Oleh: Mei Purwowidodo
PONTIANAK,SP - Jujur,akhir-akhir ini saya semakin menyukai moda transportasi kereta api.
Setiap kali bepergian antar kota yang terhubung jalur rel, pilihan itu terasa paling rasional: nyaman, tepat waktu, dan memberi ruang untuk menikmati perjalanan.
Stasiun pun kini lebih tertata, menunggu keberangkatan tak lagi membosankan, justru terasa menyenangkan.
Namun di tengah kemajuan itu, kita dikejutkan oleh tragedi tabrakan kereta di Bekasi.
Duka tentu tak terelakkan. Peristiwa ini mengingatkan bahwa di balik kemajuan layanan, masih ada celah yang harus ditutup rapat.
Harus diakui, transformasi yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia sudah membawa perubahan besar. Modernisasi sistem, peningkatan fasilitas, hingga ketepatan waktu adalah capaian nyata.
Tapi keselamatan tidak boleh berhenti sebagai target, ia harus menjadi budaya yang terus diperkuat.
Kecelakaan, sekecil apa pun, selalu berakar pada dua hal: faktor manusia"Human error" dan sistem.
Di era teknologi yang semakin maju, keduanya seharusnya bisa diminimalisasi.
Sistem pengamanan otomatis, peringatan dini, hingga pengawasan berbasis digital bukan lagi hal sulit, yang dibutuhkan adalah konsistensi dan komitmen pihak manajemen KAI.
Peristiwa di Bekasi seharusnya tidak berhenti pada pencarian siapa yang salah. Lebih dari itu, ini adalah momentum evaluasi bersama.
Semua pihak, operator, regulator, hingga masyarakat, punya peran untuk memastikan bahwa setiap perjalanan benar-benar aman.
Kita tidak boleh terbiasa dengan berita duka yang berulang. Setiap insiden harus menjadi yang terakhir. Di situlah ukuran kita sebagai bangsa: apakah kita sekadar bereaksi, atau benar-benar belajar.
Keselamatan adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap nyawa manusia. Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lelah memperbaiki diri, yang menjadikan setiap kesalahan sebagai pijakan untuk melangkah lebih baik.
Kita harus bisa. Bukan nanti, tapi sekarang.
KAI...kamu pasti bisa..!! (*)