Opini post authorKiwi 30 April 2026

Belajar Dewasa dalam Berdemokrasi

Photo of Belajar Dewasa dalam Berdemokrasi

Oleh: Mei Purwowidodo

PONTIANAK,SP - Ketika para mantan petingggi tiba-tiba saling “menyerang”, lalu dipoles dengan istilah saling kritik, kita seperti disuguhi sebuah ironi.

Dulu saling mendukung dalam kontestasi, kini saling membuka cerita masa lalu, entah untuk tujuan apa.

Bagi masyarakat luas, dengan latar belakang pemahaman yang beragam, semua ini ditangkap dengan cara yang berbeda-beda.

Media pun mengulas sesuai sudut pandang dan kepentingannya masing-masing.

Ada yang menganggapnya biasa, ada pula yang merasa ini memprihatinkan. Demokrasi memang memberi ruang kebebasan berpendapat.

Namun kebebasan itu bukan tanpa batas. Bukan pula ruang untuk melontarkan kata-kata yang kehilangan etika.

Karena pada akhirnya, kualitas ucapan mencerminkan kualitas pribadi yang mengucapkannya.

Mungkin benar, kita masih perlu belajar. Belajar berdemokrasi dengan cara yang lebih dewasa, lebih mendidik, dan lebih memberi teladan.

Terutama bagi para tokoh bangsa, yang setiap sikap dan perkataannya menjadi cermin bagi masyarakat.

Pertarungan ide dan kepentingan cukup terjadi lima tahun sekali. Tidak perlu diperpanjang menjadi “injury time” yang melelahkan dan menguras energi kebangsaan.

Indonesia bukan milik segelintir orang, bukan pula milik satu generasi saja. Negeri ini adalah milik kita bersama, yang harus kita jaga, rawat, dan wariskan dalam keadaan lebih baik kepada anak cucu kita kelak.

Mari kita jaga marwah demokrasi, dengan cara yang lebih bijak dan beradab. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda