Ponticity post authorKiwi 03 Mei 2026

Peluncuran Buku Kita Belum Dewasa, Sugioto Kembali Lahirkan Karya Luar biasa untuk Masyarakat Kalbar

Photo of Peluncuran Buku Kita Belum Dewasa, Sugioto Kembali Lahirkan Karya Luar biasa untuk Masyarakat Kalbar

PONTIANAK,SP - Buku Kita Belum Dewasa karya Sugioto resmi diluncurkan, Sabtu (2/5/2026). Karya ini merupakan kumpulan refleksi penulis tentang makna kedewasaan yang kerap disalahartikan masyarakat modern.

Buku ini bukan panduan jadi dewasa, tapi undangan untuk introspeksi. Buku yang ditulis Sugioto ini mengajak pembaca merefleksi ulang makna kedewasaan yang selama ini kerap diukur hanya dari usia dan pencapaian.
Peluncurun buku berlangsung di Majesty Pollside Lantai 1 Aston Pontianak Hotel & Convention Center, Sabtu 2 Mei 2026. Acara peluncuran berlangsung hangat, diwarnai diskusi dan testimoni pembaca yang merasa “terwakili”.

Peluncuran ini turut dihadiri Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri S.H, Yang Xiaoqiang Direktur Confusius Institute Untan, Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak, Dr.M. Hadi Santoso, S.E., M.M.

Lalu Rektor UPB Pontianak Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM, perwakilan dari PGRI Pontianak, Dr. Hermansyah SH, M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, perwakilan Dinas Perpustakaan Daerah dan Kearsipan Kota Pontianak, para mahasiswa Untan dan para Tokoh Politik dan Masyarakat.

Sebelumnya pada tahun 2022, Ia merilis buka pertamanya yang berjudul Sugioto: Proses, Protes dan Sukses, Buku biografi yang mengisahkan perjalanan hidup, perjuangan, dan kesuksesan Rico sebagai pengusaha.
Pada tahun 2024, Ia kembali meluncurkan buka keduanya yang bertajuk Kita Di Ujung Tanduk. Buku kedua atau kumpulan opini yang menyoroti situasi genting di Indonesia, mencakup isu politik, ekonomi, dan demokrasi.

Dan kali ini, tahun 2026, Sugioto meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Kita Belum Dewasa.

Butuh empat bulan lamanya, Sugioto merampungkan karya luar biasanya tersebut. Sugioto atau akrab disapa Rico menjelaskan Buku Kita Belum Dewasa adalah salah satu cermin itu, cermin yang diam dan jujur.
Buku ini bukan sekadar kumpulan renungan, apalagi ceramah moral yang menggurui.

Di sini, kedewasaan tidak didefinisikan lewat angka usia, jabatan, atau status sosial, melainkan melalui cara kita bersikap pada luka, pada perbedaan, pada kegagalan, dan pada diri sendiri.

"Buku ini berbicara tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian, seperti cara kita bereaksi ketika tidak dipahami, cara kita menyikapi kritik, cara kita mencintai tanpa ingin menguasai dan cara kita melepaskan tanpa harus membenci," ujarnya.

Dalam setiap halaman, pembaca diajak berhenti sejenak, menunda penghakiman, lalu bertanya dengan jujur, apakah selama ini kita benar-benar bertumbuh, atau hanya sekadar bertambah umur?

Buku ini hadir di tengah zaman yang serba cepat, ketika kedewasaan sering diukur dari pencapaian, jabatan, atau usia. Kita diajarkan untuk tampak matang, terlihat kuat, dan selalu tahu jawaban.

Dikatakanya, namun kenyataannya, banyak dari kita yang masih belajar mengelola emosi, masih gemetar saat harus bertanggung jawab, dan masih sering kalah oleh ego sendiri. Kita Belum Dewasa berangkat dari kejujuran sederhana itu.

Jika setelah membaca buku ini Anda merasa terusik, tersentuh, atau bahkan tersenyum pahit, itu pertanda baik. Artinya, proses pendewasaan sedang bekerja.
Sebab sebelum menjadi dewasa, kita memang harus berani mengakui satu hal paling mendasar: kita belum dewasa, dan perjalanan untuk belajar baru saja dimulai.
Melalui buku ini, Sugioto ingin menyampaikan gagasannya kepada masyarakat luas agar lebih reflektif dalam menjalani kehidupan.

“Kalau hanya disampaikan secara lisan, mungkin terbatas. Tapi melalui buku, lebih banyak orang bisa memahami dan mempelajarinya,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa pesan utama dalam buku tersebut adalah pilihan antara menjadi dewasa atau sekadar bertambah usia.
“Yang terpenting, kita harus memilih mau dewasa atau hanya tua. Kedewasaan itu ditunjukkan dari kemampuan mengambil keputusan dengan bijaksana,” jelasnya.

Dengan kehadiran buku ketiganya ini, Sugioto berharap dapat menginspirasi banyak orang.
"Semoga kehadiran buku saya ini dapat memberikan masukan dan inspirasi buat masyarakat, tentu buku yang saya tulis ini tidak sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. Dan ketidaksempurnaan milik kita, namun kita selalu berusaha untuk bisa lebik baik saja bukan untuk sempurna," katanya.

