Terdapat 320 Hektar lahan sawah pasang surut di Desa Padu Banjar yang telah diusahakan masyarakat turun temurun. Kawasan ini menjadi lumbung pangan untuk masyarakat Kecamatan Simpang Hilir.
Kepala Bidang Tanaman Pangan di Dinas Pertanian dan Peternakan Kayong Utara, Fathul Bahri mengatakan, dilihat dari keberadaannya, ada tiga keunggulan lahan sawah pasang surut di Desa Padu Banjar.
Keunggulan pertama memiliki daya dukung lingkungan. Secara agro ekosistem, lahan sawah pasang surut di sana terletak di 350-500 meter dari tepian daerah aliran Sungai Padu.
“Tanah di sana didominasi jenis tanah aluvial yang merupakan tanah endapan di sekitar aliran sungai dan memiliki tekstur liat," katanya, kemarin.
Berdasarkan catatan petani di Desa Padu Banjar, dijelaskan Fathul, kawasan pertanian mengalami dua kali bulan basah dan dua kali bulan kering dalam setahun.
Bulan basah terjadi pada Oktober-Desember dan April-Juni, sedangkan bulan kering biasanya terjadi pada Juli-September dan Januari-Maret.
Berdasarkan pengetahuan lokal dan kondisi agro ekosistem, petani setempat melakukan upaya perakitan teknologi sederhana budidaya padi pasang surut.
Keuntungan kedua punya daya tampung. Tidak kurang dari 350-500 tenaga kerja tani yang melakukan aktivitas bertani padi pada lahan pasang surut setiap tahun.
"Mereka tergabung dalam sembilan kelompok tani yang terdata di tingkat desa, dan tujuh kelompok tani sudah terdaftar sistem penyuluh pertanian," imbuhnya.
Karena kedekatan emosional dan letak lahan, di sana bukan hanya dikelola petani Desa Padu Banjar, petani Desa Pulau Kumbang dan Desa Pemangkat juga menggatungkan kebutuhan pangannya pada lahan pasang surut.
Sementara produktivitas padi rata-rata dua ton per hektare, bila dikalikan dengan luas lahan yang digarap per luas panen dalam setahun, sekitar 320 hektare, maka daya tampung produksi padi mencapai 640 ton per tahun.
Keuntungan ketiga kata Fathul, potensi peningkatan produksi. Jumlah penduduk bertambah, jumlah lahan semakin hari semakin berkurang, sedangkan kebutuhan akan beras memiliki tren meningkat.
"Artinya dari 320 hektare lahan pasang surut yang tersedia di Desa Padu Banjar bisa dilakukan dua kali penanaman dalam setahun sehingga dapat diperkirakan produksi padi dalam setahun 1280 ton dengan asumsi produktivitas per hektare dua ton," pungkasnya. (syarif muhammad/jee)