Bengkayang,SP- Kepolisian Resor (Polres) Bengkayang, Kalimantan Barat, menggelar salat istisqa dan doa bersama lintas agama untuk memohon turunnya hujan di tengah kondisi kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Kapolres Bengkayang AKBP Syahirul Awab mengatakan, salat istisqa dilaksanakan jajaran Polres Bengkayang dan polsek jajaran sebagai bentuk ikhtiar spiritual menghadapi kondisi kekeringan yang telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir.
"Pagi ini Polres Bengkayang dan polsek jajaran melaksanakan salat istisqa yang dimaksudkan untuk memohon air hujan kepada Allah SWT," kata Syahirul di Bengkayang, Sabtu.
Selain salat istisqa bagi umat Muslim, personel beragama Kristen juga melaksanakan doa bersama di Aula Tunggal Panaluan Polres Bengkayang dengan tujuan yang sama, yakni memohon turunnya hujan untuk mengakhiri kekeringan.
Menurut dia, kondisi cuaca yang kering dan panas dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan risiko karhutla di wilayah hukum Polres Bengkayang.
"Ini dilakukan dengan maksud supaya kekeringan yang kita hadapi sekitar sebulan terakhir mendapat rahmat dari Allah dan diturunkan hujan sebagai bentuk menghentikan kekeringan ataupun pemanasan yang ada," ujarnya.
Syahirul mengatakan berdasarkan pemantauan kepolisian, terdapat sekitar 3.800 titik panas selama enam bulan terakhir di wilayah hukum Polres Bengkayang, sedangkan pada Agustus 2026 tercatat sekitar 1.213 titik panas.
Meski demikian, ia menyebut jumlah titik panas di Kabupaten Bengkayang dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut sejalan dengan upaya penanganan yang dilakukan personel gabungan melalui pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi.
"Setiap hari kita melakukan pemadaman, pendinginan, ground checking, hingga verifikasi terhadap hotspot yang ada di Bengkayang. Alhamdulillah, sampai hari ini titik panas terus menurun," katanya.
Ia menegaskan penurunan titik panas tersebut tidak membuat jajaran kepolisian mengurangi kewaspadaan. Pemantauan tetap dilakukan setiap hari untuk memastikan tidak muncul kembali titik api yang berpotensi berkembang menjadi karhutla.
Selain penanganan di lapangan, Polres Bengkayang juga menerapkan langkah kepolisian secara berjenjang, mulai dari upaya preemtif, preventif hingga represif dalam menangani karhutla.
Upaya preemtif dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk interaksi langsung di wilayah rawan kebakaran. Sementara langkah preventif dilakukan melalui patroli terpadu, pembagian masker, serta pemberian bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak karhutla.
"Langkah-langkah ini terus kita lakukan sebagai upaya penanganan karhutla, sekaligus mencegah agar kebakaran tidak semakin meluas," ujar Syahirul.(nar)