PONTIANAK, SP- Tingginya kasus
perdagangan manusia akibat keterpurukan perekonomian warga persis di Sambas, persis dengan nasib
sebagian besar warga Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), khususnya di
wilayah-wilayah Suku Minahasa.
Baik Sambas maupun Sulut sama-sama menjadi
bagian dari kesewenangan dua putera mantan Presiden Soeharto, yakni Bambang
Triharmodjo dan Tommy Soeharto.
Masa
jaya jeruk Sambas hanya sebentar,
menyusul masuknya perusahaan Bambang lewat SK Gubernur
Kalimantan Barat, Pardjoko Suryokusumo, No 296/1991 yang menunjuk PT Bima Citra
Mandiri (BCM) sebagai Koordinator Pelaksana Tata Niaga Jeruk Siam Kalimantan
Barat.
Walaupun perusahaan ini belakangan gulung
tikar, namun perekonomian warga terlanjur hancur. Jeruk dibeli dengan harga
yang sangat rendah, tak seperti sebelumnya jika dijual ke mana saja oleh
warga. Tak pelak lagi, banyak pohon jeruk yang ditebang oleh warga karena
frustasi akibat rendahnya harga serta adanya serangan penyakit pohon jeruk. Perekonomian
warga pun terpuruk.
Dampaknya, banyak anak dan perempuan yang terpaksa menjadi
korban perdagangan manusia.
Di kawasan-kawasan Minahasa, Sulut,
'banjir' wanita muda ke luar daerah bahkan luar negeri, tak terelakkan menyusul
jatuhnya harga cengkeh. Badan Penyangga
Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang didirikan Hutomo Mandala, putera Presiden
Soeharto kala itu, menjadi pembeli
tunggal cengkeh warga. Harga pun dipatok Rp 10 ribu kilogram per kilo.
Pada 1992, Tommy, nama ngetop Hutomo
Mandala Putera, menjadi momok bagi orang Manado ketika memimpin BPPC, lewat Keputusan Presiden
Soeharto Nomor 20 Tahun 1992 tentang Tata Niaga Cengkeh Hasil Produksi Dalam
Negeri, dilanjutkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1996
tentang Pelaksanaan Tata Niaga Cengkeh.
Harga pun ditekan.
Jika sebelumnya
warga menjual cengkeh mencapai lebih Rp 100 ribu per kilo, hanya diharga ribuan
rupiah, paling tinggi Rp 9.000 per kilogram oleh BPPC. Warga pun frustasi. Banyak
orangtua banyak yang tak bisa menahan anak-anak perempuannya yang 'harus' melacur
ke luar daerah.
Di
Sambas, faktor ekonomi dan pendidikan menjadi penyebab maraknya kasus perdagangan
manusia (human trafficking) menyusul selesainya
masa jaya jeruk. Kemiskinan membuat banyak orangtua tak mampu membiayai
pendidikan anak, terutama untuk tingkat SMP dan SMA.
"Biaya melanjutkan pendidikan dari
SMP ke SLTA masih belum mampu untuk dipenuhi semua orangtua. Akibatnya, banyak
anak usia sekolah yang putus sekolah," tegas Wati.
Koordinator Rumah Aman
Sambas dan Perwakilan Koalisi Perempuan Indonesia Sambas di ruang kerjanya,
Kamis (11/8).
Menurut Wati, pangkal masalah dari
tingginya kasus perdagangan manusia
dipicu oleh runtuhnya kejayaan jeruk Sambas disusul karet serta hasil
perkebunan lainnya. Perekonomian warga pun anjlok drastis.
Kondisi dadakan ini membuat warga tersentak.
Warga pun terpaksa harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup
keluarga. Salah satu solusinya, terpaksa merelakan sang anak bekerja. "Namun,
semua ini tidak terlepas dari bujukan
rayu para makelar atau sindikat perdagangan manusia, dengan cara
mengiming-imingi pendapatan yang menjanjikan," terangnya.
Karena itu berharap supaya pemerintah dan pihak terkait lainnya agar aktif
mengembangkan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta mengalokasi subsidi yang
lebih besar untuk dunia pendidikan. Sebab, kasus putus sekolah didominasi oleh
ketidakmampuan orangtua untuk menyekolahkan anaknya.
