Opini post authorEliazer 16 April 2026

Saatnya PMII Bangkit, Inovatif & Konstruktif; Walau Kondisi Geopolitik Tidak Baik-baik Saja, Menyongsong Harlah PMII

Photo of Saatnya PMII Bangkit, Inovatif & Konstruktif; Walau Kondisi Geopolitik Tidak Baik-baik Saja, Menyongsong Harlah PMII Hery Arianto

Pendahuluan: Panggilan di Tengah Badai

Tujuh belas April 2026. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan genap menapaki usia ke-66 tahun. Setengah abad lebih organisasi ini melangkah, mengarungi gelombang sejarah bangsa dari Demokrasi Terpimpin hingga Reformasi yang tak kunjung usai. Namun, kali ini suasana yang melingkupi pesta ulang tahun terasa berbeda. Jika di masa lalu kita menghadapi carut-marut politik domestik, kini ancaman datang dari hembusan badai global yang menderu tanpa kenal kompromi.

Konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih berkecamuk, mengguncang fondasi perdagangan dunia dan memicu volatilitas energi serta inflasi di berbagai belahan. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi hanya 5,0 persen pada tahun ini, dari sebelumnya 5,1 persen, akibat tekanan geopolitik yang terus meningkat. Di tengah gelombang ini, tidak ada lagi ruang bagi orasi yang melambung tanpa akar. Yang dibutuhkan adalah gerakan inovatif, konstruktif, dan membumi.

Saya, yang pernah dipercaya memimpin PMII di Kabupaten Pontianak (1997-1998) dan Kalimantan Barat (1998-2000), memahami bahwa era reformasi dulu adalah tentang keberanian menumbangkan tirani.

Namun, era hari ini menuntut lebih dari itu. Zaman metamodernisme telah melahirkan paradoks: kemajuan digital berjalan beriringan dengan dislokasi sosial, dan akses informasi yang melimpah justru kerap menjebak kita dalam pusaran wacana tanpa tindakan.

Kilas Balik: Warisan Gerakan dan Transformasi Paradigma

Sejarah mengajarkan kita bahwa PMII lahir pada 17 April 1960 di Surabaya sebagai respons kritis terhadap kemelut politik Demokrasi Terpimpin. Mahbub Djunaidi dan para muasis lainnya mendirikan organisasi ini tidak sekadar sebagai perkumpulan diskusi, melainkan benteng kader NU yang mengawal nilai Ahlussunnah Wal Jamaah sekaligus keindonesiaan. Saya mengalami secara langsung bagaimana gelora reformasi 1998 membentuk karakter gerakan kita saat itu.

Dalam catatan pergerakan, pada tahun 1997 PMII mengusung Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar, yang kemudian bertransformasi menjadi Paradigma Kritis Transformatif (PKT) di era Syaiful Bahri Anshori (1997-2000).

Dua tahun setelah itu, tepatnya saat saya mengemban amanah memimpin kader di Kalimantan Barat, gelombang perubahan sedang memuncak. Ketika saya menjabat sebagai Ketua PC. PMII Kab. Pontianak (1997-1998) lalu melanjutkan ke PKC. PMII Kalbar (1998-2000), nuansa perjuangan masih terasa panas oleh pergolakan menuju reformasi total.

Namun, yang paling saya ingat adalah bagaimana kader-kader PMII saat itu tidak hanya pandai berdemo, tetapi juga mampu merumuskan solusi konkret bagi masyarakat yang terpinggirkan.

Kini, pada usia ke-66, PMII telah menegaskan transisi dari wacana ke aksi nyata melalui tema “Aksi Nyata PMII untuk Indonesia”. Seperti yang disampaikan Ketua Umum PB PMII, M. Shofiyulloh Cokro, “PMII harus mampu melampaui ‘menara gading’. Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat masalah, tetapi harus menjadi penyedia solusi”. Ini adalah momen tepat bagi kita untuk meninjau ulang relevansi gerakan di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja.

