Di antara hamparan Kalimantan Barat yang luas, ada mimpi yang tertanam—mimpi untuk menyulap tanah ini menjadi kebun surga, tempat di mana alam dan manusia berdansa dalam harmoni yang subur. Inilah visi mengubah provinsi di jantung Borneo menjadi lumbung pangan yang menghidupi, sekaligus menjaga ruh bumi tetap lestari.
Tanah yang Terbentang Luas
Bayangkan: dari total lahan sawah di Kalbar seluas 425.225 hektare, terhampar potensi yang nyaris tak terbatas. Namun dari seluas itu, baru 94.517 hektare yang mendapat aliran irigasi. Sisanya bagaikan surga yang masih tertidur, menanti uluran tangan untuk bangkit.
Pemerintah pun mulai menggairahkan "Oplah"—optimalisasi lahan—dengan target 240.000 hektare lahan potensial. Dengan indeks pertanaman tiga kali dalam setahun, para petani dapat memanen padi 5 ton per hektare, menghasilkan produksi hingga 3,5 juta ton padi atau setara 2 juta ton beras. Jumlah itu bukan hanya mencukupi kebutuhan 5,5 juta penduduk Kalbar yang memerlukan sekitar 535.000 ton beras per tahun, tapi juga membuka peluang ekspor ke Malaysia dan negara tetangga.
Keajaiban di Balik Curah Hujan
Pangkal kekuatan Kalbar ada pada curah hujan yang melimpah. Stasiun Klimatologi Kalbar mencatat di Kabupaten Sanggau saja, Maret 2023 mencapai 5.158 mm/bulan dan Desember 2023 mencapai 5.091 mm/bulan. Aliran rahmat dari langit ini jika dikelola baik akan menjadi sumber kehidupan tanpa henti.
Namun di balik berkah, ada ancaman hujan ekstrem. Riset Universitas Tanjungpura menunjukkan bahwa banjir adalah bencana paling sering terjadi di Kalbar selama 1998–2019, dipicu peningkatan curah hujan harian maksimum yang memperparah genangan di lahan pertanian. Karena itu, irigasi modern dan sistem drainase berkelanjutan menjadi keniscayaan, bukan sekadar pelengkap.
Menghidupkan Kembali Lahan Tidur
Masih ada lebih dari 330.000 hektare lahan sawah tanpa irigasi, hanya 22% lahan yang teraliri air. Itulah tantangan sekaligus peluang terbesar kita: bangun bendungan, rehabilitasi jaringan irigasi, dan ubah lahan tidur menjadi permadani hijau yang produktif.
Kalbar juga memiliki kekayaan perkebunan yang luar biasa. Kelapa sawit telah membentang di 2,13 juta hektare, menghasilkan 6 juta ton CPO per tahun. Karet, lada, kopi, dan kakao juga menjadi nadi ekonomi ribuan keluarga. Namun, yang membedakan kebun surga adalah keberlanjutan: integrasi sawit-sapi mengubah limbah perkebunan menjadi pakan ternak, dan kotoran sapi menjadi pupuk organik alami.
Kebun Surga dalam Praktik
Di Ketapang, Alexius Atep membuktikan mimpi itu nyata. Di sela pohon karet dan rotan, ia menerapkan agroforestri organik—mengolah rumput dan batang kayu menjadi pupuk kompos, serta daun sungkai dan pepaya menjadi pestisida alami. Hasilnya? Sayuran yang tidak menyebabkan rematik atau asam urat, disambut hangat pasar lokal. Alexius kini aktif mengajar petani di tiga desa, dan terpilih sebagai finalis Kompetisi Usaha Rakyat Ramah Iklim (KURRI) Kabupaten Ketapang. Ia adalah bukti bahwa surga tak perlu menunggu turun dari langit—ia bisa ditanam di tanah sendiri.
Di seberang sana, Tropenbos Indonesia mengembangkan agroforestri karet dan kopi liberika di Simpang Dua, melibatkan empat desa. Sementara di Kabupaten Kubu Raya, tim SITH ITB melatih petani mengelola lahan gambut tanpa bakar, membuat biopestisida dari jahe, dan menanam komoditas unggulan yang ramah ekosistem.
Praktik-praktik ini merefleksikan kearifan lokal masyarakat Dayak dan Melayu: sistem tembawang—kebun hutan campuran yang menanam durian, tengkawang, gaharu, dan karet dalam satu hamparan. Sistem ini tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi model adaptasi terhadap perubahan iklim dengan kemampuan menyerap karbon dan menjaga kesuburan tanah.
Menuju Masa Depan
Pemerintah terus bergerak. Program Brigade Pangan merekrut generasi muda untuk mengelola lahan dengan teknologi modern. Bantuan benih unggul dan alat mesin pertanian (alsintan) terus dialirkan ke desa-desa. Hasilnya mulai terlihat: luas panen padi 2024 naik 13,85% menjadi 255.110 hektare, dan produksi padi meningkat 14% menjadi 799.990 ton.
Bayangkan jika 240.000 hektare lahan optimal itu tergarap maksimal. Bayangkan jika setiap petani memiliki akses irigasi, pupuk organik, dan pasar yang adil. Bayangkan jika hutan dan ladang tidak lagi berseberangan, tetapi bersinergi dalam satu kesatuan ekosistem yang produktif dan lestari.
Itulah kebun surga: bukan utopia, melainkan tujuan yang bisa kita raih. Karena Kalimantan Barat telah memiliki segalanya—tanah, air, dan semangat petaninya. Tinggal bagaimana kita mengelola, merawat, dan terus menanam. Bukan hanya padi atau sawit, tetapi juga harapan bagi generasi menduduk. Di setiap helai daun yang tumbuh, di setiap butir padi yang menguning, terukir janji bahwa bumi ini mampu menjadi taman firdaus, jika kita sudi menjaganya.
Sharing Idea: Hery Arianto
(Pengamat Sosial & Media)