Adapun
omzet dari 'bisnis lendir" ini di seluruh dunia, sanggup menembus
angka 70 miliar dolar AS, atau setara Rp 91 ribu triliun per tahun.
Data terakhir, sindikat perdagangan manusia mengincar
korban dari kalangan perempuan muda dan anak di bawah umur yang jumlahnya
sudah sebanyak 30 juta jiwa.
Itu
sebabnya kewaspadaan ini sangat penting bagi warga Kalbar. Sebab, Bumi
Khatulistiwa berhadapan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi
Malaysia. Dengan transportasi darat yang
semakin terbuka, Kalbar pun menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang paling
marak terjadi praktik perdagangan.
Ketua
DPP Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Todung Mulya Lubis mengakui, omzet sebanyak
itu dari pendapatan bisnis ini untuk seluruh dunia, sangat mencenangkan.
Sebanyak 45 persen korbannya adalah
perempuan, 18 persen lelaki, 12 persen
anak-anak, dan 21 persen khusus anak-anak perempuan.
"Indonesia
salah satu dari 10 negara terbesar di Benua Asia yang paling marak terjadi
praktik ini," katanya saat diskusi publik tentang perdagangan manusia
terkait Rapat Pimpinan Nasional Ikadin di Pontianak, belum lama berselang.
Todung menambahkan, human trafficking cukup marak juga di Federasi Rusia,
Uzbekistan dan juga di Pakistan. Kejahatan ini terus marak di kawasan konflik
di Timur Tengah, seperti Irak dan Suriah.
“Pelaku
trafficking 62 persennya adalah laki-laki, dan 38 persen perempuan. Human
Trafficking merupakan bisnis paling menggiurkan, karena selalu mendapat
keuntungan besar, sehingga dibutuhkan komitmen yang mengikat semua pihak untuk
melakukan langkah antisipasi,” tegas Todung.
Perdagangan manusia di Kalbar khususnya korban eksploitasi seksual yang
pernah diungkapkan Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) pada 2011-2015, sudah mencapai 128 orang.
Kepala Badan P3AKB Provinsi Kalbar, Anna
Verdiana Iman Kalis menyatakan, pihaknya
sangat memberikan perhatian serius terkait
masalah tersebut.
Sebab, bisa saja kasus perdagangan manusia meningkat di era
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini.
"Barang dan orang akan bisa keluar
masuk dengan mudah. Momen seperti ini dikhawatirkan bisa dimanfaatkan oleh
oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksi trafficking, dan kita akan mengantisipasi hal itu,"
katanya di Pontianak.
Ia menjelaskan, semakin banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan
pelecehan seksual terhadap anak menjadi perhatian berbagai pihak.
Untuk mengantisipasi hal itu, lanjutnya, tentu akan memerlukan anggaran dan
pihaknya telah mengusulkan anggaran pada APBD Kalbar.
"Kami sudah menyediakan Rumah Aman, kami anggarkan di situ, supaya
mempermudah bagi yang membutuhkan bantuan psikologis, baik TKI yang bermasalah
dan sebagainya," tuturnya.(ant/noi/umr/jee/aju/pat/sut)
Breaking News
- KIPP Pulau Penebang Komitmen Jadi Industri Berkelanjutan, Tanam Pohon dan Kembangkan Flora Endemik
- Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Zulhas Ungkap Strategi Atasi 60 Juta Ton Sampah per Tahun
- Tani Merdeka Kalbar Apresiasi Menko Pangan Jaga Harga Gabah dan Ketersediaan Pupuk
- Tani Merdeka Kalbar Dukung Ketahanan Pangan
- Kejari Singkawang Sidik Dugaan Korupsi Dana Hibah Politeknik Negeri Pontianak
- Kurangi Resiko Bencana, BPBD Sanggau Bentuk FPRB
- Siapkan Masa Depan Sejak Dini, MAN 1 Pontianak Gelar Sosialisasi Pemilihan Mata Pelajaran bagi Orang Tua Siswa Kelas X
- 3.500 Atlet Siap Ramaikan Forprov II Kalbar di Singkawang
- Polres Sekadau Tahan Tersangka Kasus Dugaan Penyebaran Konten Pornografi
Masa Kejayaan Jeruk Sambas
ILUSTRASI jeruk (ist)