KUBU RAYA, SP – Poltekkes Kemenkes Pontianak melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) menerapkan inovasi teknologi laboratorium untuk mendukung upaya deteksi dan surveilans filariasis di Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Kegiatan yang mengangkat tema “Penerapan Inovasi Teknologi Deteksi Filariasis di Desa Binaan Poltekkes Kemenkes Pontianak melalui Alat Otomatisasi Sediaan Darah Jari” tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan layanan kesehatan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat.
Desa Sungai Asam menjadi salah satu wilayah sasaran kegiatan karena masih menghadapi permasalahan filariasis sehingga diperlukan penguatan kegiatan surveilans dan deteksi dini di tingkat masyarakat.
Salah satu tantangan dalam surveilans filariasis adalah proses pembuatan sediaan darah jari yang masih dilakukan secara manual.
Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan keterampilan teknis agar diperoleh sediaan yang sesuai untuk pemeriksaan laboratorium.
Menjawab permasalahan tersebut, tim PkM Poltekkes Kemenkes Pontianak memperkenalkan Automated Finger Blood Smear Maker, yaitu alat otomatisasi pembuatan sediaan darah jari berbasis mikrokontroler yang dikembangkan untuk membantu menghasilkan sediaan darah secara lebih terstandar dan konsisten.
Smear Maker sebagai inovasi teknologi untuk mendukung surveilans filariasis.
Penerapan teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan PkM karena tidak hanya memperkenalkan perangkat inovatif, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas mitra dalam pemanfaatan teknologi laboratorium untuk mendukung surveilans filariasis.
Kegiatan dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan unsur Puskesmas Sungai Asam, pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat.
Selain pengenalan teknologi, kegiatan juga disertai dengan edukasi mengenai filariasis, pencegahan penyakit, serta pentingnya deteksi dini dalam pengendalian penyakit.
Ketua tim PkM Poltekkes Kemenkes Pontianak, Bagus Muhammad Ihsan, S.Si., M.Kes., menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan di masyarakat.
“Penerapan alat ini merupakan upaya untuk mendekatkan hasil inovasi dan riset perguruan tinggi kepada masyarakat.
Kami berharap teknologi ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam pelaksanaan surveilans filariasis, khususnya dalam menghasilkan sediaan darah jari yang lebih terstandar.”
Menurutnya, pengembangan teknologi kesehatan tidak cukup berhenti pada tahap penelitian dan pembuatan prototipe. Teknologi perlu diterapkan dan dikenalkan kepada mitra agar dapat memberikan manfaat nyata dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan informasi mengenai filariasis, cara penularan, pentingnya deteksi dini, serta langkah-langkah pencegahan.
Pendekatan edukasi dan teknologi dilakukan secara terpadu agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memahami pentingnya keterlibatan dalam upaya pengendalian filariasis.
Penerapan Automated Finger Blood Smear Maker diharapkan dapat memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan kader dalam mendukung kegiatan surveilans di tingkat desa.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap proses manual dan meningkatkan konsistensi dalam pembuatan sediaan darah.
Kegiatan ini sejalan dengan upaya Poltekkes Kemenkes Pontianak dalam mendukung transformasi sistem kesehatan, khususnya melalui pemanfaatan teknologi alat kesehatan dan diagnostik di tingkat masyarakat.
Selain memberikan manfaat langsung kepada mitra, kegiatan PkM ini juga menjadi sarana diseminasi inovasi hasil pengembangan tim dosen Poltekkes Kemenkes Pontianak.
Hasil kegiatan diharapkan dapat menjadi model penerapan teknologi tepat guna yang dapat dikembangkan dan direplikasi pada wilayah lain yang menghadapi permasalahan serupa.
Pelaksanaan kegiatan tersebut sekaligus memperkuat peran Poltekkes Kemenkes Pontianak dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah desa, kader, dan masyarakat.
Melalui penerapan inovasi teknologi, edukasi kesehatan, dan penguatan kapasitas mitra, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas surveilans serta mendukung upaya pengendalian dan eliminasi filariasis di Kalimantan Barat. (*)