"Saya juga memberikan buku ini gratis untuk semua tamu yang datang. Saya juga persembahkan untuk di perpustakaan daerah dan kota serta perpustakaan yang ada di universitas-universitas di Pontianak. Kedepannya saya akan bekerjasama dengan Gramedia, agar buku ini dapat lebih luas dibaca generasi muda," papar Rico.

Karya Luar Biasa

Dalam sesi bedah buku, sejumlah tamu yang datang memberikan tanggapan positif pada karya Sugioto.

Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri S.H menilai buku karya Sugioto ini sangat berani.

"Dari judulnya buku ini sangat berani. Buku ini membuat kita banyak belajar. Karena isinya menceritakan pengalamannya di berbagai bidang, mulai dari dunia usaha, pendidikan, hingga organisasi sosial dan yayasan," ucapnya.

Dr. Hermansyah SH, M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura menilai buku ini merupakan tatanan moral seorang Sugioto.
"Satu kata dengan satu perbuatan karya ada pada beliau. Kadang apa yang kita ditulis tidak sama dengan perbuatan. Tapi tidak dengan beliau. Buku ini suatu perjalanan moralitas beliau, beliau tuangkan dalam karyanya," jelasnya.

Dikesempatan yang sama, Yang Xiaoqiang Direktur Confusius Institute Untan mengungkapkan kekagumannya pada karya buku yang ditulis Sugioto.

"Saya sendiri kagum dengan pikirannya tajam dan wawasannya yang luas. Beliau pengusaha yang sukses yang bukan hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga sangat memperdulikan masyarakat. Ini yang sangat memberi kesan saya yang sangat dalam. Selamat atas terbitnya karya beliau," ujar Yang Xiaoqiang Direktur Confusius Institute Untan.
Hal senada juga disampaikan Rektor UPB Pontianak Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCB.Arb., FIIArb., CIM.

"Membaca dari referensinya dan daftar pustaka buku beliau. Bang Rico adalah sosok yang luar biasa. Didalam bukunya tersebut, ia banyak mengutip banyak tokoh-tokoh besar," kagumnya.

Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak, Dr.M. Hadi Santoso, S.E., M.M menambahkan Buku Kita Belum Dewasa berlaku untuk kita semua.

"Kalau kita lihat dari tulisan dari judulnya Kita Belum Dewasa, kata Belumnya dikasih warna abu-abu, kata Dewasanya sudah terang. Artinya apa, kita menuju secara umur kita sudah dewasa tapi setelah berpikir akan terlihat dewasa yang dimaksud," tanggapannya tentang Buku karya Rico.

Aktivitas Kemanusiaan dan Budaya
Selain dikenal sebagai pengusaha dan pegiat budaya, Sugioto atau Rico juga aktif dalam sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan di Kalimantan Barat yang memperkuat perannya sebagai figur publik yang dekat dengan kegiatan komunitas.
Dalam bidang pelestarian budaya dan olahraga, Sugioto saat ini menjabat sebagai Ketua Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kalbar.

Di bawah kepemimpinannya, FOBI Kalbar tidak hanya berfokus pada pengembangan olahraga barongsai sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan, tetapi juga sebagai sarana pelestarian seni dan budaya Tionghoa di daerah.

Ia mendorong pembinaan atlet-atlet barongsai sejak usia muda, termasuk pelatihan rutin, pengembangan teknik, serta partisipasi dalam berbagai kejuaraan tingkat daerah hingga nasional. Menurutnya, barongsai bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga sarana membangun disiplin, kerja sama tim, dan kebugaran fisik generasi muda.

Selain itu, FOBI Kalbar di bawah kepemimpinannya juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan budaya lintas etnis di Pontianak dan sekitarnya sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan masyarakat.
Di luar aktivitas kebudayaan, Sugioto juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan melalui keterlibatannya di berbagai komunitas, termasuk di lingkungan relawan kebakaran.

Ia berperan dalam Komunitas Pemadam Kebakaran (PMK), yaitu menjadi Ketua PMK Merdeka Pontianak Periode 2025-2028, Sugioto pun menjalankan amanah majukan PMK Merdeka, yang berfokus pada kesiapsiagaan dan respon cepat terhadap kejadian kebakaran di wilayah permukiman.

Dalam komunitas tersebut, ia turut mendorong peningkatan kapasitas relawan melalui pelatihan dasar pemadaman, simulasi penanganan kebakaran, hingga edukasi kepada masyarakat tentang pencegahan risiko kebakaran. Keterlibatannya ini berangkat dari kepedulian terhadap tingginya risiko kebakaran di kawasan padat penduduk, khususnya di wilayah perkotaan Pontianak.

Bergagai peran kemanusiaan ini, bagi Sugioto memperlihatkan konsistensinya dalam membangun kontribusi nyata di tengah masyarakat, tidak hanya melalui dunia usaha, tetapi juga melalui kerja-kerja komunitas yang berdampak langsung.

Ia kerap menekankan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal posisi, tetapi tentang sejauh mana seseorang bisa memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (mul)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda