PONTIANAK,SP - Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) menggandeng Pemerintah Desa Jeruju Besar dan sejumlah mitra lokal dalam sebuah proyek riset ambisius yang menyasar jantung ekonomi desa: budidaya ikan air tawar. Di bawah panji “Program Katalisator Kemitraan Berdikari, Skema Emas”, riset ini tak sekadar akademik ia ditujukan untuk mentransformasi wajah ekonomi lokal secara konkret.
Didanai oleh dana abadi pendidikan yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan berada di bawah Direktorat Diseminasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, program ini memanfaatkan pendekatan kolaboratif sebagai kunci penggerak.
Dipimpin oleh Alban Naufal dan diperkuat oleh enam peneliti lainnya Dovian Iswanda, Budiman, Suparmin, Dominikus Sulistiono, Ahmad Mustangin, dan Faino riset ini fokus pada integrasi ekosistem budidaya ikan air tawar.
Bukan sekadar kolam dan pakan, tapi sebuah sistem yang membentangkan mata rantai efisien dari hulu ke hilir diantaranya pembenihan, produksi pakan berbasis lokal, hingga rekayasa penggunaan maggot sebagai sumber protein alternatif.
Gagasan utamanya sederhana, namun revolusioner: menekan biaya pakan biaya terbesar dalam budidaya ikan dengan mengganti bahan baku konvensional yang mahal, dengan maggot yang murah dan ramah lingkungan. Hasilnya, bukan hanya efisiensi, tetapi juga keberlanjutan.
Program ini bukan kerja soliter. Kolaborasi multipihak terjalin dengan BumDes Jeruju Berkah, TPS3R Jeruju Berkah, Kelompok Budidaya Ikan Junjung Buih, Pokanda (Kelompok Pengolahan Pakan), serta SMKN 5 Pontianak.
Sinergi ini menciptakan sebuah laboratorium sosial yang menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi, jika dilekatkan pada kebutuhan nyata masyarakat, bisa menjadi instrumen pembangunan yang powerful.
Dengan pendekatan seperti ini, desa tak lagi sekadar objek pembangunan, tetapi berubah menjadi pelaku utama. Produk turunan bernilai tambah dari hasil budidaya, diversifikasi sumber penghidupan, hingga peningkatan keterampilan lokal menjadi efek domino yang diharapkan muncul dari program ini.
Riset yang tengah berjalan ini adalah bukti nyata bagaimana institusi pendidikan tinggi vokasi bisa menjadi katalisator inovasi dan pembangunan desa. Di tengah tantangan pangan dan ekonomi yang kian kompleks, pendekatan berbasis riset, lokalitas, dan keberlanjutan menjadi keniscayaan bukan pilihan. (*)