Analisis Situasi: Angka-angka yang Tak Bisa Diabaikan

Data berbicara keras. Hingga awal tahun 2026, Badan Pusat Statistik mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,4 juta orang, dengan 82 persen di antaranya adalah generasi muda di bawah usia 40 tahun. Ironisnya, di saat yang sama, Indonesia sedang menikmati masa bonus demografi dengan lebih dari 68 persen penduduk berada pada usia produktif. Potensi besar ini jika tidak dikelola dengan strategi yang tepat akan berubah menjadi bom waktu sosial.

Lebih memprihatinkan lagi, terjadi disrupsi serius antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengungkapkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi kini hanya mampu menciptakan sekitar 100.000 lapangan kerja—jauh menurun dibandingkan era sebelumnya yang mencapai 350.000 hingga 400.000 lapangan kerja. Digitalisasi, automasi, dan kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah peta ekonomi secara fundamental.

Dari sisi geopolitik, Menteri Bappenas Vivi Yulaswati memperingatkan bahwa risiko global telah bergeser dari perubahan iklim ke konfrontasi geoekonomi, di mana instrumen perdagangan dan teknologi digunakan sebagai senjata strategis antarnegara. Ini bukan sekadar isu makro yang jauh dari jangkauan mahasiswa. Ini adalah kenyataan yang akan menentukan masa depan pekerjaan, kesejahteraan, dan bahkan eksistensi generasi muda Indonesia.

Di Kalimantan Barat, posisi geografis kita yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat daerah ini rentan terhadap ancaman lintas negara yang masuk melalui jalur digital maupun fisik. Polda Kalbar baru-baru ini menyoroti kerentanan ini dalam dialog publiknya. PMII Kalbar tidak boleh tinggal diam. Kita yang berada di garda terdepan perbatasan harus menjadi benteng ideologi sekaligus pelopor inovasi yang menjaga kedaulatan digital dan ekonomi bangsa.

Tantangan dan Peluang bagi PMII

Tantangan terbesar yang dihadapi PMII saat ini adalah merespons disrupsi digital yang mengubah cara generasi muda berinteraksi, bekerja, dan bahkan berpikir. Generasi Z dan milenial hidup dalam realitas yang cair, di mana TikTok, media sosial, dan algoritma AI membentuk opini mereka sehari-hari. Jika PMII tidak mampu mengadaptasi metode kaderisasi dengan platform digital, kita akan kehilangan relevansi di mata generasi yang hendak kita kaderkan.

Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan forum-forum konvensional. Kaderisasi PMII ke depan harus terintegrasi dengan pelatihan teknologi seperti analisis big data untuk memetakan isu sosial, penggunaan AI dalam kampanye literasi, serta pemanfaatan platform digital untuk memperluas jaringan dan menyebarkan informasi konstruktif.

Namun, di tengah arus digitalisasi yang deras, kita tidak boleh melupakan akar spiritual. Seperti yang ditegaskan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat, Dr. H. Muhajirin Yanis, dalam Pelatihan Kader Lanjutan PMII di Pontianak, “PMII adalah organisasi kader yang membawa misi keislaman dan keindonesiaan. Kita ini Ahlussunnah wal Jamaah, maka wajib bagi kita untuk terus memegang teguh sunah-sunah Rasulullah dalam setiap gerak langkah perjuangan”. Nilai-nilai tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), dan tasamuh (toleransi) harus tetap menjadi ruh gerakan, bahkan ketika kita beradaptasi dengan teknologi paling mutakhir sekalipun.

Peluang justru terbuka lebar. Indonesia diproyeksikan akan mencapai puncak bonus demografi pada 2030-an, dengan potensi ekonomi digital yang sangat besar. Sektor ekonomi kreatif berbasis digital telah menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja dan terus tumbuh 1-1,5 juta orang per tahun. PMII dapat memanfaatkan momen ini dengan mendorong kewirausahaan digital di kalangan kader, menciptakan lapangan kerja baru, dan memposisikan diri sebagai agen perubahan ekonomi yang inklusif.

Selain itu, fokus PMII ke depan—sebagaimana ditegaskan dalam diskusi energi dan lingkungan di Universitas Negeri Jakarta yang diikuti 220 peserta diaspora PMII—meliputi tiga hal utama: mendorong kader untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, mengawal isu-isu kebijakan strategis, dan mendorong kader PMII menjadi pelaku di berbagai sektor, baik UMKM maupun pemangku kebijakan. Inilah peta jalan yang nyata dan terukur.

