Oleh : Mei Purwowidodo
TERDENGAR sederhana, bahkan sedikit lucu: berorganisasi menjadi hobi. Namun bagi sebagian orang, ini bukan pilihan yang direncanakan, melainkan proses yang mengalir begitu saja, tanpa sadar, tanpa paksaan, tapi terasa begitu melekat.
Saya salah satunya. Sejak kecil, ada dorongan yang sulit dijelaskan: saya senang ngumpul. Dunia terasa sepi tanpa ngerumpi, tanpa tawa, tanpa kebersamaan.
Entah apa yang dibicarakan, yang penting ada ruang untuk" bekesah". Dari situlah benih awal itu tumbuh, kecenderungan untuk tidak sendiri, untuk terhubung.
Memasuki masa sekolah, dari bangku dasar hingga perguruan tinggi, kecenderungan itu menemukan wadahnya: organisasi.
Apa pun bentuknya, selalu ada ketertarikan untuk terlibat. Bahkan di luar lingkungan formal, “geng-gengan” kecil pun menjadi ruang belajar, belajar memimpin, belajar mengikuti, belajar memahami orang lain.
Tanpa disadari, kebiasaan itu terbawa hingga dunia kerja. Menariknya, bukan hanya aktif mencari, tetapi justru sering diajak bergabung.
Seolah-olah ada “magnet sosial” yang terbentuk dari kebiasaan lama: mudah beradaptasi, nyaman bekerja dalam tim, dan terbiasa membangun komunikasi.
Dari sanalah saya mulai menyadari: organisasi bukan sekadar aktivitas, melainkan investasi hidup.
Manfaatnya nyata. Jaringan pertemanan meluas, relasi terbentuk, peluang datang dari arah yang tak terduga.
Bahkan, dalam banyak kasus, rezeki tidak selalu hadir dari kemampuan teknis semata, tetapi dari kepercayaan yang dibangun melalui interaksi dan kontribusi.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, keinginan untuk “berhenti” sesekali muncul. Ada rasa ingin menikmati waktu lebih tenang.
Namun, kenyataannya berbeda. Undangan untuk terlibat kembali selalu datang. Dan anehnya, selalu sulit untuk menolak. Bukan karena tidak bisa, tapi karena ada panggilan lain: tanggung jawab untuk berbagi pengalaman.
Di titik ini, berorganisasi tidak lagi soal eksistensi, tetapi tentang regenerasi.
Untuk generasi muda, ada satu hal yang ingin saya titipkan: jangan alergi terhadap organisasi. Jangan anggap itu beban tambahan.
Justru di sanalah ruang terbaik untuk menempa diri, belajar kepemimpinan, membangun empati, dan memahami dinamika kehidupan yang sesungguhnya.
Sekolah mengajarkan ilmu. Organisasi mengajarkan kehidupan.
Kalau hari ini terasa canggung untuk mulai, itu wajar. Semua orang pernah berada di titik itu. Tapi percayalah, langkah kecil untuk terlibat bisa membawa perubahan besar dalam cara kita melihat dunia.
Siapa tahu, tanpa disadari, suatu hari nanti Anda juga akan “ketagihan”, bukan karena terpaksa, tapi karena menemukan makna di dalamnya.
Dan ketika saat itu tiba, Anda akan mengerti: berorganisasi bukan sekadar hobi. Ia adalah jalan panjang untuk bertumbuh.
Karena hobi, berorganisasi jadi menyenangkan bukan menjadi beban. (*)