Opini post authorKiwi 05 Mei 2026

Biar Kecil Kita Wajib Berperan bukan Membebani

Photo of Biar Kecil Kita Wajib Berperan bukan Membebani
Oleh: Mei Purwowidodo
 
TIDAK ada satu pun Presiden Indonesia yang lahir dengan paket kesempurnaan. Mulai dari Sukarno hingga Prabowo Subianto, semuanya adalah manusia yang bekerja di bawah tekanan zaman, keterbatasan situasi, dan kompleksitas bangsa yang luar biasa. Pasti masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya.
 
Mengagumi boleh, mengkritik juga perlu, tetapi menafikan seluruh capaian hanya karena perbedaan pandangan, itu yang sering membuat kita kehilangan kejernihan.
 
Sejarah Indonesia bukanlah garis lurus, melainkan gelombang naik-turun yang membentuk kedewasaan bangsa.
 
Setiap rezim datang membawa harapan, lalu diuji oleh realitas. Ada yang meninggalkan warisan besar, ada pula yang menyisakan pekerjaan rumah.
 
Itu bukan kegagalan semata, melainkan bagian dari proses panjang membangun negara dengan bentang geografis luas, keberagaman suku, budaya, dan tingkat pendidikan yang tidak merata.
 
Jujur saja: mengatakan Indonesia tidak maju adalah bentuk ketidakadilan terhadap perjalanan panjang yang sudah ditempuh.
 
Infrastruktur berkembang, akses pendidikan meluas, dan peluang ekonomi semakin terbuka.
 
Namun di saat yang sama, ketimpangan, kualitas sumber daya manusia, dan tata kelola masih menjadi tantangan nyata. Kemajuan dan masalah berjalan beriringan, itulah wajah asli pembangunan.
Seringkali kita sering terjebak membandingkan Indonesia dengan negara lain tanpa memahami konteksnya. Padahal setiap bangsa punya titik awal, beban sejarah, dan tantangan berbeda. 
 
Membandingkan tanpa pijakan hanya akan melahirkan pesimisme atau bahkan rasa rendah diri yang tidak perlu.
 
Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bersama: bahwa bangsa ini tidak dibangun oleh satu orang, satu rezim, atau satu generasi saja. Ia adalah kerja kolektif lintas waktu. Presiden datang dan pergi, tetapi tanggung jawab sebagai warga negara tetap tinggal.
 
Maka, daripada terjebak pada romantisme masa lalu atau kekecewaan terhadap masa kini, lebih bijak jika kita mengambil posisi sebagai bagian dari solusi. Bersikap kritis tanpa kehilangan harapan, menghargai capaian tanpa menutup mata terhadap kekurangan.
 
Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh seberapa besar kesadaran rakyatnya untuk ikut bertanggung jawab atas arah perjalanan itu.
 
Selayaknya sebagai warga negara biar kecil kita harus berperan bukan menjadi beban. (*)
Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda