PONTIANAK, SP - Pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak selalu terasa seketika. Namun, di balik pergerakan nilai tukar, tersimpan dampak berantai yang perlahan menggerus dari harga kebutuhan dasar hingga beban fiskal negara.
Pelemahan rupiah kerap terlihat seperti persoalan jauh di pasar keuangan. Angka bergerak, grafik naik turun.
Tercatat, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (15/4).
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,12% ke posisi Rp17.130/US$. Level ini kembali menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa. Pelemahan tersebut juga memperpanjang tren negatif rupiah menjadi lima hari perdagangan beruntun.
Kondisi ini tentunya dikhawatirkan berdampak pada sektor ekonomi riil di Tanah Air, termasuk di Kalbar.
Pengamat ekonomi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, M Wawan Gunawan, menegaskan bahwa efek dari melemahnya rupiah memang tidak langsung dirasakan masyarakat dalam waktu singkat. Tetapi, ketika dampaknya muncul, ia datang dalam bentuk yang lebih luas dan berlapis.
“Dampaknya tidak secara langsung dirasakan, tapi akan terasa setelah beberapa waktu berjalan,” ujarnya, Rabu (15/4).
Menurutnya, salah satu sektor yang paling cepat terdampak adalah kebutuhan dasar yang bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan pada akhirnya akan diteruskan ke harga di dalam negeri.
“Terutama seperti bahan bakar, yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri,” jelasnya.
Dari titik ini, efek domino mulai bekerja. Kenaikan biaya impor akan mendorong kenaikan harga barang secara bertahap, khususnya komoditas yang bergantung pada pasokan luar negeri. Akibatnya, tekanan inflasi menjadi sulit dihindari.
“Barang kebutuhan pokok yang dipenuhi lewat impor akan menjadi lebih mahal, dan secara bertahap bisa mendorong kenaikan inflasi,” katanya.
Namun, dampaknya tidak berhenti di sektor konsumsi. Dunia industri juga ikut terdampak, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor.
Industri manufaktur, otomotif, farmasi, hingga pangan olahan disebut menjadi sektor yang rentan. Kenaikan biaya bahan baku akan langsung meningkatkan biaya produksi, yang pada akhirnya bisa menekan margin atau bahkan memicu kenaikan harga jual.
“Industri yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari sektor keuangan negara. Melemahnya rupiah berpotensi membengkakkan beban utang luar negeri, baik bagi pemerintah maupun korporasi.
Ketika nilai tukar melemah, pembayaran utang dalam mata uang asing otomatis menjadi lebih mahal dalam rupiah.
“Beban utang luar negeri bisa membengkak dan membebani APBN. Tidak hanya pemerintah, tapi juga korporasi,” jelasnya.
Sentimen negatif juga merambah pasar modal. Dalam kondisi rupiah yang tertekan, investor cenderung lebih berhati-hati. Bahkan, tidak sedikit yang mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Investor cenderung memindahkan dana ke aset safe haven seperti emas,” katanya.
Perpindahan ini berpotensi menekan pasar saham, sekaligus memperkuat sentimen negatif di sektor keuangan.
Namun, di tengah tekanan tersebut, Wawan juga melihat adanya peluang. Melemahnya rupiah justru bisa menjadi keuntungan bagi sektor tertentu, terutama eksportir.
Perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS akan diuntungkan karena nilai konversi yang lebih tinggi.
“Sektor komoditas eksportir dan perusahaan dengan pendapatan USD akan diuntungkan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kondisi ini tetap membutuhkan respons kebijakan yang tepat. Stabilitas ekonomi, menurutnya, tidak hanya bergantung pada angka, tetapi juga pada kepercayaan.
“Oleh karena itu, pemerintah perlu kebijakan yang tepat dan terus menjaga trust agar perekonomian tetap stabil,” tegasnya.
Masyarakat Terdampak
Pekerja swasta di Pontianak, Andi (35) menjadi salah satu yang merasakan dampak melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Ia mengaku belanja bulanan kini tak lagi sama seperti beberapa waktu lalu.
“Sekarang terasa sekali bedanya. Barang-barang yang biasa dibeli mulai naik, terutama yang ada kaitannya dengan impor. Mau tidak mau kita harus lebih hemat,” ujarnya, Rabu (15/4).
Bagi Andi, pelemahan rupiah bukan sekadar isu ekonomi nasional. Ia adalah realitas harian yang memaksa masyarakat mengubah pola konsumsi.
“Harapannya sih pemerintah bisa jaga stabilitas. Karena kalau terus begini, daya beli pasti makin turun,” tambahnya.
Tekanan serupa dirasakan Siti (42), ibu rumah tangga. Ia mengaku kini harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
“Sekarang belanja harus benar-benar dihitung. Yang dulu bisa beli banyak, sekarang harus dikurangi. Kadang harus pilih mana yang lebih penting,” katanya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok menjadi hal yang paling cepat dirasakan ketika nilai tukar rupiah melemah.
“Kalau dolar naik, biasanya harga ikut naik juga. Kita sebagai ibu rumah tangga pasti yang paling dulu merasakan,” ujarnya.
UMKM Turut Terdampak
Sementara itu, di sektor usaha kecil, dampaknya terasa tidak kalah berat. Rudi (28), pelaku usaha di Pontianak menyebut kenaikan harga bahan baku mulai menekan operasional usahanya.
“Beberapa bahan naik karena ikut harga dolar. Jadi margin makin tipis. Mau naikin harga juga susah karena takut pembeli berkurang,” katanya.
Situasi ini membuatnya harus berpikir ulang untuk mengembangkan usaha. “Rencana mau tambah usaha, sekarang ditahan dulu. Fokusnya bertahan saja,” ujarnya, Rabu (15/4). (*)