KUBU RAYA, SP - Provinsi Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang kerap kali dihadapkan pada permasalahan penanganan lahan dan hutan. Permasalahan tersebut meliputi kebakaran hutan dan lahan termasuk yang ada di lahan gambut, erosi lahan, dan deforestasi.
Oleh sebab itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kubu Raya bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan @ICRAF-Indonesia berinisiatif untuk menginisiasi pendidikan tentang gambut dan lingkungan.
Inisiatif tersebut diwujudkan dalam Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Pengarusutamaan Kurikulum Pendidikan Lingkungan (Gambut) sebagai Materi Muatan Lokal di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat yang dilaksanakan Gardenia Resort and Spa, Senin-Selasa, 8-9 November 2021.
Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat penting. Sebab menurutnya, jika bicara bagaimana melihat ekologis, akan komprehensif sekali, terutama soal seorang anak harus mengenal dulu dan memahami sehingga bisa memiliki imajinasi yang tidak keliru.
“Jangan hanya melihat yang sudah ada, yang ada kerusakan, tapi melihat dan tahu bagaimana ini menjadi peluang yang tidak hanya harus dirusak saja, tapi justru malah harus diperbaiki dan tahu bagaimana ini menjadi kebutuhan masa depannya,” ujarnya, usai membuka lokakarya, Senin (8/11).
Jadi, kata dia, imajinasinya dulu yang harus dibangun supaya anak mengenal. Dengan cara itu, anak tahu dan setidaknya ada literasi tata ruang yang diketahuinya.
“Merdeka belajar sebenarnya kan, seperti ini. Hal-hal di lingkungannya sehari-hari yang dia tahu, jangan sampai dia juga tidak bisa melihat itu sebagai peluang dan itulah konsep merdeka belajar, merdeka berpikir, kritis, dan jauh lebih bisa mendapatkan literasi yang tepat,” ungkap Muda.
Menurutnya, muatan lokal cenderung kepada hal-hal yang justru menimbulkan feedback pada kearifan lokal. Dengan demikian, peradaban unggul yang ada di daerah setempat bisa terawat dan bisa diantisipasi bencana ekologis. Contoh bencana ekologis yang ada, mulai dari banjir sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan perubahan iklim.
“Saya kira komitmen seperti harus dibangun dari anak-anak, mulai dari pendidikan supaya lebih cepat menyebarnya, lebih masif,” tutur Muda.
Karena konsep literasi gambut menjadi yang pertama diusulkan di Kubu Raya, dirinya berharap banyak pada hasil dari lokakarya ini.
“Sebab belum ada yang menyatukan dengan muatan lokal, pendidikan soal literasi gambut. Kubu Raya menjadi yang pertama melalui ICRAF, Bappeda, Dinas Pendidikan dan BRGM. Ini kepung bakul bersama mewujudkan literasi gambut.
Di tempat yang sama, Direktur ICRAF Indonesia, Sonya Dewi mengatakan bahwa ICRAF memiliki mandat untuk melaksanakan kegiatan riset terkait pengelolaan lanskap dan ilmu pengetahuan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di tingkat lokal, regional, global.
Proyek Peat-IMPACTS memfokuskan diri di lahan gambut, dengan mengetengahkan peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam mengelola lahan gambut di Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya.
“Dalam kita mengelola kawasan, tentunya diperlukan adanya pemahaman bersama, kawasan hidrologis gambut seperti apa, fungsinya apa, ekosistemnya seperti apa. Hal ini perlu dilakukan pemahaman di awal, baik jangka pendek, jangka tengah maupun jangka panjang,” paparnya.
Ia menerangkan, lokakarya ini penting untuk menyasar generasi muda yang keterlibatannya dilakukan hari ini dan dampaknya dirasakan di masa depan nanti.
Generasi muda, kata Sonya, adalah bagian dari stakeholder yang sangat penting untuk memahami muatan lokal untuk menyasar pemanfaatan tata kelola ekosistem gambut dan mangrove dan berperan dalam inisiatif di tingkat global.
“Hal ini bisa berdampak pada kesempatan perbaikan ekonomi bagi generasi muda dengan mengisi kebutuhan tenaga kerja di masa depan yang saat ini sering disebut sebagai ‘Green Jobs’,” ungkapnya.
“Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Bapak Bupati Kubu Raya untuk mempersiapkan Kabupaten Kubu Raya sejak dini dalam mengarusutamakan pengetahuan tentang gambut dan mangrove. Kami sampaikan juga apresiasi juga kepada Kepala Dinas Pendidikan yang mampu mendorong apa yang kita pelajari dan dihasilkan nanti, untuk direplikasi ke daerah-daerah lain, juga ke provinsi lain lewat BRGM,” pungkas Sonya.
Dimulai Juli 2022
Kepala Dinas Pendidikan Kubu Raya, M. Ayub, menuturkan lokakarya ini merupakan ruang dimulainya keinginan dan semangat Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk mengawal potensi-potensi daerah secara masif melalui dunia pendidikan. Menurutnya, dari sisi pendidikan, muatan lokal ini bagian dari yang disarankan dan dianjurkan oleh pemerintah.
“Nah, pemerintah daerah juga memilki kewenangan untuk merumuskan baik kurikulum maupun silabus muatan lokal ini. Maka dari itu, hari ini memulai diskusi dalam rangka menyusun silabus dan kurikulum,” ucapnya.
“Ke depan, kita lanjutkan ToT (Training Of Trainer). Kemudian Pak Bupati menetapkan dalam sebuah Perbup dan kita tindak lanjuti tahun pelajaran 2022-2023, tepatnya Juli 2022 pada tahun ajaran baru untuk SD dan SMP, kita mulai pelajaran muatan lokal gambut dan mangrove,” imbuh Ayub.
Menurutnya, sebagai seorang profesional, guru yang tugasnya menyampaikan, mengajar, mendidik, dan membimbing harus siap menerima ToT dulu. Dari ToT, guru dibekali bagaimana cara mengajarkan materi mangrove dan gambut ini.
“Sehingga sejak dini, anak-anak dan masyarakat Kubu Raya sudah bisa mengenal apa manfaatnya, apa peluang ekonominya, apa risiko-risiko kerentanan dari gambut dan mangrove ini, sehingga masyarakat lebih waspada dan lebih siap menghadapi tantangan-tantangan ke depan,” tandas Ayub. (lha)