Rekomendasi Konstruktif Menuju PMII yang Inovatif

Sebagai seorang yang pernah merasakan panasnya perjuangan reformasi di bumi Kalimantan Barat, saya ingin menyampaikan beberapa rekomendasi konkret bagi kader PMII di mana pun berada:

Pertama, inisiasi pusat-pusat inovasi digital di setiap cabang PMII. Tidak perlu menunggu anggaran besar dari pusat. Kader dapat memulai dengan ruang kolaborasi kecil berbasis kampus yang fokus pada pelatihan literasi digital, pengembangan aplikasi untuk kepentingan sosial, dan pendampingan UMKM dalam bertransformasi ke platform digital. Seperti yang diungkapkan oleh Kakanwil Kemenag Kalbar, era digital adalah berkah besar asal kita menggunakannya untuk hal-hal yang produktif dan membangun, “Jangan hanya sekadar scroll-scroll TikTok saja”.

Kedua, perkuat program kewirausahaan berbasis pesantren dan komunitas lokal. Nilai Aswaja mengajarkan kita untuk mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. PMII harus proaktif melatih kader untuk menjadi wirausaha, bukan sekadar pencari kerja. Industri halal, ekonomi kreatif, dan agribisnis adalah sektor-sektor yang sangat potensial dan sejalan dengan karakter masyarakat Indonesia yang agamis.

Ketiga, jadikan Harlah ke-66 di Kalbar sebagai momentum konsolidasi lintas generasi. Pemilihan Kalimantan Selatan sebagai pusat perayaan bukan tanpa makna. Ini adalah simbol bahwa PMII adalah gerakan nasional yang tidak terpusat di Jawa saja, dan bahwa kader di kawasan timur Indonesia memiliki panggung yang setara untuk berkontribusi. Saya berharap kader Kalimantan Barat, yang notabene berbatasan langsung dengan negara tetangga, dapat hadir dan mengambil peran aktif dalam forum-forum strategis tersebut.

Keempat, bangun aliansi strategis dengan pemerintah dan sektor swasta secara cerdas. Paradigma “Menggiring Arus Berbasis Realitas” yang pernah saya rumuskan bersama rekan-rekan di PB PMII (2006-2008) mengajarkan bahwa kita bisa menjadi kritis tanpa harus menjadi oposisi yang destruktif. Kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta platform digital seperti yang tengah digalakkan pemerintah adalah langkah cerdas yang tetap menjaga independensi organisasi.

Kelima, dan yang terpenting, kader PMII harus terus menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin bangsa. Saya tegaskan kembali: kader PMII harus selalu siap menjadi Ketua Umum NU dan Presiden Indonesia. Bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena ini adalah konsekuensi logis dari amanah keuamatan dan kebangsaannya. Tanpa kader yang unggul, berintegritas, dan berwawasan global, Indonesia akan kehilangan salah satu pilar terpenting dalam menjaga moderasi Islam dan keutuhan NKRI.

Penutup: Seruan untuk Bergerak

Harlah ke-66 adalah lebih dari sekadar seremonial. Logo yang diluncurkan dengan angka 66 menanjak melambangkan optimisme dan transformasi, sementara lekukannya yang menyerupai simbol tak hingga mengingatkan bahwa perjuangan tidak pernah usai. Sejarah tidak akan mencatat apa yang kita bicarakan, tetapi apa yang telah kita lakukan untuk kemanusiaan dan Indonesia.

Kondisi geopolitik memang tidak baik-baik saja. Tapi bukankah PMII lahir justru dari situasi yang tidak baik-baik saja? Kita hadir di dunia sebagai jawaban atas kegelapan, bukan sebagai pengeluh atas gelapnya malam. Mari kita buktikan bahwa di usia yang hampir mencapai tujuh dekade, PMII tetap muda, tetap bergerak, tetap menjadi harapan pinggiran yang tak pernah padam.

Selamat Harlah ke-66 PMII. Aksi nyata untuk Indonesia. Tangan Terkepal & Maju Kemuka.

Oleh: Hery Arianto
IKAPMII Kalbar, Ketua PC. PMII Kab. Pontianak (1997-1998), PKC. PMII Kalbar (1998-2000).

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda