepanjang World Climbing Series 2026, terdiri atas dua medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu.
Prestasi tersebut semakin mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama dunia di nomor speed panjat tebing sekaligus menunjukkan keberhasilan pembinaan atlet yang terus melahirkan prestasi di level internasional. (*)